Sudah dibaca 1068 kali

Suasana di dalam kereta api menuju Bekasi

Suasana di atas KRL menuju Bekasi

Selasa, 21 Juli 2015. Hari ini menjadi perjalanan yang sangat mengesankan bagi saya, istri saya Winy, dan anak saya Kirana. Kami bertiga menempuh perjalanan Tangerang-Bekasi menggunakan dua alat transportasi yaitu sepeda motor dan kereta api.

Ide penggunaan sepeda motor dan kereta api berasal dari Winy. Ia berkata perjalanan sekitar 40 kilometer itu akan terasa sangat melelahkan. Terlebih cuaca panas sepanjang perjalanan. Saya menyetujuinya.

Kami meninggalkan rumah di kawasan Kunciran Indah, Pinang, Tangerang, sekitar pukul 7 pagi. Tiba di stasiun Jatinegara pukul 9. Kami lalu memarkir motor di samping stasiun.

Saya membeli tiket kereta. Tiga buah. Kirana sudah berusia 3,5 tahun, jadi dihitung satu penumpang. Per tiket dikenakan tarif Jatinegara-Bekasi Rp12.000. Harga tarif sebenarnya hanya Rp2.000. Sisanya, Rp10.000, merupakan jaminan kartu yang nanti, setiba di stasiun tujuan, bisa di refund atau dikembalikan.

Pegang Tiket

Pegang 3 tiket

Suasana stasiun Jatinegara ramai, namun tak begitu padat seperti hari-hari biasanya. Begitulah Jakarta ketika ditinggal mudik sebagian besar penduduknya: sepi.

Tak lama kami menunggu, kereta jurusan Jakarta Kota-Bekasi tiba. Kami naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Saat kami melangkah ke kursi prioritas yang berada di sisi kiri pintu, seorang perempuan muda berdiri dan menawarkan kursi kepada Winy. Winy kemudian duduk memangku Kirana, menggantikan perempuan itu yang sibuk dengan telepon selulernya sepanjang perjalanan.

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ia mematuhi aturan yang diterapkan PT. Kereta Api Indonesia (KAI) bahwa kursi prioritas ditujukan untuk lansia, penyandang disabilitas, perempuan hamil, dan ibu yang membawa anak.

Tujuan kami menyambangi rumah Handoyo. Ia adik dari ibu saya. Saya memanggilnya Om Han. Saya merasa dekat dengannya sejak kecil. Waktu itu saya sering diajak nonton film di bioskop saat menginap di rumahnya. Juga dibelikan bermacam-macam mainan. Namun sayang, sekitar setahun lalu, penyakit stroke menyerangnya. Sakit itu datang di suatu pagi saat ia bangun tidur.

Sekitar 20 menit kemudian kereta berhenti di stasiun Bekasi. Kami turun, menukar tiga tiket senilai Rp30.000, menyeberang jalan, kemudian naik bus ¾ 01. Kami turun di seberang Grand Mal Bekasi dan membayar ongkos Rp8.000.

Dari seberang Grand Mall kami naik angkot 04 dan turun di depan masjid. Bayar ongkos Rp6.000. Di halaman depan masjid terdapat menara air. Bagian paling atas bangunan beton tinggi itu berbentuk tabung yang lebar. Tabung itu dimaksudkan untuk menampung air. Makanya disebut menara air. Namun sepertinya hingga kini tabung itu tak berisi air.

Tiap saya melihat menara air itu, ingatan saya selalu terlempar ke masa kecil ketika suatu hari, bersama Dendy, anak Om Han yang telah meninggal pada 5 Maret 2012, saya memasuki tabung beton besar itu. Kami meniti anak tangga besi dari tabung bagian atas turun ke bawah. Tak ada apa-apa di dasar tabung kecuali sampah terserak. Aksi kami waktu itu terbilang nekat.

Dari depan masjid itu kami menyusuri 500 meter jalan kompleks. Setiba di rumah Om Han, kami melihatnya tengah duduk di kursi roda di teras rumah. Dari dalam rumah kemudian keluar Bule Endah, Erin beserta suami dan anaknya Nazira, dan Fisty. Om Han punya tiga anak; anak I (Alm.) Dendy, anak II Erin, dan anak III Fisty.

Kirana dan Nazira

Kirana dan Nazira

Pelihara Piranha

Kami bicara banyak hal; kondisi Om Han yang malah menurun, karier Fisty di Bea Cukai Surabaya, pekerjaan Addien (suami Erin) di Cikarang, hingga hewan peliharaan di halaman rumah: burung lovebird dan ikan piranha.

Kedua binatang itu dipelihara Addien. Ia bercerita banyak kepada saya. Lovebird tergolong burung cerewet, memiliki beragam warna bulu yang cerah, dan berukuran kecil. Menurut Addien, harganya lumayan tinggi. Per ekor bisa mencapai Rp150.000. Jika dijual sepasang, harganya dua kali lipatnya. Sang induk bertelur 3 bulan sekali. Sekali bertelur 3-4 buah. Telur dierami selama tiga minggu seperti ayam.

Yang mengejutkan saya adalah ikan piranha. Baru kali ini saya melihat ikan piranha dipelihara di akuarium pribadi—sebelumnya saya melihat piranha di Museum Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Suasana di kereta api menuju Bekasi

Ikan Piranha

Piranha, bagi banyak orang, adalah ikan yang mengerikan. Mereka hewan ganas pemakan daging yang tinggal di Sungai Amazon, Amerika Selatan. Juga kanibal, pemakan sesama. Addien pernah dua kali digigit piranha. Pertama, secara tak sengaja, tangannya masuk ke akuarium saat menyerok ikan. Secara tiba-tiba seekor piranha menyambar tangannya. Kedua, ketika seekor piranha jatuh dari akuarium, ia memegang piranha untuk dikembalikan ke akuarium namun ikan itu berbalik dan menggigit tangannya. “Tidak sakit, tapi gigitannya lumayan dalam. Darahnya mengucur terus,” ucapnya.

Menurut Addien, awalnya ia menaruh 11 piranha di akuarium. Kini tersisa tujuh. Ketujuh ikan itulah pelaku kanibal terhadap empat piranha lainnya. Kanibal terjadi jika piranha kelaparan dan tidak ada makanan di sekitarnya. Mereka akan menyerang piranha lain yang mudah diserang atau tengah dalam kondisi kurang sehat. Beli di tukang ikan hias, per ekor piranha ukuran kecil, katanya, dihargai Rp5.000.

Kembali ke Jakarta

Pukul 14 kami bertiga pamit pulang. Fisty belakangan pamit, kembali ke Surabaya naik kereta melalui Stasiun Senen Jakarta, diantar Addien dengan sepeda motor.

Di atas kereta saya menelepon Iin, sepupu saya yang hendak kami kunjungi berikutnya. Ibunya, Bude Dar, juga sedang sakit—Bude Dar adalah kakak dari ibu saya dan Om Han. Ternyata ia dan kakaknya sedang berada di Kemayoran, mengunjungi famili. Ia tidak tahu pukul berapa akan pulang ke Duren Sawit. Saya akhirnya urung menyambangi rumahnya.

Seakan belum puas dengan perjalanan ini, Winy ingin kami mampir ke Toko Buku Gramedia di Matraman. Untungnya, lokasi Gramedia satu jalur dengan jalan pulang kami.

Kirana di Gramedia Matraman

Kirana berburu buku

Di sana saya dan Kirana mengawali perburuan buku dengan melihat bazar buku di parkiran mobil lantai dasar Gramedia—Winy salat asar setelah saya menjalaninya. Ada beberapa buku yang kami beli. Kemudian kami menyusul Winy yang sudah selesai salat asar ke toko Gramedia lantai atas.

Kami sempat saling mencari. Saat saya dan Kirana bertemu dengannya, Winy tengah menggenggam novel tetralogi Pramudya Ananta Toer berjudul Rumah Kaca. Ia sudah memiliki tiga novel lainnya namun Rumah Kaca baru berhasil ditemukannya. Ia sangat senang.

Tak hanya Rumah Kaca yang dibelinya. Ada beberapa buku tebal lainnya yang masuk keranjang pembelian. Plus buku menempel dan mewarnai untuk Kirana. Usai salat magrib dan makan-minum di Es Teler 77 yang terletak di lantai dasar, kami pulang. Sampai rumah sekitar pukul 21.

Belanja Buku

Hasil berburu buku

Keliling

Keliling pakai sepeda motor dan kereta api sudah kami lakukan dua kali. Pertama setahun lalu, saat kami pergi ke Bogor. Kami naik motor ke terminal Blok M, disambung naik bus ke Stasiun Manggarai, lalu naik kereta api ke Bogor. Motor diparkir di Blok M Square. Perjalanan kedua ya Selasa kemarin.

Kami merasakan perjalanan naik kereta api begitu nyaman. Semua gerbong berpendingin udara (AC) dan bersih. Di dalam gerbong terdapat petugas kebersihan dan petugas keamanan. Stasiun kereta api pun tampak bersih, tak ada penjual asongan. Yang tak kalah penting, harga tiketnya murah!

Di stasiun Jatinegara

Di Stasiun Jatinegara sambil makan roti maryam

Dulu saya tak pernah terpikir untuk mendapatkan layanan kereta api yang begitu nyaman. Sekitar 17 tahun lalu, saya sering naik Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan Bekasi dan Bogor. Isi gerbong selalu berdesakan, bercampur antara penumpang, penjual asongan, pengamen, pengemis, dan pencopet. Tak seorangpun, saya kira, merasa nyaman dan aman jika naik kereta api dengan kondisi begini.

Suasana stasiun pun sudah seperti pasar. Pedagang asongan bebas berkeliaran. Tukang dagangan buka lapak seenaknya, mengganggu jalan penumpang. Di beberapa lokasi, bau pesing menguar. Jorok sekali.

Di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan selaku Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pada 2009, lambat laun layanan kereta api berubah drastis. Menjadi lebih baik. Kereta api yang sudah tua diganti. Penyaluran subsidi diperbaiki. Pedagang, pengemis, dan pengamen dilarang beroperasi di dalam kereta api. Penumpang di atap kereta pun dilarang.

Begitupula di stasiun. Sistem peniketan diubah menjadi berbasis elektronik. Pedagang asongan dilarang menggelar lapak. Kegiatan merokok pun di larang.

Ketika kebijakan itu mulai diterapkan, masyarakat yang selama ini merasa diuntungkan dengan sistem amburadul kereta api melakukan perlawanan. Para pedagang tetap bersikeras berjualan di dalam kereta api dan stasiun. Di sejumlah tempat mereka melakukan perlawanan, termasuk menolak digusur dari area stasiun. Ignasius bergeming dengan protes dari sebagian masyarakat dan mahasiswa. Kini masyarakat dapat menikmati layanan kereta api dengan jauh lebih baik: bersih, tepat waktu, dan disiplin. Para petugas stasiun pun menunjukkan dedikasinya.

Saya berharap kebijakan revolusioner ini diikuti oleh pengelola terminal bus. Sebab sampai saat ini pengelolaan terminal bus tampak amburadul. Fasilitas terminal banyak yang rusak. Calo-calo berkeliaran. Sampah berserakan di mana-mana. Pedagang bebas menggelar lapak. Preman pun lancar beroperasi. Belum lagi pencopet dan penjambret yang mengintai calon penumpang. Aroma pesing tercium ke mana-mana karena sebagian sopir dan penghuni terminal kencing sembarangan.

Sekarang Ignasius Jonan Menteri Perhubungan. Mestinya ia menerapkan revolusi layanan kereta api terhadap layanan terminal bus. Atau setidaknya mengganti direktur instansi yang mengelola terminal bus dengan orang yang berpikiran revolusioner dan berani seperti dirinya.

Suasana Lebaran

Agenda kami bertiga di seputar Lebaran memang padat. Lebih padat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada Jumat, 1 Syawal 1436 Hijriyah atau 17 Juli 2015, usai salat Idul Fitri, kami bersama keluarga mertua menyambangi keluarga besan (orangtua saya) ke Duren Sawit, Jakarta Timur. Dari sana keliling ke saudara-saudara di Palmerah, Jakarta Barat, dan berlanjut ke rumah saudara di Larangan, Kota Tangerang. Pulang malam.

Besoknya, Sabtu, 18 Juli 2015, kami meluncur ke Bandung, Jawa Barat, menengok istri kakak ipar yang baru melahirkan. Mereka tinggal di sebuah rumah kos di Gang Bojong Tengah, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, dekat Taman Makam Pahlawan Bandung. Pulang sore, kami mampir ke rumah saudara di Cibeureum, Bandung. Tanpa perencanaan, kami nginap di sana dan baru pulang Ahad pagi.

Senin, 20 Juli 2015, kami di rumah saja. Menerima tamu. Sekalian istirahat.

Kami sengaja tidak berkunjung ke lokasi wisata di Jakarta atau tempat lain di sekitarnya. Sebab kami yakin pasti di sana padat pengunjung.

Maka kami mencukupkan diri dengan melakukan perjalanan dan berupaya menikmati semuanya. Semangat silaturahmi ini semoga memperpanjang usia dan menambah rezeki kami. Semoga pula tahun depan kami masih bisa bertemu mereka lagi. Aamiin.