Sudah dibaca 358 kali

Dengan sekuat tenaga, Cepi dan Memet berlari kencang, kadang zig-zag, agar tidak digigit anjing herder yang kini mengejar penuh nafsu. Orang-orang yang dilintasi hanya menonton dan tertawa ngikik seperti melihat sirkus atau adegan film Warkop tahun 80-an. Sekarang mereka memasuki kompleks perumahan anggota DPR di kawasan Kalibata yang rimbun.

“Met, bagaimana nih?! Tuh anjing masih mengejar kita dan sepertinya tidak akan berhenti sebelum berhasil menggigit kita. Apa kita akan terus berlari?” Laju lari Cepi semakin mengendur. Napasnya hampir habis.

“Lho, memangnya ada pilihan lain? Kamu jangan berpikir macam-macam ya, Cep! Kita dalam kondisi SOS nih!”

“Secara logika, kita ini berdua. Masa kalah dengan yang sendirian?”

“Masalahnya, yang mengejar kita itu anjing! Kalau tikus atau kelinci 100 ekor pun saya nggak takut!” Memet merasakan sebelah kakinya nyeri karena tak beralas sandal.

“Aku bosan diperlakukan begini terus, Met! Kita harus melawan! Aku tak peduli akan mati hari ini! Biarpun aku mati, aku akan mati bukan sebagai pengecut!”

Usai berkata, Cepi berhenti lalu berbalik. Memet yang melihatnya segera berhenti. Anjing herder yang kaget melihat daging empuk berlari turut berhenti. Air liurnya menetes-netes menahan hidangan lezat di depan mata.

“Hei, anjing!” Cepi menuding si herder dengan raut menyeramkan. “Apa tidak cukup hukuman beberapa tahun atas kesalahan kami?! Kami sudah menebusnya dan menyesali semua perbuatan korup kami dulu. Lebih baik kau kejar dan gigit para koruptor yang masih melenggang santai di jalan-jalan!”

Memet menatap sahabatnya dengan perasaan campur aduk antara heran, cemas, dan bingung. Ia lalu berbisik, “Cep, kau pikir anjing itu mengerti ucapanmu?”

“Aku tak peduli, Met! Anjing itu harus mengerti mana orang insaf dan mana orang saraf.” Yang dimaksud orang saraf oleh Cepi adalah para pejabat korup yang saraf malunya sudah putus.

Herder itu menggeram. Pandangnya menajam, giginya bergemerutuk, dan dua kaki depannya merendah hendak menerkam. “Grrrrrr….”

“Cep, sepertinya dia nggak peduli dengan ceramahmu. Matilah kita kalau dia…”

Belum selesai ucapan Memet, si herder melesat dengan kecepatan kilat dan melompat menerkam Cepi.

“Cepi…!”

“Pukulan mautttt!” Cepi meluncurkan lengannya ke depan dengan gerakan cepat sementara matanya meram serapat-rapatnya. Ujung kepalannya terasa menumbuk keras sesuatu.

“Kaing, kaing!” Anjing itu terpental beberapa meter.

“Kau berhasil, Cep, kau berhasil!” pekik Memet. Memet melihat Cepi dengan takjub sementara Cepi sibuk dengan perasaannya yang tak memercayai apa yang barusan terjadi.

Si herder berdiri, matanya liar, giginya memantulkan cahaya mentari yang menerobos melalui sela-sela dedaunan pohon tinggi. Rasa nyeri di sekujur tubuh ditahannya. Kini ia melangkah perlahan mencari posisi sembari meluruskan pandangnya ke tubuh Cepi. Aura balas dendam sangat terasa dari wajahnya yang bengis.

Melihat perubahan si herder, Cepi merengut. Nyalinya ciut. “Met, sepertinya kali ini dia sangat serius. Saya, saya pengin…” Cepi ambil langkah seribu. “Kabuuurrrrr….!”

Memet terkejut bukan kepalang. Keberanian yang tadi sempat menjamah nyalinya usai melihat kehebatan Cepi memukul jatuh si herder kini kembali terbang bersama angin. Apalagi kini si herder gantian memandangnya dengan penuh hasrat.

“Hei, anjing, kau pikir saya takut?” bentak Memet. “Memang saya takut pada kau…!” Memet berbalik lalu lari terbirit-birit menyusul Cepi. Si herder mengejarnya.

Tak berapa lama Memet berhasil menyejajarkan larinya dengan Cepi. “Dasar kamu nggak punya perasaan, Cep! Kau tinggalkan aku bersama anjing itu tanpa rasa bersalah.”

“Sebagai sahabat, saya merasa bersalah, Met. Tadi saya berjanji pada diri sendiri, kalau kau mati digigit si herder itu, saya akan menguburmu secara layak di taman makam pahlawan.”

Keduanya masih berlari yang sebenarnya hanya berputar-putar kompleks. Tak seorang pun tampak untuk dimintai tolong.

“Andai kinerja aparat hukum seperti anjing itu yang tak pantang menyerah mengejar koruptor, negeri ini akan makmur, Met!”

“Sudah ada yang seperti itu, Cep,tapi aparat lain malah berlaku sebaliknya! Lihat saja, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia mengobral remisi ke beberapa napi. Anggodo Widjojo yang dihukum sepuluh tahun diberi remisi 2,5 tahun. Sebelumnya pengusaha Siti Hartati Murdaya dibebaskan bersyarat. Ini tentu melukai hati kita sebagai masyarakat. Kita pun curiga pembebasan bersyarat mantan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu karena hubungan kolega politik dengan Menkumham Amir Syamsuddin yang politisi partai bintang mercy.”

“Makanya dulu sejumlah koruptor, melalui advokat yang juga politisi Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, menolak kebijakan Menkumham yang menghapus remisi untuk terpidana korupsi. Karena mereka merasa telah didiskriminasi secara hukum. Sekarang tudingan mereka terbukti.”

“Kasihan Pak SBY. Di akhir masa jabatannya, tiga menteri yang telah dipilihnya jadi tersangka korupsi. Dua dari partainya sendiri. Mereka berani berselingkuh, bercumbu dengan penjahat.”

Keduanya terus berlari keliling kompleks DPR. Di belakang mereka, si herder masih buas mengejar.*

Jakarta, 23 September 2014