Spread the love

Sudah dibaca 879 kali

Cepi mengipas-ngipas tubuhnya dengan sobekan karton air mineral. Sinar mentari begitu terik. Berteduh di bawah pohon beringin yang lebat pun masih terasa hawa panasnya. Di sampingnya, Memet memeras handuk kecil yang penuh peluh. Ia juga tak kalah gerahnya.

“Situasi politik kok berpengaruh ke cuaca ya, Met,” gumam Cepi.

“Lebay kamu, Cep. Apa-apa yang negatif selalu dihubungkan ke situasi politik negeri ini.”

“Habis situasi positif apa yang bisa kuhubungkan ke dunia politik negeri ini, Met?”

Mamet masih sibuk memeras keringat. “Itu urusanmu sendiri.”

“Kamu sendiri kemarin mencoblos partai apa?”

“Wah, kalau itu rahasia, Cep.” Tapi aku tak akan pernah lagi memilih partai yang menjerumuskan aku ke sini.

“Yang penting kamu nggak golput, kan?” Cepi masih semangat 45 mengorek aspirasi politik sahabatnya. Meski begitu, ia tak bermaksud mengulik luka lama Memet.

Dulu sohib karibnya itu masuk penjara gara-gara jejaring korupsi di partainya kurang rapi. Satu anggota jamaah tak puas dengan pembagian bancakan APBN lalu berkoar ke mana-mana. Merasa ancamannya tak mempan, mulutnya nyerocos di hadapan anggota KPK yang menyamar jadi PSK, Pekerja Salon Komersial, ketika rambutnya hendak diplontos. Habislah dia dengan berbagai rekaman audio-video ‘Pengakuan Paritem’. Nama Cepi ikut disebut dalam pengakuan yang sempat diputar di pengadilan Tipikor.

“Kalau itu pun rahasia, Cep. Golput nggak golput, itu urusanku.” Memet kelihatan merajuk. Ia kembali memeras handuk kecil yang sudah jenuh dengan peluh.

Cepi tersenyum miris melihat sahabatnya yang ia yakin golput. Tapi ia tak mau menyalahkannya. Banyak sebab kenapa orang berada di posisi golput, termasuk pada pemilu caleg tahun ini yang menempati posisi pertama setelah ke-12 partai peserta pemilu. Bisa karena namanya tak terdaftar di DPT, jarak TPS jauh dari tempat tinggal, malas, bingung mau milih partai mana karena tak kenal dengan caleg-calegnya, atau pesimis dengan kondisi partai dan iklim demokrasi yang makin borjuis. Cepi tetap menghargai orang-orang yang golput karena tak memilih juga pilihan.

“Kamu sendiri bagaimana, Cep? Golput?”

“Nggak, dong! Aku nyoblos! Aku memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD sesuai hati nuraniku. Meskipun aku masih pesimis dengan kondisi negeri yang terus terpuruk, aku masih menyimpan harapan pemilu kali ini menghasilkan para pemimpin terbaik.” Cepi bangga dengan pilihannya. Ia bersyukur daftar caleg yang tertera di kertas suara telah dikenalnya. Ia menitipkan harapannya kepada mereka.

“Angka golput masih tinggi, politik uang masih marak bahkan telanjang terekam media, pelanggaran di mana-mana. Tak mungkin menghasilkan pemimpin yang baik, Cep. Mimpi, kamu!”

“Biarlah mereka melakukan kebohongan dan perilaku ketidakjujuran lainnya, yang penting kita berlaku sebagai warga negara yang baik; jujur, tidak curang, menghargai perbedaan, de el el. Mereka yang menggadaikan diri demi duit pasti akan mendapatkan balasan atas perbuatannya. Entah kena musibah, nasibnya makin buruk, atau jiwanya terguncang lalu masuk rumah sakit jiwa.”

“Kamu nyumpahi mereka, Cep?”

“Nggak. Tuhan akan membalas perbuatan orang-orang yang merugikan orang-orang tak berdaya. Aku yakin itu.”

“Sok alim kamu, Cep. Pret!” Memet sebenarnya keceplosan bicara. Namun ia gengsi mengakui dan meminta maaf. Bisa-bisanya Cepi menghubung-hubungkan perilaku masyarakat dalam pemilu dengan etika dan ketuhanan.

Memet tercenung dengan kata-kata Cepi. Kesadarannya mengembang. Ternyata banyak sekali orang yang mengabaikan etika demi harta dan kekuasaan. Pemimpin rakus dan zalim lahir dari perilaku pemilu yang sarat manipulasi dan kebohongan. Pemilu menyuguhkan manipulasi massal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat dan hasilnya, sebagian mereka yang duduk di parlemen, kemudian menghidangkan manipulasi berikutnya yang lebih besar.

“Sudah, tak usah banyak dipikirkan,” Cepi coba memutus perenungan Memet yang kelihatan sedang bengong. “Hari-hari ini menjelang Pilpres kita akan menyaksikan bagaimana para politisi jalin koalisi. Para petinggi partai saling lobi biar bisa mencalonkan diri jadi presiden dan wakil presiden. Seperti yang sudah-sudah, kita kembali ke kehidupan semula. Menunggu mereka bentuk kekuatan. Kita istirahat sejenak dari hiruk-pikuk kampanye. Nanti, saat Pilpres, mereka akan memanggil kita lagi.”

Memet mendesah. “Dengan sistem keterwakilan begini, memang peran kita sebagai warga negara sudah selesai. Kita pun tak dapat mengontrol mereka. Suara kita mereka yang punya.”

“Tapi kita harus tetap awasi. Lalu…” Ucapan Cepi menggantung.

“Lalu apa?” Memet penasaran.

“Kita tertawai.”

“Kok ditertawai?”

“Sebab nanti kita akan disuguhi kembali oleh adegan-adegan lucu dan menggemaskan yang kadang membuat hati kita pilu bercampur haru.” Cepi menampilkan wajah sendu hendak menangis.

Memet menyambutnya dengan tawa panjang. Ucapan Cepi barusan terasa sejuk di hatinya. Kekhawatirannya pada masa mendatang sedikit terkikis. Spontan tangannya yang menggenggam handuk kecil ditemplokkan ke muka Cepi. Cepi megap-megap. Hidungnya mencium bau bacin yang begitu tajam.

“Met, keringatmu ini asli perpaduan semur jengkol, sambal petai, dan sayur lodeh basi. Handukmu membuat aku semaput!”*

Tangerang. Jumat, 11 April 2014.