Sudah dibaca 364 kali

Di sebuah persimpangan gang, Cepi dan Memet membelok dan bersembunyi di balik sebuah drum. Mereka menyenderkan punggung ke tepi dinding sembari mengatur napas. Cepi menjulurkan lehernya, menyisir pandang mulut gang menanti si herder lewat.

“Aman, Cep?” sahut Memet.

Cepi ragu-ragu. Si herder yang ditunggunya tak kunjung melintas. “Untuk sementara kita aman.”

Suara perut Memet terdengar nyaring. Ia belum menimbun makanan di dalamnya sejak turun dari mobil travel, salat, dan keluar masjid. Anjing si bule benar-benar membuatnya senewen. Ingin sekali ia keluar dari tempat persembunyian dan menantang duel makhluk berkaki empat itu. Persoalannya, ia belum mau mati konyol. Ia telah menakar kemungkinan menang melawan si herder 1:100.

“Sepertinya Tuhan masih ingin menertawai kita ya, Met,” ujar Cepi. “Sekeluar penjara, kita belum dikasih kesempatan untuk makan. Dalam kondisi perut keroncongan, makhluk ciptaan-Nya yang senang menggonggong mengejar kita.”

“Menertawai kita?”

“Iya, itupun kita masih harus bersyukur karena sampai sekarang kita masih selamat dari gigitan si herder.” Cepi membayangkan kemampuannya memukul jatuh anjing itu.

Memet menarik kedua ujung bibirnya, berusaha tersenyum. Ia salut pada sahabatnya yang terlihat sabar dalam kondisi seburuk apapun. Saat itulah ia melihat secarik kertas koran tergeletak di depannya. Diraihnya koran itu setelah memantau situasi.

“Beritanya apa, Met?” Cepi mendekatkan tubuhnya ke Memet. Ia ingin tahu perkembangan situasi politik dan hukum negeri ini yang masih tak menentu.

“Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, yang tersandung kasus penyuapan dan pencucian uang, divonis 8 tahun penjara.” Bola mata memet bergerak-gerak mengikuti deretan kata yang berbaris dalam kolom koran. “Di akhir sidang, dia nantang hakim dan jaksa.”

“Nantang hakim dan jaksa?!” Cepi terperanjat, agak lebay karena kedua matanya membelalak. Tak pernah ia mendengar terpidana menantang duel hakim dan jaksa. “Maksudnya, Anas mengajak hakim dan jaksa bertarung?”

“Bukan!” sergah Memet. “Pikiranmu kok anarkis sekali sih, Cep! Kebanyakan nonton film Holywood sih! Anas nantang hakim dan jaksa melakukan mubahalah alias sumpah kutukan. Katanya, ia menghargai keyakinan hakim dan jaksa. Ia pun menghargai keyakinannya sebagai orang tak bersalah namun teraniaya. Dua keyakinan ini kan saling bertolak belakang, pasti ada yang salah dan sebaliknya. Makanya Anas ingin melibatkan Tuhan untuk menguji kebenaran itu.”

“Kayak sumpah pocong dong, Met!” sergah Cepi. “Lalu apa reaksi hakim dan jaksa?”

“Tidak ada. Lagi pula, tak ada aturan mubahalah dalam hukum positif negeri kita.” Memet tertegun sejenak. Sebentar ia menoleh ke Cepi. “Apa sumpah di persidangan belum cukup?”

Cepi mendelik, memandang langit. Ia merasa kagum dengan sikap Anas yang optimis tak bersalah. Dari sekian banyak terpidana korupsi, hanya orang itu yang berani ngajak sumpah hakim dan jaksa usai pembacaan vonis. Tapi Memet segera tersadar bahwa banyak pula dari mereka yang masih merasa benar dengan sikapnya kendati divonis salah oleh pengadilan.

“Akhir-akhir ini vonis berat terhadap bedebah koruptor tergolong tinggi. Hakim mulai berani bersikap progresif menjatuhkan vonis di atas lima tahun penjara terhadap para terpidana. Menurutmu, apakah setelah kasus Anas ini, korupsi di negeri ini berkurang?”

Cepi nyengir. “Aku tak yakin. Hakim yang berani memvonis tinggi hukuman bagi terpidana koruptor masih bisa dihitung dengan jari. Bagi koruptor, situasi ini menguntungkan. Kalkulasi antara jumlah duit yang dikorupsi dengan hukuman ringan di pengadilan masih menguntungkan mereka. Apalagi remisi alias potongan masa tahanan masih berlaku. Siapa tahu dapat remisi 2,5 tahun seperti yang didapat Anggodo Widjojo?”

“Penegakan hukum di negeri ini masih terlihat diskriminatif ya, Cep.” Memet menghela napas berat. Ia berpikir yang membuat negeri ini masih bertahan tak menjadi rimba adalah keberadaan sejumlah penegak hukum yang berani melawan pejabat korup.

Cepi kembali menjulurkan lehernya ke luar. Alangkah terkejutnya ia saat melihat si herder melintas di mulut gang. Anjing bertubuh kekar, tinggi, dan berbulu hitam metalik itu sejenak melempar pandang ke tempat persembunyian Cepi dan Memet. Cepi buru-buru menarik lehernya.

Si herder ragu-ragu melangkah apakah meneruskan jalan atau istirahat sebentar. Ia kemudian berjalan santai mendekati drum, mengangkat kaki kiri bagian belakang, lalu meluncurkan air seni dengan perasaan lega.

Suara cipratan air ke dinding sangat jelas terdengar di telinga Cepi dan Memet. Tapi keduanya tak berani bergerak, bahkan mereka menahan napas. Jika sedikit saja membuat gerakan, dan anjing itu dengan pendengaran tajamnya tahu, mereka tak bisa berkutik lari karena terjebak di gang buntu.

Cepi memandang langit, membayangkan Tuhan sedang menertawainya. Memet pun memandang langit, mencari makna terhadap satu kompi burung bangau yang terbang melintasi awan dan salah satunya membuang kotoran yang kini mendarat hangat di kepalanya. Melihatnya Cepi nyengir. “Oh Tuhan, Engkau memang sungguh baik kepada kami,” ujar batinnya.

Setelah puas buang hajat, anjing itu melenggang pergi. Cepi merancang rencana. “Kita tak mungkin di sini terus kan, Met?” Memet mengangguk. “Kalau begitu, kita cepat keluar dari sini dan mencari warung makan. Kukira anjing sialan itu sudah jauh pergi dari tempat ini.”

Setelah memberi aba-aba, Cepi keluar dari tempat persembunyian dengan berlari. Malangnya, Memet keluar gang dan membelok ke arah yang berlawanan dengan Cepi. Ia tak melihat Cepi belok kiri atau kanan karena saat Cepi keluar, ia sibuk membersihkan kotoran burung di atas kepalanya.

Memet terus berlari dan tak melihat Cepi sama sekali. Justru ia mendapati dirinya semakin mendekati si herder. Ia lalu menghentikan lari, mengubah haluan, dan kembali memacu laju kaki.

Lari Memet semakin kencang lantaran si herder juga berlari mengejarnya. Ia masih sempat menatap langit dan membayangkan Tuhan tengah tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan itu.*

 Bogor, 26 September 2014.