Sudah dibaca 466 kali

Cepi mengusap matanya yang dipenuhi kristal air sembari menatap rembulan yang mulai tertutup awan. Angin bertiup pelan, dingin, mengusik bulu kuduknya. Di sampingnya, Memet, dengan wajah yang juga sembap, mengelus punggungnya.

“Cep, kenapa ya malam ini kita begitu melankolis?” Suara Memet serak-serak basah. “Apa mungkin ini yang namanya empati?”

Cepi menatap Memet sebentar. “Kau boleh tertawai aku, tapi entah kenapa aku tak pernah sesedih ini, Met. Di sana ratusan orang tewas dan warga dunia terus menatap kenaikan angka statistiknya. Tak ada yang secara nyata berusaha menghentikan kekejaman ini.”

“Benar kata Bang Iwan: Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan.” Suara Memet terdengar nyaring.

“Bahkan kau masih bisa bernyanyi…”

Memet tak menyangka nyanyian satirnya dianggap lain oleh Cepi. Namun ia memahami kondisi psikologis sahabatnya.

Bom waktu itu memang kembali meledak dan rutin tersulut saat Ramadan tiba. Dunia tahu konflik ini dimulai oleh Israel. Negara Yahudi itu secara massif dan sistematis merampas dan menduduki tanah milik warga Palestina. Rumah warga Palestina digusur, dibongkar, dan penghuninya ditangkapi bahkan dibunuh jika berani melawan. Lalu di atasnya dibangun permukiman warga Israel. Secara bertahap, kawasan Palestina terhapus dalam peta dunia. Warganya terusir ke sudut-sudut barak pengungsian.

“Aku, aku tak habis pikir, Met. Kenapa hal ini selalu terulang. Kenapa Israel membunuhi warga Palestina dan negara-negara dunia hanya rajin mengutuk seolah kutukannya bisa menyihir tentara Israel untuk balik kanan dan kembali ke barak?”

Memet menghela napas dalam-dalam. Ia sendiri tak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Yang ia tahu, Israel rajin melancarkan serangan karena mereka belum bisa menguasai sepenuhnya tanah Palestina. Hamas, salah satu organisasi perlawanan Palestina, berani angkat senjata. Mereka melancarkan roket-roketnya untuk menggempur tentara pendudukan dan permukiman warga Israel. Berusaha menghambat pembangunan permukiman baru di atas tanah Palestina. Karena aktivitasnya, Israel menjuluki Hamas sebagai teroris. Julukan ini diadopsi oleh Amerika Serikat dan PBB. Fatah, organisasi perlawanan lain, memilih jalur diplomasi walau selalu urut dada karena dikadali Israel.

“Kalau Hamas dan Fatah menyerah, kukira, baru Israel tak lagi membunuhi warga. Kali.” Memet ragu.

“Itu artinya menyerah kepada Israel? Apa kau pikir dengan menyerah, nyawa mereka akan selamat? Peperangan puluhan tahun tak membuat nyali mereka ciut, Met.”

Memet garuk-garuk kepala yang tidak gatal. “Coba kau lihat, persenjataan Israel makin canggih saja. Tak mungkin Hamas dan Fatah menaklukkan Israel.”

“Setidaknya tidak menyerah, Met. Israel pun tak pernah bisa menguasai Jalur Gaza. Amerika Serikat mengambil keuntungan dari konflik ini. Mereka menjual berbagai persenjataan modern kepada Israel. Sebagai imbalannya, mereka menghalangi Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi kepada Israel. Hak Veto, kukira, simbol oligarki lembaga tua itu.” Cepi sudah berhasil menguasai dirinya. Tak lagi terdengar emosional dalam nada bicaranya.

“Lalu kita bisa apa, Cep? Kita di sini cuma bisa melontarkan sumpah serapah atas kebiadaban Israel dan bungkamnya negara-negara dunia. Kalau begini terus, kita bisa stres! Jangankan orang-orang di luar sana tak bisa berbuat banyak, kita di sini masih harus mendekam di penjara.”

“Tidak, Met.” Cepi menatap wajah sahabat karibnya dan memegang kedua bahunya. Suasana begitu sendu. “Ada yang bisa kita lakukan.”

Kini Memet yang gantian terisak, tak bisa menguasai diri. “Apa, Cep, apa? Katakan kepadaku! Apakah kau merencanakan pelarian dari tempat ini dan kita sama-sama terbang ke Palestina untuk menggempur Israel?”

“Tidak.”

“Jangan bohong kepadaku, Cep! Aku bersedia membela saudara-saudara kita di sana! Aku sudah muak dengan kelakuan biadab Zionis itu!”

“Tidak, tidak, kita tidak akan lari dari tempat ini dan terbang ke Palestina untuk menggempur Israel. Kau pikir kita Superman?”

“Lalu, lalu, apa yang harus kita lakukan? Cepat katakan padaku, Cep, cepat!”

Walau situasi emosional begini, nih orang sintingnya masih saja kumat. “Doa, ya, doa. Kita harus mendoakan mereka agar kuat menghadapi penindasan ini. Cuma itu yang bisa kita lakukan.”

“Doa? Doa katamu, Cep?”

“Kalau bisa, sumbang dana untuk mereka.”

“Dana? Seluruh harta kita sudah disita oleh pengadilan. Bagaimana kita menyumbang dana?”

“Ya makanya doa, doa, Met!” Nada Cepi sedikit kesal. “Doa itu senjata orang beriman. Sekali lagi, cuma itu yang bisa kita lakukan.”

Di ujung kalimat, perasaan Cepi tiba-tiba berat. Seperti ada yang berusaha menjebol dinding benaknya. Ia kemudian memeluk Memet. Erat.

Memet ingin melepas dekapan Cepi, namun ia urung. Ia pun sejak tadi berupaya tampil tegar namun suasana sedih hati Cepi menular ke benaknya. Memet membalas dekapan sahabatnya.

“Ciee… romantis sekali!”

Cepi membuka matanya. Ia buru-buru melepas dekapan. “Barusan kamu yang bicara, Met?”

“Nggak. Aku, aku nggak bilang apa-apa. Tapi aku tadi mendengar suara.”

Keduanya mengedarkan pandang ke sekeliling taman depan sel. Tak ada sosok terlihat. Kemudian keduanya kembali duduk di atas dipan kayu. Memandangi rembulan yang tengah merambat keluar dari dekapan awan. Mereka tak menyadari keberadaan dua sipir yang bersembunyi di balik dinding.*

 

 Jakarta. Rabu, 16 Juli 2014.