Sudah dibaca 451 kali

 karang

Dua hari ini, imam salat tarawih di masjid Baitul Hikmah Kompleks Duta Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, adalah seorang Anak Baru Gede (ABG). Namanya Galih. Ahad malam, 5 Juli 2015, bahkan ia didaulat sebagai pemateri kultum.

Tadi takmir masjid menjelaskan kenapa siswa berusia sekitar 16 tahun itu menjadi imam. Galih, katanya, seorang hafiz. Hafal al-Quran 30 juz. Suaranya pun enak didengar. Ia kemudian menyebutkan sejumlah hal yang membuat seseorang layak dipilih menjadi imam salat di antara jamaah lain. Pertama, hafal al-Quran. Kedua, hafal sejumlah hadits. Ketiga, usia.

Ia menyebutkan musabab lain kenapa Galih didaulat menjadi imam bagi jamaah salat tarawih yang mayoritas jauh lebih tua darinya. “Kaderisasi,” jelasnya. Takmir masjid ingin mengader anak-anak muda untuk tampil di muka umum.

Bagi jamaah salat di tempat lain, terutama di kampung-kampung yang tingkat feodalistisnya masih tinggi, barangkali situasi demikian tak bisa diterima. Bagaimanapun imam salat harus sudah berumur, terpandang, dan dihormati. Tak ada kriteria penguasaan al-Quran dan Hadits. Sehingga, bisa saja, sebuah masjid dipimpin oleh seorang imam yang baik hafalan al-Qur’an maupun hafalan haditsnya jauh di bawah makmum lainnya.

Yang lebih miris, hafalan sang imam atas sebuah surat salah. Bahkan, bacaan suratnya salah. Siapa yang berani mengkritik? Bisa-bisa Anda dimarahi!

Galih, menurut istri saya, adalah teman Taman Kanak-kanak (TK) adiknya, Jati, yang kini duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Saat TK, bersama Yery, ketiganya sering main bersama. Yery sebagai ketua “geng” sementara Jati dan Galih “pengikutnya”. Istri saya menjuluki mereka “Geng Geblek”.

Memberi kesempatan kepada yang lebih muda untuk memimpin golongan tua patut diapresiasi. Ini memang era di mana yang muda memimpin yang tua, bukan? Butuh kelapangan hati para orangtua untuk menerima situasi di mana aspek keilmuan lebih diutamakan ketimbang faktor usia.*

 

 Kunciran, 7/7/2015