Sudah dibaca 610 kali

Jika ada alat yang mampu mentransfer memori otak ke dalam bentuk potongan (slide) gambar, maka saya bisa memperlihatkan keindahan sawah tempat dulu saya bermain pada Anda. Sawah di mana lumpur-lumpurnya tiap hari membuat kaki dan tangan saya busik. Atau rawa dekat sawah yang ilalangnya tinggi. Atau dua empang dekat masjid yang dilengkapi jamban. Atau dua empang dekat rawa yang dikelilingi pohon bambu, jalan tanah yang landai, dan didekatnya terdapat tanah lapang di mana kami, anak-anak Kampung Cilungup, biasa bermain layang-layang, sepak bola, dan kejar-kejaran.

Kami memang agak takut mendekati kober di belakang Masjid Al-Kusuf. Di sana, entah kenapa, tidak menarik perhatian saya dan teman-teman lantaran ilalang dan pohon-pohon jambu mente yang tinggi sulit dipanjat. Batu-batu nisan dan gundukan tanah tak membuat hati kami nyaman jika berada di dekatnya.

Jika sawah dijadikan pusat arah, maka di sebelah timur dan utaranya adalah Kompleks IKIP. Di bagian baratnya Masjid Al-Kusuf, dan di bagian selatannya sekolah. Rumah saya berada di sebelah barat menyerong ke utara, sekitar 150 meter jaraknya.

Jika tidak lewat Kompleks IKIP, saya pergi ke sekolah lewat sawah. Terutama saat musim panas. Sebab jalan sawah merupakan jalan terpendek mencapai sekolah kendati, tentu saja, mentari terik menyengat kulit. Saya bersekolah di tiga jenjang yang lokasinya berdekatan; TK Permata Bunda, SD Negeri Duren Sawit 05 Pagi, dan SMP Negeri 194.

Jika musim panen tiba, akan tampak puluhan atau ratusan burung pipit berlompatan di antara bulir-bulir padi yang menguning. Dari dangau, petani yang menjaga stabilitas sawah menggoyang-goyang tali plastik yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Terkadang pula terlihat burung bangau datang mampir mencari ikan.

Jika mentari mulai condong ke barat, orang-orang membawa pancing dan melempar kail ke tengah sawah. Jika padi sudah dipanen dan dibersihkan dari petak sawah, para pemancing itu membawa cengkaling—semacam racun ikan berbentuk bulat putih—dan mulai menangkap ikan dengan agresif. Saya sebagai bocah yang tidak punya investasi membeli cengkaling hanya menonton di pematang dan berani mengambil ikan mabuk jika orang-orang sudah beranjak pergi.

Sore hari, akan tampak murid-murid pengajian berjalan kaki menuju Masjid Al-Kusuf. Mereka membawa buku tulis, pena, mushaf Al-Qur’an, dan fotokopian diktat pelajaran. Azan ashar menggema (nyaring sekali jika didengar dari tengah sawah), shalat jamaah dijalankan, kemudian suasana pengajian yang ramai mulai terdengar. Saya pun pernah mengaji di sana.

Jika keinginan menangkap ikan tak terbendung, saya mencari ikan di got atau selokan yang banyak terdapat di sekitar Kompleks IKIP. Masih ada rawa kecil berupa lokasi tanah terabaikan yang diapit dua-tiga rumah. Saya masih ingat, suatu hari, bersama adik perempuan saya, saya berhasil menangkap dua ikan gabus besar di selokan itu. Modalnya cuma kecerdikan; membuat bendungan kecil untuk mempersempit gerak ikan, lalu mengobak-obak (mengaduk-aduk) air dengan harapan ikan terombang-ambing, kecapekan, lalu mabuk/pingsan sehingga dengan mudah kami tangkap. Saya tak punya cukup uang untuk membeli cengkaling.

Itu kenangan sekitar 20 tahun lalu. Tadi pagi saya mencoba merekonstruksi kenangan itu dengan mendatangi lokasi sawah. Sambil menunggu siswa-siswi PAUD Nusa Indah datang, saya mengajak Fajar, salah satu murid saya, menyambangi tempat itu. Saya ceritakan padanya tentang pengalaman saya masa kecil; tentang tanah dataran tinggi berumput yang dari sana dapat memandang hamparan sawah namun kini ditempati rumah mewah bertingkat dua; tentang pepadian dan kerbau, orang-orangan sawah dan burung-burung yang kini berubah menjadi hamparan pohon pisang, pohon kapuk, ilalang, got kotor, dan dominasi sampah!

“Kamu tidak beruntung, Jar. Bapak dulu senang main di sawah sini,” kata saya. “Bapak dulu sering pergi ke sekolah lewat jalan ini.”

Tapi kini semua telah berubah drastis. Tak ada jejak sawah kecuali beberapa petak kangkung liar di dalam genangan air hitam. Jalan semen membelah bekas sawah, menghubungkan Kompleks IKIP sisi timur, Kompleks IKIP sisi Utara, dan kawasan dekat masjid. Beberapa papan kepemilikan tanah berdiri angkuh. Dua empang telah diduduki bengkel mebel yang luas, yang membentang menutupi kober dan masjid. Rumah-rumah kumuh, kalau mau dibilang demikian, menempati sisi selatan sawah. Bangunan berdinding beton tak beratap berdiri begitu saja terlantar, habis dicoreti entah siapa. Mungkin terbit pertanyaan, kenapa sebagian areal bekas sawah tidak terurus?

Saat akan kembali ke lokasi PAUD bersama Fajar, saya bertemu Bang Maksum—panggilan orang-orang kepadanya memang demikian. Ia sedang berhenti di pinggir jalan. Usianya barangkali akhir 60-an atau 70-an lebih. Dengan gerobak bututnya ia mencari sampah-sampah layak pakai.

Saya ingat sekali, saat masih kecil saya sering melihatnya menggarap sawah. Ia tergolong pekerja keras. Tak hanya padi yang ia tanam. Tanaman lain seperti cabai dan pohon pisang juga ditanaminya. Kalau tidak salah ingat, ia juga meletakkan kandang ayam di pinggir sawah. Dan ia masih ingat wajah saya.

Saya bertanya padanya apa yang membuat sawah-sawah menjadi seperti itu. Katanya, sebab tak ada lagi yang mengurusnya. “Bagaimana dengan pemilik sawah?” tanya saya. Dia tidak tahu. Bahkan ia tak pernah bertemu pemilik tanah yang digarapnya sejak tahun 1982 hingga sekarang. Sawah diabaikan lantaran serangan tikus sehingga petani tak lagi punya harapan memanen padi. Sawah lambat laun dibiarkan terlantar. Sejumlah pemilik lahan yang masih ingat punya tanah di sana menjualnya kepada yang berminat. Saya sangat trenyuh mendengarnya.

Dari percakapan itu saya menyimpulkan, sebenarnya sawah akan tetap ada jika pemiliknya memberi perhatian.

Saya yakin sekali, penyebab utama terlantarnya sawah, selain perhatian yang kurang dari pemilik lahan, adalah populasi penduduk yang meningkat di sekitar sawah. Sebenarnya mereka pendatang, bukan orang asli kampung yang mayoritas Betawi atau penduduk Kompeks IKIP.

Sejak kehadiran kantor camat Duren Sawit di belakang masjid, di mana sejumlah kuburan dipindahkan, Kampung Cilungup cepat berubah. Dan saya masih ingat, di atas bangunan kantor camat itu adalah lapangan luas tempat saya bermain layang-layang dan menonton kompetisi sepak bola antarkampung.

Jika masih ada sawah, saya akan ajak murid-murid berkeliling sawah. Mengajari mereka menangkap ikan, kepiting, bergelut dengan lumpur, dan memancing. Tapi sawah sekitar satu hektar itu tak ada lagi. Dan biarlah memori tentang sawah tetap mengendap di otak saya. Selamanya.

Kampung Cilungup, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sabtu 5 September 2009