Sudah dibaca 422 kali

Usai salat tarawih, Cepi dan Memet duduk-duduk di teras depan sel. Memet menatap bintang di langit yang bersinar redup. Ingatannya tertuju pada nasihat khatib.

“Kata Pak Ustad, meski pahala puasa di bulan ramadan berlipat-lipat, tapi ada perilaku yang membuat nihil pahala. Puasa jadi sekadar ritual tidak makan dan minum di siang hari. Aku berpikir, kalau begitu, buat apa puasa?” Memet menatap Cepi yang juga tengah menatap bintang.

“Yah, sekadar formalitas mungkin, Met. Tapi pahala, kan, urusan Tuhan. Bukan urusan kita.”

“Di masa kampanye pilpres, saya kira kampanye hitam, kampanye negatif, dan fitnah berkurang drastis. Ternyata itu harapan kosong. Malah lebih parah.”

Cepi nyengir sebentar sembari menatap Memet lalu kembali menatap langit yang kini terang oleh rembulan yang baru lepas dari dekapan awan.

“Kukira, ini turut menjawab pertanyaan kenapa negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini masih larut dalam cengekaraman korupsi. Tidak, tidak hanya korupsi; etos kerja buruk, penyuapan, penyelewengan, kemalasan, kebodohan. Ajaran Islam yang revolusioner tidak benar-benar diterapkan oleh pemeluknya.” Memet mendesah, napasnya berat terempas.

Cepi menatap Memet dengan perasaan pilu. Ia merasa terpukul.

“Islam sekadar formalitas dan status sosial. Tak ada niat betul-betul untuk memahami dan menerapkannya. Al-Quran berdebu di pojok-pojok rak buku. Termakan rayap.  Sebaliknya, banyak ustad mengumbar ceramah di televisi dan radio seolah setelah itu umat berubah. Apakah mereka tidak mengukur efektivitas ceramah mereka tiap waktu?

“Kamu, kamu bicara seperti orang suci, Met…”

“Tidak, aku bukan orang suci, Cep. Semua orang bisa bicara seperti ini. Apa kau juga ingin bilang, ‘Bagaimana denganmu, koruptor?!’ Yah, aku tahu itu.”

Cepi mengusap punggung Memet seakan ingin mengusir kegalauan yang mencekik benak sahabatnya. Ia lalu merasakan punggung gempal itu berguncang-guncang. Isak tangis kemudian mengiringi.

“Dulu, sebelum melakukan korupsi, hati kecilku menasihati agar aku tidak melakukannya. Tapi aku memutuskan untuk tak lagi mendengarnya dan kusumpal telinga hatiku tiap suara itu terdengar. Lama-lama suara itu tak terdengar. Sekarang, aku merasa kangen mendengarnya.”

Suara hatimu sudah mati, Met. Semoga Allah memberi kita keberkahan di bulan suci ini. Semoga Ia berkenan membuka pintu hati kita yang telah lama mati dan tuli. “Met, apa kau berpikir ingin tobat?”

“Apakah itu mengubah keadaan?” Memet memandang Cepi dengan tatap serius.

“Maksudmu?”

“Apakah dengan bertobat, kita bisa cepat keluar dari tempat membosankan ini?”

“Tidak penting apakah kita akan keluar dengan cepat atau membusuk di tempat ini, Met. Semua sama saja kalau kita sendiri tidak berubah. Sama dengan orang-orang yang berpuasa. Percuma menjalani ritual puasa, tarawih, dan tilawah kalau perilakunya tak berubah pada bulan-bulan berikutnya. Anggaplah Lapas dan Ramadan sebagai tempat dan ruang bagi kita mengubah diri.”

“Bicaramu seperti Pak Ustad, Cep…”

“Bertobatlah sebelum niatmu kembali ditelan hawa nafsu.”

Memet terdiam. Hatinya bergejolak. Selama ini ada dorongan begitu besar melesak di dalam benaknya dan hendak keluar. Tapi ia tidak tahu itu apa. Apakah ini yang namanya hidayah?

“Met, kamu baik-baik saja?” Cepi melihat Memet berdiri dengan gagah menatap rembulan, membelakanginya.

“Baiklah, aku akan bertobat.” Tangan Memet terangkat seolah menggenggam rembulan. “Setelah itu aku akan jadi orang baik, berakhlak mulia, berguna bagi nusa dan bangsa serta agama. Setelah keluar dari tempat ini, aku ingin menjadi pembasmi kejahatan, bergabung bersama KPK memberantas koruptor dan antek-anteknya…”

Berangsur-angsur Cepi melangkah mundur, meninggalkan sahabatnya yang tengah berkhayal menjadi super hero. Penyakit gilanya lagi-lagi kumat. Aku harus cepat menyingkir dari sini.*

 

Jakarta, Senin, 7/7/2014.