Sudah dibaca 520 kali

Haruskah pergantian tahun dirayakan secara meriah? Dengan pesta kembang api, konvoi kendaraan di jalan-jalan, atau baker ayam bersama teman, misalnya? Barangkali banyak di antara kita, meski menolak kegiatan mubazir itu, ingin mengisi pergantian tahun dengan acara-acara yang menyenangkan, baik bersama teman, saudara maupun keluarga. Intinya berkumpul. Dan saya termasuk yang “mengamalkan” ini.

Tapi sudah dua kali pergantian tahun ini tidak saya isi dengan acara seperti itu. Pada pergantian tahun 2004 kemarin, saya menghabiskan malam di rumah. Menonton TV. Suasananya pun berbeda: duka cita. Ya, saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam tertimpa bencana gempa tektonik dan tsunami. Tepatnya pada Ahad pagi 26 Desember.Ratusan ribu jiwa korbannya. Astaghfirullah, ditambah dengan korban lain di Inia, Srilanka, Thailand dan Malaysia, jumlah korban masyarakat sipil tersebut adalah terbesar setelah Perang Dunia II tahun 1945!

Bersyukur saya dan teman-teman mahasiswa lain bisa melakukan aksi penggalangan dana. Selama tiga hari, 28-30 Desember, kami menyebar kotak-kotak kardus di lingkungan kampus UNJ dan sekitarnya—Jalan Pemuda, Jalan Rawamangun Muka dan By Pass. Pada 30 Desember kami menggelar pentas amal berupa pertunjukan seni; tari, musik, paduan suara dan pembacaan puisi. Alhamdulillah, selama tiga hari itu barang-barang bantuan seperti uang, pakaian dan makanan terkumpul banyak. Sekretariat redaksi di mana saya aktif di lembaga pers kampus, yang dijadikan posko bantuan, disesaki barang-barang tersebut. Keesokan harinya, 31 Desember, kami menyerahkan bantuan itu ke PMI DKI Jakarta. Betapa senang kami melakukannya, walau kami sadar bantuan itu tak seberapa besarnya.

Setahun sebelumnya saya melewatkan pergantian tahun tidak di rumah bersama keluarga, atau tempat lain bersama-sama teman kuliah, melainkan di atas mobil pengiring ambulans yang membawa jenazah! Lewat jendela mobil, di tengah jalan—saya lupa nama daerahnya—yang isesaki para pengendara motor dan mobil yang merayakan pergantian tahun, saya bisa melihat percik-percik kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam, menandai 1 Januari 2004. Indah sekali.  Suasana yang terbangun hanyalah kegembiraan. Kontras sekali engan suasana hati keluarga an saudara seorang teman yang ayahnya meninggal itu.

Pada 31 Desember itu tiba-tiba saya mendengar kabar kematian ayah teman saya itu. Saya segera meluncur ke sebuah rumah sakit di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, tempat sebelumnya ia dirawat karena pentakit struk. Dari sana, rombongan membawa jenazah ke sebuah rumah di Pondok Gede, Jakarta Timur, milik saudara kandung mayit. Di sana mayit dimandikan dan disalatkan, untuk kemudian di bawa ke Ambarawa, Jawa Tengah.

Meski perjalanan relatif jauh, tapi itulah keinginan teman saya. Ia ingin ayahnya dikubur berdekatan dengan makam ibunya yang telah lama mendahului. Ia mengajak saya mengiringi jenazah ayahnya ke kota kecil dengan Kota Semarang itu.

Saya berpikir, hal apa yang bisa saya lakukan uintuk membuatnya terhibur, atau setidaknya membuatnya senang. Saya, sebagai temannya yang telah berjuang bersamanya di lembaga pers mahasiswa selama lima tahun, merasa harus berbuat sesuatu. Sebenarnya masalahnya hanya karena itu tiba-tiba an saya tiak bawa pakaian ganti. Lagi pula, kalau saya ikut, keluarga di rumah tika tahu kepergian saya karena tika ada nomor telepon yang bisa ihubungi. Andai ada teman lain yangbisa ikut, saya tidka akan memenuhi ajakannya lantaran alasan-alasan tadi,. Lalu, akhirnya, saya memutuskan ikut. Semoga bisa mengurangi kesedihannya, batin saya.

Selama perjalanan saya tiak satu mobil engannya. Ia menemani jenazah ayahnya di mobil ambulans. Dan, saya yakin, kemeriahan pergantian tahun di jalan-jalan yang kami lewati, tak membuat hatinya luruh untuk ikut bergembira. Sebab tak ada alsan kuat untuk melakukannya.

Saya berpikir, saat itu, bilamana semua peristiwa itu tak terjadi, barangkali saya sedang bersenang-senang dengan teman-teman di kampus, berdiskusi sambil bakar ayam. Melewati pergantian tahun dengan begadang. Tapi pikiran sya yang lain berkata sebaliknya. Mestinya saya bersyukur bisa melewatkan pergantian tahun di ekat seorang teman yang tertimpa musibah. Bukankah ini suatu keajaiban: di tengah suasana gembira banyak orang, saya berada jauh darinya dan duduk di samping seorang teman yang sedang bersedih? Dan, seharusnya, kondisi ini disyukuri. Maka saat itu saya mengucap syukur kepada Allah Swt. bahwa saat pergantian tahun saya sedang melakukan kebaikan.

Saya adalah orang yang suka melakukan hal-hal baru, termasuk di dalamnya bersikap melawan arus, berbeda dari kebanyakanorang dan berusaha menikmati tiap situasi tak menyenangkan. Saya mengalami kesenangan,misalnya, menjadi jomblo di tengah budaya berpacaran yangmelanda teman-teman sebaya saya; melakukan kebaikan dengan membaca Qur’an i malam Minggu saat banyak orang berbuat maksiat; berpenampilan biasa saja sementara teman-teman lain menebar pesona untuk menarik perhatian lawan jenis; menebat dosen yang merasa diri paling benar ketika mahasisw lain takut bersuara; memakai sandal atau kaos oblong—tidak bersepatu dan berpakaian rapi—saat mewawancarai pejabat kampus (yang ini jangan dicontoh, he..he..). Dan, peristiwa di malam pergantian tahun 2003 itu, bagi saya, adalah anugerah terindah dari Allah Swt. Saya yakin, ini sangat langka terjadi!

Apa hikmah cerita di atas? Buat saya satu: sebaik-baik situasi adalah ketika kita bisa menghibur orang yang bersedih seraya mengucap syukur kepada Allah Swt. Sebaik-baik manusia, sabda Nabi Muhammad Saw., adalah yang berguna bagi sesamanya.