Sudah dibaca 435 kali

Sherina Salsabila

Sherina Salsabila

Pelangi bersahabat dengan Jingga. Persahabatan itu pecah ketika Jingga merusak lukisan Pelangi. Orangtua Pelangi menghibur, memberinya semangat: coretan di atas kanvas bukan tanda kiamat. Pelangi bangkit, menambahkan gambar pelangi di atas kanvas. Lukisan itu kembali memesona seperti sedia kala, memikat dewan juri, dan menabalkannya sebagai juara dalam sebuah lomba melukis.

Hubungan Pelangi dan Jingga membaik: jika tak ada Jingga, pelangi tak akan ada di atas lukisan. Maka terpatrilah dalam hati Pelangi keinginan untuk mengajarkan Jingga banyak hal; mengucapkan kata, menggambar benda, dan menyanyikan lagu. Jingga anak berkebutuhan khusus: autis.

Pelangi untuk Jingga goresan pena Sherina Salsabila, siswi SD Negeri Jatirahayu VIII, Bekasi, Jawa Barat (Saat cerpen dikirim, ia kelas VI SD.  Kini ia siswi kelas VII SMP Negeri 180 Jakarta Timur). Cerita pendek ini salah satu finalis Lomba Menulis Cerpen Bagi Siswa SD/MI yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Akhir dari cerita ini bahwa kasih sayang dan persahabatan yang tulus akan menghantarkan kebahagiaan bagi semua orang,” ucap Sherina.

Pelangi untuk Jingga bukan cerpen antah berantah. Apa yang diceritakan di dalamnya adalah cermin persahabatanya dengan tetangganya bernama Dohar. Dohar sama seperti tokoh Jingga. Ia autis, bicara selalu diulang, dan buat jengkel banyak orang.

Berbeda dengan sikap orang-orang, orangtua Sherina memintanya agar tetap berbuat baik pada Dohar. “Mama-Papa bilang anak berkebutuhan khusus seperti Dohar berhak menerima perlakuan yang sama seperti anak lainnya,” katanya. “Saya berusaha menempatkan Dohar sama normalnya dengan saya.” Sherina kemudian mengajarkan Dohar banyak hal sebagaimana tertera dalam cerpennya.

Lalu kenapa judul cerpennya Pelangi untuk Jingga? “Dohar sangat menyukai lagu Pelangi-pelangi. Dan warna kesukaannya jingga. Jadi saya ambil judul Pelangi untuk Jingga biar lebih menarik untuk dibaca,” jelas Sherina.

Sebelum dikirim ke panitia, Sherina menyerahkan cerpen itu kepada orangtua Dohar. Mereka membaca Pelangi untuk Jingga dan memujinya. Mereka mendukung penuh Sherina untuk mengikutkan cerpen itu dalam lomba. Sayang cerpen itu belum dibaca Dohar karena ia sedang bersekolah. Cerpen itu, kata sherina, didedikasikan untuk Dohar.

Berawal dari cemburu

Kreativitas Sherina dimulai saat ia duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar. Ketika adik bungsunya lahir, rasa cemburu menguasai hatinya. Perhatian orangtua tak lagi penuh kepadanya.

Kegalauannya disalurkan melalui goresan pena. Melahirkan cerita berjudul Album Cinta. Itulah cerpen pertama buatan Sherina.

Waktu berlari, dua adik Sherina bertambah besar. Keduanya gemar membaca seperti dirinya. Namun buku di rumah sangat terbatas. Orangtuanya tak mampu belikan banyak buku. “Keluarga saya berasal dari keluarga yang sederhana. Kalau beli buku yang lumayan mahal, kita harus menunggu tabungan cukup. Menyisihkan uang jajan yang tidak seberapa,” kenangnya.

Kondisi itu menggiring Sherina berpikir: kenapa tidak saya saja yang membuat cerita untuk mereka baca. Dengan asa itu ia menulis cerpen dan puisi, jadi bacaan adik-adik dan teman-temannya. Buku diarinya pun terus disesaki goresan penanya. Kemampuan menulisnya semakin terasah.

Tahun 2010 sebuah perusahaan produk rumah tangga menggelar lomba karya tulis. Sherina ikut serta dan diganjar juara III. Tahun 2012 ini ia kembali ikut lomba. Kali  ini ia juara I. “Dari menang itu dapat laptop dan uang tunai.”

Motivasinya semakin terlecut untuk terus berkarya. Ketika pengumuman LMC tiba, Sherina bertekad ikut lomba. Pelangi untuk Jingga dikirim ke Jakarta.

Sherina belajar menulis dengan coba-coba. Ia belajar sendiri, tak diajari orangtua. Kemampuan menulisnya diasah dengan membaca dan terus menulis diari.

Perpustakaan pribadi, itulah impian Sherina yang terus diwujudkannya. Kondisi rumahnya yang kecil, karena masih ngontrak, tak memungkinkannya. Namun ia senang ayahnya sangat kreatif. “Papa membuatkan rumah kami yang nyaman buat buku-buku. Papa membuat sebuah peti yang terbuat dari kayu-kayu bekas pengepakan.”

Jika peti ditutup jadi meja. “Kalau dibuka jadi harta karun buku-buku kami. Di situ saja kami menyimpan banyak buku,” ujar pengagum J.K. Rowling, Helvy Tiana Rosa, Gol A Gong, Ahmad Fuadi, dan Taufik Ismail ini.

Saat diumumkan juri, Sherina berdiri di paling ujung, berjauhan dengan finalis peringkat terakhir. Ya, Pelangi untuk Jingga juara I. Rayani Sri Widodo, juri yang mengumumkan para juara, memuji cerpen ini sebagai penuh dengan nilai kemanusiaan.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di laman dikdas.kemdiknas.go.id pada 11 Oktober 2012. Tulisan ini kembali dipublikasi untuk keperluan bagi informasi karena laman tersebut sudah tidak bisa diakses publik.