Sudah dibaca 1086 kali

Twinkle-twinkle little star

Gambar: www.seeherestudios.com

Tepuk Suntik

(tepuk tangan 3X)

Ambil suntik

(tepuk tangan 3X)

Ambil Jarum

(tepuk tangan 3X)

Ambil Obat

(tepuk tangan 3X)

Elu-selus

(tepuk tangan 3X)

Cus!

Tepuk Bayi

(tepuk tangan 3X)

Oeoe

(tepuk tangan 3X)

Oeoe

(tepuk tangan 3X)

Cilukba!

Tepuk Sate

(tepuk tangan 3X)

Ambil Kipas

(tepuk tangan 3X)

Tusuk-tusuk

(tepuk tangan 3X)

Aem!

Tepuk Badut

(tepuk tangan 3X)

Mata bulat

(tepuk tangan 3X)

Hidung Tomat

(tepuk tangan 3X)

Goyang-goyang

Tepuk Kirana

(tepuk tangan 3X)

Rambut Keriting

(tepuk tangan 3X)

Badan Kurus

(tepuk tangan 3X)

Cucu Nenek

(tepuk tangan 3X)

Seti-seti

Tiba-tiba saja Kirana, anak saya, bernyayi lagu-lagu itu dengan nada gembira. Ia bernyanyi sembari berbaring di tempat tidur ketika saya mendekatinya masih dengan sarung usai salat subuh.

“Wah, itu lagu di sekolah ya?” tanya saya. Kirana, tepat sebulan ini (mulai 29 Juli 2015), mengikuti kelas Kelompok Bermain (Playgroup) yang terletak di sebuah kompleks di Tangerang Selatan.

“Iya,” katanya.

Saya mengulang kembali lagu-lagu itu. Kami bernyanyi bersama. Masih di atas tempat tidur. Saya bertanya tentang Tepuk Kirana. Sepertinya lagu itu tidak diajarkan di sekolah, melainkan modifikasi. Kata istri saya, yang juga berbaring di samping Kirana, itu lagu buatan Nenek. “Lalu apa arti ‘seti’?” Istri saya tidak tahu. Saya tanya Kirana apa arti ‘seti’, ia tertawa saja.

Saya mensyukuri suasana gembira itu. Situasi di awal pagi setelah seminggu kami tidak berjumpa. Ahad dini hari, 23 Agustus 2015, saya meninggalkan rumah, terbang ke Palembang, Sumatera Selatan, untuk meliput pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional VIII. Saya baru tiba di rumah Sabtu malam, 29 Agustus 2015, ketika Kirana sudah tidur.

Suasana pagi itu, akhirnya, menjadi penyambutan terindah dari Kirana kepada ayahnya yang telah lama dinantinya. Saya terharu, bersyukur kepada Allah Swt atas karunia terindah yang saya terima pagi-pagi sekali.

Soal lagu dari sekolah, belum banyak yang Kirana dapat. Maklum, baru sebulan dia menimba ilmu. Sebulan lalu, Rabu pagi 29 Juli 2015, saya mengantarnya ke sekolah. Sesaat masuk ruang kelas, saya mengamatinya dari balik jendela kaca. Ia tampak antusias mengikuti permainan yang dibawakan guru, termasuk bernyanyi.

Malamnya, usai pulang kantor, saya bertanya padanya lagu apa yang tadi dinyanyikan di sekolah. Ia menggeleng tidak tahu. Ia tak pernah mendengarnya.

Kira-kira dua minggu kemudian ia kembali bernyanyi. Begini lagunya.

Watermelon watermelon

Papaya papaya

Banana banana

Banana banana

Tomato tomato

Ia menyanyikan dengan suara keras dan penuh percaya diri. Saya gembira mendengarnya. Kemudian saya menyanyikan lagu bahasa Inggris lain yang Kirana sudah hafal. Judulnya Twinkle-twinkle Little Star.

Twinkle-twinkle little star

How I wonder what you are

Up above that world so high

Like a diamond in the sky

Twinkle-twinkle little star

How I wonder what you are

Awalnya saya mengajarinya sembari memperlihatkan video klip lagu itu. Isinya kisah seeokor burung hantu yang menatap langit malam dari tempat bertenggernya di dahan pohon. Wajah sendunya berubah gembira ketika ia melihat sebuah bintang yang bersinar terang memanggilnya.

Burung hantu terbang mendekati sang bintang dan menerima uluran tangannya. Keduanya kemudian menari di bawah guyuran sinar rembulan. Di ujung lagu, burung hantu kembali menuju tempat peraduannya di dahan pohon. Diiringi senyum penuh sang bintang. Wajah burung hantu kembali sendu.

Menyanyi adalah sarana terbaik anak dalam mengenal seni. Mereka belajar merasakan keindahan dari alunan lagu. Melalui seni, seorang anak menajamkan rasa.

Kami beranjak dari tempat tidur. Dan kembali menyanyikan lagu-lagu sederhana itu.

Kunciran, Tangerang,

30 Agustus 2015