Sudah dibaca 1524 kali

 Suasana Perpustakaan Kemendikbud Senin sore (31/8/2015)

Suasana Perpustakaan Kemendikbud Senin sore (31/8/2015). Foto: Billy Antoro

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa jadi anggota perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada perasaan senang yang membuncah di dada ketika Bu Kiki, penjaga perpustakaan, menyodorkan kartu anggota perpustakaan tadi sore.

“Sudah bisa digunakan sekarang. Bisa pinjam dua buku dan satu audio,” katanya sembari menyodorkan kartu anggota perpustakaan kepada saya.

Saya langsung berkeliling di lantai 2 ruang perpustakaan itu, meninjau rak-rak besi berisi buku dan kaset. Beberapa orang terlihat serius dengan buku di atas meja, komputer dengan sambungan internet, dan film di dalam PC. Rasanya menyenangkan sekali!

Motivasi saya jadi anggota perpustakaan sebenarnya untuk menunjang pembelajaran Toefl. Saya tengah berusaha mengejar skor Toefl ITP minimal 500 yang rasanya sulit sekali. Saya sudah dua kali tes Toefl tapi nilainya belum melebihi 500. Seorang teman menyarankan saya untuk menjadi anggota perpustakaan Kemendikbud—ternyata hari ini dia juga baru mendaftar anggota di perpustakaan itu.

Dulu, awal bekerja di Kemendikbud, saya pernah mengajukan pendaftaran. Syarat-syarat umum saya penuhi. Namun akhirnya saya gagal menjadi anggota. Ceritanya begini.

Saya sudah mengisi formulir dan menyerahkan foto. Tinggal tunggu verifikasi dari pustakawan. Ia perlu menelepon tetangga saya yang punya telepon rumah untuk memastikan alamat dalam formulir yang saya isi benar.

Perpustakaan 2

Kartu Perpustakaan Kemendikbud. Foto: Billy Antoro

Seminggu kemudian saya kembali ke perpustakaan dan mendengar kabar mengecewakan: tetangga rumah saya tidak mengenal saya. Saya geram. Lalu saya tanya pembantu rumah tetangga. Katanya memang pernah ada yang bertanya tentang saya tapi karena dia tidak tahu nama saya, dia bilang tidak kenal saya—dia kenal wajah tapi tidak kenal nama saya.

Sejak itu saya enggan jadi anggota perpustakaan. Ribet sekali. Harus punya telepon rumah untuk diverifikasi. Saya tidak punya telepon rumah karena sudah lama Telkom tidak membuat jaringan baru di kawasan rumah tinggal saya.

Padahal dulu saya pernah jadi anggota perpustakaan Kotamadya Jakarta Timur di kawasan Jatinegara. Pernah juga jadi anggota Perpustakaan Daerah di kawasan Kuningan. Juga anggota Perpustakaan Nasional. Tak satupun mensyaratkan harus punya telepon rumah atau tetangga punya telepon untuk diklarifikasi. Cukup dengan menyodorkan KTP dan pas foto, kartu anggota perpustakaan saya dapat.

Trauma dengan kejadian itu, kini untuk menjadi anggota perpustakaan Kemendikbud saya pakai jalur pegawai. Saya bukan PNS, hanya tenaga honorer. Saya mengelola laman Ditjen Dikdasmen sejak 2009 (sebelumnya Ditjen Dikdas) tapi tidak memiliki kartu pegawai atau SK Tenaga Honorer. Akhirnya, setelah bersusah payah, saya mendapatkan SK Tenaga Honorer pengelola laman Ditjen Dikdas yang ditandatangani Pejabat Pembuat Komitmen.

Aplikasi saya kemudian diterima. Cukup membawa SK itu dan mengisi formulir. Alhamdulillah, akhirnya, saya dapat kartu anggota.

Selama ini, ketika menyambangi perpustakaan, saya sekadar baca koran, majalah, atau sesekali jurnal. Itu pun hanya di lantai 1. Tak berniat melangkah ke lantai 2 yang berisi buku dan film-film dokumenter berkualitas. Namun kini, akses saya tak terbatas.

Perpustakaan adalah gudang ilmu. Banyak hal bisa dipelajari secara mudah dan gratis. Referensi pengetahuan dari berbagai dunia ada di sini. Namun, sayangnya, hanya sedikit orang yang mau meluangkan waktu datang ke tempat itu. Mungkin karena terlalu sibuk atau, sebaliknya, terlalu malas.

Tak ada yang lebih bernilai daripada ilmu. Kata Nabi Muhammad Saw, jika ingin menguasai dunia, gunakan ilmu. Jika ingin menguasai akhirat, juga dengan ilmu. Intinya, kalau ingin menguasai dunia dan akhirat, kita harus berilmu. Saya jadi berpikir, orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang yang berilmu. Bukan pemalas apalagi bodoh.

Namun, memang, bukan berarti orang yang tidak jadi anggota perpustakaan atau tak pernah datang ke perpustakaan tidak akan masuk surga. Ilmu ada di mana-mana, tak hanya di perpustakaan. Banyak sekali media yang menyuguhkan ilmu dari yang paling ringan hingga paling berat. Namun, melalui perpustakaan, orang bisa fokus memperdalam ilmunya. Bukankah kebanyakan orang sukses akrab dengan perpustakaan dan buku?

Yuk, jadi anggota perpustakaan! Tak ada ruginya jadi anggota perpustakaan. Malah, sebaliknya, banyak untungnya!