Sudah dibaca 440 kali

Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Cepi dan Memet kembali ke Jakarta. Kini mereka duduk di kaki menara sebuah masjid usai menjalankan salat Jumat.

Air muka Cepi begitu bersinar. Ia menarik napas dalam-dalam, coba menikmati udara kebebasan yang telah lama didambakan. Dulu sebelum masuk penjara, ia punya seribu keinginan. Di dalam penjara, ia hanya punya satu keinginan: bebas. Sekarang ia berusaha merajut seribu keinginan yang telah tercerai-berai. Pandangnya tertuju pada menara masjid yang menjulang mencakar langit dan membayangkan dirinya berdiri di puncaknya.

“Sudah, jangan kebanyakan berkhayal!” ujar Memet sembari menekan pelan kepala Cepi. “Ini Jakarta, bukan lagi penjara. Di sini, kalau ingin hidup layak, jangan terlalu sering berkhayal. Kerja, kerja!”

Cepi merengut. “Kerja apa?”

“Ehm…,” Memet gugup. Ia pun belum kepikiran mau kerja apa sekembali ke Jakarta. Yang ia tahu dan telah rencanakan bersama Cepi, ia bertekad tak akan menemui keluarga dan orang-orang yang dulu pernah dekat dengannya. Ia sakit hati selama di penjara tak satupun dari mereka menjenguknya. Bertahun-tahun lamanya. “Lagi ada lowongan CPNS tuh!”

Pandang Cepi terlihat lucu saat menatap Memet, lalu tawanya meledak. “Mantan napi mau melamar jadi PNS? Hahahahaha! Pilih kementerian mana?!”

Tangan Memet hampir mendarat ke wajah Cepi. Kesal kuadrat. “Pokoknya selain tiga kementerian yang di kabinet sekarang menterinya jadi tersangka korupsi.”

“Maksudmu Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Agama, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral?” Cepi melihat Memet mengangguk mantap. “Memang apa hubungannya?”

“Saya nggak sudi bekerja di kementerian yang dipimpin oleh orang korup!”

“Lho, kan mereka sudah dicopot. Bahkan Andi Mallarangeng sudah dijebloskan di tahanan KPK. Tinggal nunggu Suryadharma Ali dan Jero Wacik. Lagi pula, apa di kementerian lain nggak ada yang korup?”

Memet mendesah. “Kalau begitu, saya nggak mau melamar, ah! Pengin jadi pengusaha saja seperti dulu!”

“Itu baru Memet! Jangan berpikir untuk menjadi karyawan, pikirlah untuk menjadi atasan!” Cepi bangga melihat perubahan niat pada sahabat karibnya. Ia kemudian berdiri dengan tangan mengepal dan gelora semangat 45. “Oke, sekarang apa yang akan kita lakukan! Bidang kerja apa yang akan kita bangun! Tak ada waktu untuk berleha-leha. Kerja, kita harus kerja!”

Memet menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia menghargai semangat yang berkobar-kobar di dada temannya, tapi sikap yang ditunjukkannya lebih kepada perilaku orang dungu yang tak punya perencanaan sebelum bertindak. Ia lalu beranjak berdiri dan melangkah santai meninggalkan masjid.

“Mau ke mana, Met? Bikin usaha? Ajak saya dong!” Cepi mengejar Memet.

“Cari makan. Sehebat-hebatnya cita-cita, kalau yang bercita-cita tak bisa makan, percuma saja. Kukira uang kita sudah habis buat naik travel ke sini. Sekarang kita cari warung.”

Cepi memeriksa kantungnya. Tak ada uang sepeser pun. “Kita makan di warung? Kan kita tidak punya uang.”

“Kita cuci piring pemilik warung. Lalu kita minta upahnya makan siang buat kita berdua. Setuju?” Memet berbalik, menatap Cepi, dan menatap keanehan di balik sorot matanya yang licik.

“Ehm… kamu tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih praktis dan mendatangkan banyak uang? Ehm… mengemis misalnya?” Ucapan Cepi penuh keraguan.

Memet mengembuskan napas berat. Matanya tertumbuk ke sandal yang dipakainya lalu cepat-cepat meraihnya. Cepi tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya. Ia segera berlari menjauhinya.

“Sini kau!” Dilemparnya sandal itu ke arah Cepi dengan nafsu menggebu. Namun naas, sandal itu bukannya mengenai Cepi melainkan orang bule di dekat Cepi yang sedang memegang anjing herder.

Pemilik anjing kelihatan marah. Wajahnya merah. Ia buru-buru melepas tali yang mengikat anjingnya. “Go! Bite them ‘till die!”

Anjing itu berlari, mengejar Cepi dan Memet yang terbirit-birit menjauh.*

 Senin, 22 September 2014.