Sudah dibaca 562 kali

“A!”

Sesekali Alfin, dengan wajah bundarnya yang lugu, menatapku sembari membuka mulutnya.

“B-A-BA!”

Sejenak Alfin menatapku sebelum pandangnya tertuju pada bukunya yang lusuh. “B-A-BA!”

“B-A-BA!”

“B-A-BA!”

“Dibaca apa?”

Alfin terdiam. Parasnya mengeras pertanda otaknya sedang bekerja keras menyusun kata-kata. Tangan kiriku memegang tengkuknya, berupaya memberinya keteguhan untuk berani berucap. Untuk sekian kali, pada satu masa yang lupa kutandai, aku menunggunya mengatakan sesuatu yang membuat hatiku lega.

“BABA!”

Suara itu terdengar nyaring. Nyaring sekali. Gendang telingaku lega mendengarnya. Tapi sayang, saat kata itu terdengar, pandang Alfin tertuju pada Riris, gadis cilik berponi berwajah bundar yang menelekan sikunya di meja kayu biru di sampingku.

“BABA!” Barulah kali ini suara Alfin menyusup ke telingaku.

Perlahan aku meletakkan tangan kanan ke pipi Riris yang lencir, melihat seulas senyumnya yang polos. “Riris, diam ya. Bacanya habis Alfin.”

Ketika bocah laki-laki 4 tahun itu melipat Buku Membaca-nya yang lusuh, terkadang aku berpikir, apakah aku, 25 tahun lalu, bersusah payah mengeja alfabet seperti dirinya. Mencari wajah ibu saat tak tahu menyebut huruf di depan mata. Atau membenamkan kepala di pelukan ibu menutupi air mata yang tiba-tiba mengalir lantaran malu tak bisa mengulang ucapan guru.

Atau aku seperti Andriano, bocah kerempeng yang menerjang ibu sambil memukul-mukulnya dan berharap mendiamkan tangisnya. Atau aku adalah Rohid, bocah 4 tahun berkulit sawo matang yang cemberut, diam, lalu menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas meja.

Kadang aku merasa melihat diriku kecil pada sosok Andriano. Ia kurus, rambutnya jatuh lurus, gigi depannya sering menggigit bibir atas dan bawahnya. Awalnya anak itu tampak pendiam, enggan berinteraksi dengan teman lainnya, dan lebih banyak berkata-kata dengan ibunya.

Perlahan aku mendekatinya dan menyapanya dengan lembut pada tiap pertemuan kelas. Aku berjanji pada diri sendiri akan membuatnya tak lagi menjadi sosok pemalu di hadapan guru dan teman-temannya. Akhirnya, dengan segala kegembiraan, kulihat Andri tak lagi seorang pemalu. Ia mulai akrab berinteraksi dengan teman-temannya kendati enggan beranjak dari tempat duduknya di bagian belakang. Ia jadi siswa pertama yang jika melihatku mendekat, menjulurkan tangannya, dan mencium punggung telapak tanganku.

Entah berapa lama kebahagiaan itu kurengkuh. Yang kutahu, hingga kini, hampir setahun aku berinteraksi dengan mereka; bocah-bocah lugu berusia 2 hingga 6 tahun. Tertawa dan bernyanyi bersama di bawah kanopi besi yang karatan dan bolong-bolong di depan Balai Warga RW 01 Kelurahan Duren Sawit Jakarta Timur—jalan umum yang ditutup sementara.

Dulu, di awal menjadi tutor (guru), usai mengajar, aku menyempatkan diri menuliskan kenangan indah bersama mereka di komputer lalu mengunggahnya ke blogku. Biarlah kubagi kebahagiaan kepada teman-teman sembari berharap agar mereka turut memerhatikan pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitar tempat tinggal.

Inilah duniaku yang lain, dunia yang jauh dari hiruk-pikuk perdebatan wacana, tindakan dan pikiran politis, serta kemarahan pada perilaku yang menyinggung. Di sini, di Pendidikan Anak Usia Dini Nusa Indah, aku seperti terserap ke dalam dunia penuh warna, pelangi di ujung gerimis, gemericik air telaga tawa canda.

Lewat interaksi dengan mereka aku membuka gerbang masa laluku; pada goresan jemari yang tertatih mewarnai gambar, pada zig-zag pensil yang menebalkan garis melengkung hewan-tumbuhan. Aku pun berusaha mengingat suaraku lewat getar pita suara mereka saat mengeja huruf dan angka.

Pada puncak-puncak hari aku menasihati diri, anugerah macam apa yang kuterima hingga hari ini? Apa maksud Tuhan memberiku jembatan kehidupan di ujung fase lajang?

* * *

Terus terang saja aku tak pernah berpikir untuk menjadi seorang tutor atau guru Taman Kanak-kanak/Play Group. Aku hanya pernah berandai, pada suatu masa, bahwa aku ingin bermain dengan anak-anak balita sepuas-puasnya. Aku pernah berjanji, sepuluh tahun lalu, akan mengabdi pada masyarakat setelah kelar kuliah.

Di beberapa puncak kehidupanku, aku melihat diriku berjalan di atas ladang harapan yang telah lama kutebar benih doa. Rhonda Byrne menyebutnya ‘The Secret’. Namun, kusadari, bibit-bibit doa yang mulai tersemai bentuknya beragam jenis. Anehnya, pada akhirnya berjenis-jenis bibit itu menyusut menjadi dua benih; dunia anak dan dunia kepenulisan (orang dewasa).

Aku mulai menjalani dunia kepenulisan secara konsisten saat duduk di bangku kuliah. Merajut cita-cita dengan aktif di pers mahasiswa yang sarat lika-liku pengembaraan dunia politik kampus. Membaca buku pendidikan, membincangkan sastra, mendiskusikan ekonomi kapitalis-sosialis-marxis, mengeja filsafat, menyusuri jalan setapak seni-budaya, sesekali mengecam penguasa lewat aksi demonstrasi. Penuh hiruk-pikuk persaingan dan intrik.

Kemudian berlanjut menjadi musafir di organisasi pengkaderan penulis Forum Lingkar Pena DKI Jakarta sembari menggeluti profesi wartawan. Menampik tawaran saudara bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Menolak ajakan teman untuk menjadi guru. Menghindari obrolan kawan ihwal bekerja di dunia industri. Aku, alhamdulillah, sebagaimana terikrar pada suatu hari sembilan tahun lalu, tetap bertekad hidup dan mencari nafkah dari dunia kepenulisan!

Aku tak peduli angin sisa malam menerpa, arus kendaraan menghadang di pagi buta, atau pedih mata akibat begadang bersama teman berdiskusi tentang penulisan skenario. Saat bertemu dengan mereka, ‘anak-anakku’ yang lucu, semua derita hilang. Lelah yang menggigit tubuh seakan terkikis dibalur tawa canda. Peluh yang menetes tiap Sabtu sebelum belajar Bahasa Inggris dalam gerakan senam terbasuh sempurna.

Namun, tiap aku melihat ibu-ibu tutor teman sejawatku, aku merasa kecil di hadapan mereka. Pengorbanan mereka dua tahun terakhir mempertahankan PAUD Nusa Indah membuatku terharu. Upah, kalau boleh dibilang begitu, tak seberapa—diambil dari iuran wali murid Rp 10.000/bulan. Namun, bagiku, terus menghidupkan PAUD adalah sesuatu yang hebat. Mereka seolah menggantikan kewajiban pemerintah menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat kurang mampu.

Itulah yang membuatku bertahan. Mengabdi pada banyak orang adalah perjuangan. Saat di kampus, aku mengabdi pada masyarakat kampus lewat liputan dan tulisan konstruktif. Dan kini, di PAUD, aku mengabdi dengan memberi sedikit goresan pada sekelumit sejarah kehidupan anak-anak generasi penerus bangsa.

Ya, sekelumit sejarah. Sejarah terpenting seorang anak manusia berada pada fase kali pertama ia belajar menulis, membaca, mengenali bentuk, gambar, dan warna. Berada pada terminal pembelajaran mereka merupakan suatu keberuntungan! Hanya sedikit orang, terutama kaum Adam, dikaruniai keberuntungan semacam ini.

Dan, satu hal yang sangat kusadari, kelak ketika mereka besar nanti, akan melupakanku. Orang hanya mampu memutar masa lalunya hingga ia berumur enam tahun. Kadang, saat aku mengingat ini, aku sedih. Biarlah aku yang mengenang masa kecil mereka. Dan mereka akan bisa mengingat masa kecil bersamaku dengan membuka foto-foto di situs yang telah kubuat, yaitu: www.paudnusaindah.multiply.com. Kuharap saat besar nanti mereka mengunjungi blog tersebut dan mengenang masa-masa indah bersamaku beberapa tahun silam.

* * *

Banyak teman mengungkapkan ketidakpercayaannya padaku: bagaimana bisa seorang Billy mengajar anak-anak balita? Di kampus, pertanyaannya: Billy yang banyak bergelut dengan diskusi berbahasa ‘tingkat tinggi’ dan politik kampus bisa bicara lembut pada balita dan kumpul dengan ibu-ibu PKK? Di tempat kerja dan organisasi: Billy yang meliput narasumber bertitel S-1 hingga profesor dan memimpin organisasi orang-orang dewasa mengajari baca-tulis balita?

Pertanyaan itu tak kugubris, sama halnya saat aku menerima pandangan heran ibu-ibu orangtua murid yang kali pertama melihatku. Atau tatapan nanar hadirin pertemuan para tenaga pengajar PAUD sekelurahan Duren Sawit yang semuanya ibu-ibu kecuali aku. Laki-laki, lajang, kumpul dengan ibu-ibu? Promosi untuk anak perawan mereka?

Sama sekali jauh dari upaya mencari sensasi, sebab jika demikian adalah sesuatu yang konyol. Yang tepat adalah berusaha keluar dari mainstream dan stereotip masyarakat. Sudah umum bahwa guru/tutor PAUD/TK/Play Group berkelamin perempuan. Dengan kelembutan dan kesabaran kaum hawa, tingkah-polah anak-anak yang merepotkan akan mudah diatasi. Sifat keibuan dan pengalaman memiliki anak membuat mereka cepat memahami psikologi anak.

Lalu bagaimana jika guru/tutornya kaum Adam dan lajang? Itulah tantangannya! Aku belajar menjadi pribadi yang sabar, lembut, dan telaten dalam menghadapi anak-anak. Awalnya sulit sekali dan pernah terpikir untuk berhenti saja. Bagaimana menghadapi satu kelas anak balita yang jumlahnya sekitar 40 orang, dikelilingi ibu-ibu yang kadang berisik, anak yang rewel lantaran minta jajan atau marah dengan teman sebangkunya, dan kalau hujan maunya bubar karena khawatir terkena hujan?

Secara akademis aku memang kuliah di jurusan pendidikan, tapi pendidikan Teknik Elektro. Pernah praktik mengajar, namun di Sekolah Teknik Menengah (STM) yang rajin tawuran. Tak berpengalaman mengajar anak-anak.

Tapi kesempatan dan kepercayaan yang diberikan oleh tutor lain, yang juga kader PKK, kepadaku, kumanfaatkan sebaik-baiknya. Akan kubuktikan stereotip itu salah. Laki-laki juga bisa mengajar di PAUD.

Motivasi terbesarku saat menerima tawaran Ketua PKK untuk mengajar Bahasa Inggris di PAUD adalah membangun PAUD. Sebab, sejak berdiri pada 8 Februari 2007, PAUD Nusa Indah belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Bantuan PNPM dari pemerintah berupa meja dan kursi belajar pada akhir 2008 merupakan bagian dari program RW. Aku membuat proposal dan hal administrasi lainnya yang sulit dilakukan pengurus PAUD.

Mungkin aku mengikuti sosok ibuku yang sejak lama bergelut dengan kegiatan sosial. Ibuku Ketua Posyandu, Juru Pemantau Jentik (Jumantik), dan penyalur bantuan beras miskin (Raskin). Ia juga sering membantu masyarakat miskin mengurus biaya perawatan menggunakan kartu Keluarga Miskin (Gakin).

Menjadi guru PAUD adalah anugerah terbesar Allah kepadaku. Aku sangat mensyukurinya. Aku berdoa murid-murid cilikku kelak bertemu denganku saat mereka menginjak dewasa. Semoga.

21 Agustus 2009