Sudah dibaca 461 kali

Nyeri yang menggigit telapak kaki Memet terasa semakin pedas. Ia merasa tak ada lagi peluang untuk selamat dari pengejaran oleh anjing herder itu. Menjadi yang dikejar memang tidak enak, apalagi jika dikejar oleh makhluk berkaki empat tak berperasaan. Diajak negosiasi sealot apapun tak akan berhasil.

Cepi sudah tak lagi terjangkau oleh pandangannya. Entah kabur ke mana dia. Di pikirannya sempat terlintas untuk mencontoh keberanian Cepi menghadapi si herder, namun nyalinya masih ciut. Tiba-tiba Memet teringat suatu wejangan di kala kecil, wejangan dalam menghadapi kejaran anjing.

Si herder berlari dengan penuh semangat. Mengejar orang dan menggigitnya adalah pekerjaan yang selalu didambakannya. Selama ini ia hanya makan, tidur, dan menemani tuannya keliling kompleks perumahan. Monoton sekali. Maka, ketika tuannya menyuruhnya menggigit dua manusia yang dilihat dari penampilannya seperti orang kurang waras, ia semangat sekali.

Si herder membayangkan sepotong kaki manusia gemuk dan mulus, terlebih dulu diberi bumbu balado, garam secukupnya, dan sedikit sayuran, terhidang di hadapannya siap disantap. Atau pakai resep Pak Bondan Winarno biar sop kaki terasa maknyus. Kini, ia akan menyiapkan hidangan itu.

Saat lamunannya tentang sepotong kaki manusia gemuk dan mulus melambung tinggi, si herder tiba-tiba mengerem larinya. Konsentrasinya yang tadi minggat ke surga kembali menjejak dunia nyata. Namun ia tak cukup cepat. Tubuhnya oleng dan terpental karena tak bisa menahan rem kaki yang super cepat. Tubuhnya terpelanting membentur dada Memet.

Si herder ambruk dan melihat lima burung berputar-putar di atas kepalanya. Saat ia hendak bangun, sekonyong-konyong sebuah sandal melayang cepat dan mendarat di pipinya. Ia kembali tersungkur. Kali ini ada sepuluh burung yang hinggap di kepalanya.

Memet beranjak berdiri dan meneruskan langkah seribunya, meninggalkan si herder yang berjalan sempoyongan seperti anjing mabuk.  “Ternyata nasihat orang tua zaman dulu manjur,” gumamnya.

Di persimpangan jalan, ketika melewati lapak koran, sebuah suara menghentikannya. “Sssttt, Met, berhenti!”

Memet menghentikan langkahnya. Ia mencari pemilik suara yang memanggilnya. Diedarkan pandangannya dan mendapati seorang penjual koran sedang sibuk dengan TTS-nya dan seseorang yang membelakanginya tengah membaca sembari mengangkat koran tinggi-tinggi.

“Jongkok dan pura-pura mengencangkan tali sepatu, cepat!”

Memet mengikuti perintah misterius itu—ia ingat itu adegan klasik film-film detektif zaman dulu. Ia jongkok dan menunggu aba-aba berikutnya.

“Sudah kubilang pura-pura kencangkan tali sepatu!”

“Saya kan lagi nggak pakai sepatu!”

“Pura-pura!”

Seperti orang dungu, Memet menurut saja. Namun ia curiga pemilik suara itu si Cepi dan dia sedang memegang koran.

“Saya yang sedang pegang koran. Cepat kamu berdiri di samping saya lalu pura-pura baca koran seperti saya!”

Memet menurut. Ia berdiri dengan gerak cepat dan mulai membaca koran yang tergeletak di atas meja lapak.

“Apa anjing itu membuntutimu?”

“Saya tak tahu. Tapi tadi saya sudah menempelengnya. Keberanian kita melawan anjing itu sekarang 1-1.”

“Sssttt, kita ganti topik pembicaraan. Kalau anjing itu tiba-tiba lewat dan dengar dirinya kita gunjingkan, kita bisa ketahuan.”

Memet bingung dengan bentuk koran di tangannya. Ia tak bisa memahami tulisannya.

“Kau terbalik baca koran!” sembur Cepi.

Memet nyengir.

“Bagaimana soal Pak Presiden kita yang sekarang dicaci maki oleh rakyatnya? Hastag ShameOnYouSBY di media sosial twitter jadi trending topic nomor satu di dunia selama dua hari. Para netizen kecewa dengan SBY yang dipandang turut serta mengembalikan demokrasi ke zaman orba.”

“Sekali lagi Pak Presiden harus menelan pil pahit ya, Cep. Di akhir masa jabatan, baru-baru ini dua menterinya tersandung kasus korupsi. Yang satu kader partainya sendiri. Di parlemen, fraksinya walk out, sehingga memudahkan Koalisi Merah Putih memenangkan voting.”

“Dia dituduh melakukan sandiwara politik.”

“Kalau dipikir-pikir,” Memet menoleh ke Cepi dengan raut serius, “sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, ia bisa mengendalikan partainya di parlemen. Semua kemungkinan keputusan telah dipikirkannya, termasuk aksi WO itu. Apa fraksi PD tidak konsultasi dulu kepadanya sebelum WO?”

“Yang pasti demokrasi kita terancam mundur jika pemilihan kepala daerah benar-benar dilakukan oleh anggota DPRD.” Terdengar nada getir dalam suara Cepi. “Seperti sebelum orde reformasi. Kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD yang bergerak berdasar kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat. Tiap fraksi di DPRD melakukan transaksi tertutup terkait penggantian pimpinan dan aparatur daerah, alokasi anggaran, serta kue proyek pembangunan. Korupsi memang terlokalisasi, tapi siapa yang akan membongkarnya jika semuanya terlibat? KPK malah kesulitan mengendusnya.”

“Mestinya kita tak selalu larut dalam debat politik di antara para politikus Senayan itu, Cep.” Memet berusaha bijak. Sebentar ia melirik ke pemilik lapak yang melihatnya dengan pandang tak senang. “Saat pemilihan legislatif dan presiden, rakyat larut dalam aksi dukung mendukung. Sekarang pas penentuan model pilkada, rakyat juga larut di dalamnya. Kenapa rakyat tidak bersatu untuk menghancurkan musuh bersama yaitu praktik korupsi? Yang kita khawatirkan kan praktik korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan politisi itu, lalu kenapa kita malah fokus ke mekanismenya?”

“Maksudmu apa sih, Met? Kok kayak muter-muter begitu ngomongnya?”

“Menurut saya, model pilkada boleh apa saja, asal kita buat hukum antikorupsi yang bikin pelakunya termehek-mehek. Misalnya, kita buat klausul di peraturan, bagi anggota DPR/DPRD yang melakukan korupsi dihukum minimal 15 tahun penjara dan mengembalikan semua gaji yang pernah diterima lalu seluruh hartanya disita buat negara. Kita perjuangkan klausul itu masuk entah di KUHP atau peraturan hukum lainnya. Kita tak perlu repot-repot berteriak setuju-tak setuju pada apapun yang mereka perdebatkan. Kita fokus memperjuangkan klausul itu dicantumkan dalam peraturan yang menjerat para koruptor.”

Cepi geleng-geleng kepala mendengar pemikiran sahabat karibnya. “Sekalian saja penggalangan mosi tidak percaya kepada partai yang kadernya melakukan korupsi!”

“Saya setuju! Saya muak dengan partai yang kadernya melakukan korupsi. Saat kadernya membuat prestasi, partai mengklaim sebagai kader terbaiknya. Ketika kadernya jadi koruptor, partai cuci tangan dengan mengatakan kadernya melakukan korupsi tanpa sangkut paut dengan partai. Padahal duit hasil korupsi ikut masuk ke kas partai untuk mendanai kegiatan-kegiatan partai.”

“Woi!!!” Pemilik lapak yang sedari tadi kesal mendengar pembicaraan Cepi dan Memet berteriak seperti memanggil makhluk di hutan.

Cepi dan Memet kaget. Mereka buru-buru merapikan koran yang hampir lecak.

“Ngomong kayak orang pintar aja! Elo berdua mau beli atau numpang baca?!”

“Eh…em…kita cuma numpang baca, Bang,” ujar Cepi dengan nada cengengesan.

“Woi, ini bukan perpustakaan! Pergi sono!” Dengan suara keras dan kasar, orang itu mengusir Cepi dan Memet sembari menunjuk kejauhan.

Ingin sekali Memet menghajar tukang koran itu, tapi Cepi buru-buru mencubit pahanya agar diam. Bagaimanapun, tukang koran tak otomatis memiliki hak untuk menghardik orang yang numpang baca koran yang dijualnya.

Cepi dan Memet buru-buru beringsut dari tempat itu. Namun, belum lima meter melangkah, mereka melihat hewan berkaki empat mendekat. Makin lama makin cepat larinya.

“Si herder, Cep! Cepat lari!”

Cepi dan Memet kembali berlari. Tak ingin jadi menu makan siang si herder.*

 

 Jakarta, 29 September 2014.