Sudah dibaca 570 kali

Tiap orang pastilah memiliki hari yang dianggapnya istimewa. Kalau tidak hari ulang tahun, hari pernikahan, hari mendapatkan prestasi juara, ya barangkali hari jadi dengan kekasih. Sejumlah orang juga punya hari yang dianggapnya menakjubkan, seperti hari diangkat menjadi ketua organisasi, naik jabatan, melihat pemandangan mengesankan, atau bertemu dengan idola. Aku tergolong orang yang memiliki hari menakjubkan, setidaknya akulah yang menganggapnya begitu.

Aku mengalaminya pada 8 Juni lalu. Jumat pagi itu telepon selulerku berdering. Sebuah pesan layanan singkat (Short Message Service—SMS) masuk. Pengirimnya seorang dosen perempuan yang baru beberapa bulan kukenal karena mengerjakan sebuah proyek bersama. Begini pesan itu tertulis: “Ultah Pak Soeharto yg ke 85 th sms bg 2 HADIAH pulsa sebarkan sms ini ke 10 hp lain akan terisi 100.000. Aku terbukti. Cepetan. Serius cuma 1 hri”.

Membaca pesan pukul 07:44:51 itu aku tertawa geli. Entah ini anjuran ke berapa kali yang dikirimkan oleh sejumlah teman untuk melakukan perintah serupa; meneruskan pesan ke sepuluh ponsel untuk mendapatkan bonus Rp 100 ribu. Tak satupun aku turuti keinginan mereka.

Soeharto? Hatiku makin tergelak tawa. Buat apa mengucapkan selamat ulang tahun pada orang yang telah ‘sangat berjasa’ menghancurkan negeri ini?! Kalau diteliti lagi, isi SMS itu pun salah. Aku masih ingat, mantan Presiden Soeharto lahir di desa Kemusuk pada 8 Juni 1921. Mestinya 2007 ini ia berulang tahun ke-86, bukan 85.

Aku membalas SMS itu dengan ucapan terima kasih. Sembilan menit kemudian ia mengirimiku SMS. Isinya, ia belum mendapatkan Rp 100 ribu dari usahanya menyebar pesan itu. Barulah aku, dalam SMS jawaban, mengutarakan kegelian tadi. Bahwa aku tidak memercayai pesan itu.

Siangnya aku pergi ke bekas almamaterku Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun, Jakarta Timur. Seperti biasa aku mampir di sekretariat tabloid kampus Transformasi, tempat dulu aku ‘mengabdikan’ diri. Ada keperluan yang hendak aku tunaikan.

Ketika berlayar di dunia maya lewat hotspot internet dengan laptop milik teman, seorang perempuan mendatangiku. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Aku hanya biasa melihatnya menjaga sepatu jamaah masjid Nuurul ‘Irfaan yang terletak di samping Transformasi. Tubuhnya tinggi, kurus, rambut pendek tipis, berkacamata tebal, berkaus pendek hitam, dan bercelana jins. Bicaranya datar, agak tertatih. Aku jarang menyapanya tiap bertemu.

Duduk di sebelahku, ia bertanya apa model ponselku yang tergeletak di atas lantai. Kujawab seadanya. Lalu bagaimana aku mengoperasikan internet. Kujawab lagi seadanya sambil menyibukkan diri menjawab pesan elektronik (e-mail).

Aku lupa bagaimana ia mengawalinya, tiba-tiba ia bertanya tentang masalah yang sedang dihadapinya. “Kak, boleh, tidak, saya bertanya?” Aku menyilahkannya. “Dosa, tidak, kalau membuat ibu kita menangis?”

Aku tertegun sejenak, tidak mengira mendapat pertanyaan seperti itu. Sebelum menjawab, aku bertanya latar belakang kenapa ibunya menangis. Lalu ia bercerita banyak tentang konflik dengan ibunya. Juga masalah dengan suaminya.

Terus terang saja, ketika ia menyebutkan sudah bersuami dan memiliki empat anak, aku terkejut. Dari postur tubuh dan perilakunya, aku tidak pernah berpikir ia sudah bersuami, apalagi beranak empat.

Lalu apa yang aku lakukan? Mendengar curahan hati (curhat) dari teman yang dilanda masalah pertemanan, keluarga, dan asmara, aku sudah biasa. Tapi mendengar curhat seorang ibu beranak empat? Ini baru kali pertama! Terlebih, ia berkata aku orang pertama yang ditanyanya tentang hal itu. Ini makin bikin aku bertanya-tanya, kenapa aku, orang yang sama sekali belum dikenalnya, yang dijadikan tumpuannya dalam menjawab permasalahan hidupnya. Aku memilih untuk menjawab kegundahan hatinya.

Meluncurlah kata-kata dari lidahku yang kusadari tak biasa kuucapkan namun terus kuucapkan. Aku membenarkan keputusannya untuk meminta maaf pada ibunya. Bagaimanapun, orang tua tidak boleh disakiti hatinya. Meski ia merasa tidak mendapatkan kepercayaan ibunya atas kehalalan uang hasil bekerjanya di sebuah perusahaan hiburan, aku menyabar-nyabarkannya untuk terus bekerja di tempat itu walau berstatus freelance—tugasnya memfotokopi dokumen dan pekerjaan ringan lainnya. Bila ada uang lebih, berikan pada ibu. Itu bagian dari usaha untuk meraih kepercayaannya. Aku juga mengaitkan segala permasalahannya—dengan ibu, suami, dan anak-anak—dengan kehendak Tuhan. Ya, aku mengucapkan berkali-kali bahwa segala hal yang dihadapi adalah bentuk kecintaan Allah pada dirinya.

Kecintaan Allah? Aku mengatakan ia sedang dicintai Allah. Saat duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas dengan beasiswa yang diusahakannya, ia memutuskan keluar dan menerima pinanganan seorang lelaki yang bukan pilihannya—sekarang suaminya. Ia mengambil keputusan itu untuk meringankan beban kehidupan orang tua dan adik-adiknya.

Namun suaminya tidak berbuat baik padanya. Ia menghabiskan uang yang diperoleh untuk kesenangannya; mabuk dan berjudi. Kembali ke Jakarta dan meninggalkan suami di Tasikmalaya, ia bekerja apa saja. Hingga ia memutuskan untuk menjaga sepatu—seperti dilakukan anak kampung lain sekitar kampus—dan mendapatkan sejumlah uang dari jamaah masjid yang kebanyakan mahasiswa.

Ia bersyukur, selain mendapat uang, ia juga mendapat siraman rohani dan pengarahan dari marbut masjid. Atas bimbingan marbut, ia melakukan salat lima waktu dan tahajud. Ia juga diberi sejumlah amalan wirid untuk menenangkan hati. Aku merasakan keharuannya saat mengatakan bahwa sudah sekitar 15 tahun ia tidak salat. Ia pun bersyukur bisa bergaul dengan teman-teman Transformasi, mendapatkan ilmu dari bacaan buku dan koran yang berlimpah di Transformasi.

Kalau aku tidak mengatakan bahwa ia sedang dicintai Allah—ini pun bagian dari ujian-Nya—lalu apalagi yang harus kuucapkan? Sesekali ia mengucurkan air mata dan menyekanya dari balik kacamata tebalnya. Aku terharu. Aku trenyuh. Aku merasa seperti berada dalam jamaah Kenduri Cinta ketika Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) memberi semangat pada jamaah yang dirundung kesedihan dan mengangkat mereka sebagai orang-orang teraniaya yang akan selalu diperhatikan Allah serta didengar doa-doanya. Ketika mendengarnya hatiku tersentuh, bergidik bulu kudukku, menangis benakku.

Seperti biasa, aku tidak membiarkan suasana curhat berakhir dengan kesedihan dan keputus-asaan. Aku berusaha menghiburnya, membuatnya bangga dengan kondisinya sekarang, membangkitkan semangatnya, dan membuatnya tersenyum. Alhamdulillah, diakhir cerita ia bisa tersenyum.

Kukira senyum itu akhir dari curhatnya. Ternyata tidak. Ia bertanya lagi tentang dunia jin dan manusia. Ia meminta pendapatku tentang itu. “Kak, apa betul dunia jin lebih indah dari manusia? Itu kata temanku.” Temannya, ia bercerita, pernah bertemu dengan jin perempuan saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor dan terus menjalin hubungan dengannya. Ia ingin membantu teman lelaki itu keluar dari perangkap jin. Ya Tuhan, walau ilmuku sedikit tentang jin, aku berusaha menjawab sebisaku. Aku menyarankannya agar terus membantunya keluar dari perangkap jin secara perlahan.

Usai pembicaraan ia izin ke luar. Aku memberinya penguatan terakhir bahwa tindakan yang dijalaninya sudah benar. Teruskan belajar agama pada marbut, banyak membaca, bergaul dan berdiskusi dengan teman-teman Transformasi, bekerja di perusahaan itu, serta menolong temannya dari perangkap jin.

Aku menarik napas lega. Sungguh aku merasakan sudah melakukan sesuatu yang sangat jarang kulakukan: menasihati orang lain dengan banyak menyebut nama Tuhan, mengutip hadis dan al-Qur’an—walau aku tidak fasih. Lalu dari mana ‘ilmu’ itu kudapat?

Dalam hati aku mengucap hamdalah berkali-kali. Ilmu yang kusampaikan pada perempuan itu sedikit-banyak berasal dari bacaan buku karangan Danarto, sastrawan sufistik dan pelukis, berjudul ‘Cahaya Rasul’. Buku terbitan Dian Rakyat ini terbit tiga jilid, diberi pengantar oleh kiai tersohor KH. A. Mustofa Bisri. Aku membelinya di Pesta Buku Jakarta 2007 yang digelar di Istora Senayan, 2-10 Juni 2007. Buku ini merupakan buah pikiran Danarto atas hadis-hadis pilihan dan ditulis pendek dalam 2-3 halaman.

Aku baru menyelesaikan baca jilid pertama. Isi dan cara penyampaiannya sangat bagus. Permasalahan keseharian ia kaitkan dengan hadis yang dikutipnya lalu dijabarkan secara rasional sehingga mudah dimengerti. Tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allah Akbar) selalu ia selipkan di antara barisan kalimat. Pertanda ketakjubannya pada ajaran agama (Islam) yang unik dan kadang di luar jangkauan pikiran manusia.

Ketika berucap kata di hadapannya, aku merasakan seperti berkata-kata layaknya seorang Cak Nun bicara di hadapan jamaah Kenduri Cinta—acara bulanan yang diselenggarakan di parkiran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Tiap menyimak Cak Nun bicara, aku selalu tergugah dengan materi serta metode yang diterapkannya. Ia bicara sesuai maqam (pemahaman) jamaah. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti. Selalu ada cerita lucu terselip. Saat ia bicara tentang orang-orang tertindas, ia akan mengangkat orang-orang itu sebagai kaum yang dicintai Allah. Kaum yang selalu menderita akibat perbuatan penguasa zalim namun senantiasa sabar dan berserah diri kepada Tuhan. Balasannya, doa-doa mereka selalu dikabulkan Tuhan.   Maka bagiku, dan barangkali jamaah lain, selalu ada semangat dan motivasi untuk selalu ikhtiar dan berdoa pada Tuhan usai mengikuti itu acara.

Curhat
Aku membuka kota masuk (inbox) telepon selulerku yang tadi berbunyi namun belum kuangkat—karena ‘konsentrasi’ menghadapi ibu beranak empat tadi. Isinya begini. “Aslmkm. Mas Billy, numpang marah2 ya… knp cowok itu sk seenakny sndr, sih? Pngn selingkuh, enak aja selingkuh…bosen, tinggal aja pcrny gt aja..ugh.. sebel!”

Pengirimnya seorang mahasiswi Universitas Indonesia. Teman biasa, tak lebih. Usai membaca aku hanya menyungging senyum kecil. Tak ada keinginan untuk membalasnya segera. Aku tahu, saat mencurahkan isi hati, atau biasa disebut curhat, perempuan lebih senang didengar ketimbang diberi jawaban. Mereka butuh telinga, bukan mulut. Lagi pula ia sedang kesal, maka lebih baik menunggu reda amarahnya lalu ajak bicara.

Soal curhat, aku memang membuka diri terhadap siapa saja. Aku bersedia mendengarkan keluh-kesah orang lain dan memberi masukan bila ia membutuhkan. Tentu saja aku tidak akan membocorkan permasalahan itu pada orang lain. Sebab pada dasarnya isi curhat adalah rahasia yang hanya ia curahkan pada seseorang yang ia percaya mampu memecahkan dan menyimpan kerahasiaan.

Lalu apa untungnya bagiku kalau begitu? Aku terinspirasi oleh perkataan Muhammad Saw., bahwa sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Menjadi teman bagi orang yang berkeluh-kesah, menurutku, perbuatan baik. Kita juga bisa mengetahui karakter sesungguhnya seseorang dari ungkapan perasaannya berupa luapan emosi, kesal, ragu, dan bimbang. Semakin sering kita menjadi tempatnya mengutarakan perasaan, kelak kita akan dianggapnya sebagai sahabat terbaik. Aku memang ingin menjadi sahabat siapa saja.

Dulu, waktu kuliah, aku sering mendengar curhat tentang cinta. Tentang jalinan asmara dua anak manusia berlainan jenis. Seputar dunia berpacaran. Seputar senang, benci, cemburu, dan patah hati. Mengenai ini, kadang aku berinisatif mencari teman-teman yang ingin curhat tentang cinta. Mengapa? Karena cerita mereka bisa menjadi inspirasi bahan tulisan cerpen atau novelku. Maklum, aku belum pernah berpacaran. Kalau begitu, bagaimana aku bisa memberi masukan sementara aku sendiri tidak pernah berpacaran?

Mudah saja. Kadang aku membaca majalah remaja yang berkaitan dengan problema asmara. Biasanya rubrik curhat ini diasuh seorang psikolog. Untuk memahami sifat dan karakter perempuan, aku membaca buku tentang psikologi perempuan. Sementara untuk mengerti laki-laki, selain aku laki-laki dan sering bergaul dengan banyak laki-laki tentu saja, aku sedikit mempelajari feminisme. Semakin banyak aku membaca dan bergaul dengan banyak karakter, semakin bertumpuk ‘amunisi’ yang kugunakan untuk menjawab segala problematika asmara mereka.

Setelah membaca SMS itu, masih di Transformasi, sebuah SMS masuk. Lagi-lagi curhat dari teman perempuan. Ia kecewa karena untuk kedua kalinya ia gagal dalam tes masuk penerimaan pegawai di sebuah institusi pemerintah. Aku tahu ia tak memerlukan jawaban–karena ia pernah mengatakan aku tak perlu menjawab curhatnya–namun aku tetap melakukannya. Kukatakan padanya bahwa ia mesti sabar menerima kegagalan ini dan bisa mencobanya lagi di putaran selanjutnya.

Kenduri Cinta
Langit malam terlihat cerah ketika motorku memasuki kawasan Taman Ismail Marzuki Jumat malam itu. Acara Kenduri Cinta baru saja dimulai. Ah, Cak Nun belum terlihat, pikirku usai memandang tenda sederhana di parkiran TIM.

Kenduri Cinta digelar pada Jumat kedua tiap bulan, berisi rangkaian diskusi dan pertunjukan musik. Cak Nun memulai acara ini di TIM sejak 1998. Sebagai ‘pemilik’ acara, Cak Nun selalu menampilkan kesegaran di hadapan peserta. Ada ilmu atau pengetahuan baru yang ia sampaikan. Tentu saja dengan caranya yang serius bercampur guyonan, namun selalu enak dicerna. Tak jarang gelak tawa menggema dari mulut penonton.

Walau dapat dikatakan ini acara kebudayaan, lantaran banyak diperdengarkan lantunan musik atau pun puisi, namun kehadiran acara diskusi tidak mengukuhkan acara ini semata hiburan belaka. Tema diskusi selalu berisi. Menyorot isu-isu aktual dengan berbagai sudut pandang berbeda. Untuk mendapatkan sudut pandang berbeda yang pada akhirnya dipersembahkan kepada penonton untuk memilih mana yang dianggap lebih benar, Cak nun tak segan-segan mengundang tokoh-tokoh yang kompeten membawakannya. Mulai dari pedagang, kiai, pendeta, tokoh masyarakat, pejabat, hingga menteri, duduk lesehan bersama-sama mendiskusikan persoalan. Peserta dipersilakan mengutarakan pertanyaan, pendapat, maupun kritik. Bebas.

Herannya tak semua media massa ibukota memberitakan acara bagus ini. Barangkali tidak seksi sebagai berita layak jual. Padahal, menurutku, tiap acara selalu berbobot, terutama pada wacana diskusi yang diangkat.

Cak Nun kadang didampingi oleh Kiai Kanjeng, grup musik yang ia pimpin dan telah mengantarkannya berkeliling ke berbagai negara. Grup musik ini tak jarang memainkan tembang-tembang lawas dan kontemporer dengan alat musik daerah seperti kulintang. Alunan shalawat nabi juga dikemas dengan iringan lagu bernuansa berbeda termasuk menggunakan lagu nasrani Malam Kudus. Inilah contoh kecil pluralisme yang digagas Cak Nun; memanfaatkan potensi beragam untuk memperkaya khazanah keilmuan dan berkesenian tanpa meninggalkan identitas (keislaman).

Namun Cak Nun belum terlihat duduk di bawah tenda menyapa hadirin. Aku lapar dan ingin makan. Aku beranjak dari parkiran motor menuju pelataran TIM yang ramai. Sambil duduk di lantai, aku berpikir makanan apa yang hendak kupesan dari pedagang kaki lima yang berderet rapi di pinggir jalan. Ah, aku bingung mau pilih mana.

Dalam bingung itu aku teringat curhat teman perempuan yang membenci lelaki tadi siang. Barangkali bara marahnya sudah padam, pikirku. Sebab kupikir rentang waktu yang terbentang sudah cukup meredakan kekesalannya. Aku mengeluarkan telepon seluler dan mulai memancingnya dengan pertanyaan, siapa sih lelaki yang meninggalkannya selingkuh.

Ia menjawab bukan ia ‘korbannya’, melainkan temannya. Lalu kutanya lagi, menghadapi lelaki seperti itu, ia maunya apa. Ia jawab, ia ingin memukulnya. Aku tertawa saja dalam hati.

Begitulah. Hingga kini aku masih membuka diri untuk menerima curhat siapa saja. Hanya saja belakangan aku khawatir, orang yang biasa curhat padaku akan menyukaiku. Ini benar-benar pernah terjadi. Seorang teman perempuan curhat mengenai dilemanya menghadapi keinginan pacarnya yang ingin segera menikahinya. Ia sebenarnya belum ingin menikah karena ingin kuliah dulu, tetapi desakan pacarnya begitu kuat, terlebih secara finansial lelaki itu bisa memenuhi segala keinginannya.

Perempuan itu curhat padaku lewat SMS tiap hari—hanya sekali kami bertemu muka, itu pun tidak berbincang-bincang. Aku meladeninya. Aku memintanya bertemu di satu tempat untuk menuntaskan permasalahannya. Awalnya ia menyetujui. Namun tak lama kemudian ia membatalkan. Katanya, jika bertemu, aku harus bertangung jawab kalau dia menyukaiku seterusnya. Ya, selama hubungan SMS itu ternyata ia menyukaiku. Kukatakan, aku tidak mungkin melakukannya. Hati urusan pribadi dan harus selalu dijaga.

Belakangan aku bertanya pada seorang teman perempuan, kenapa hanya lewat hubungan SMS perempuan bisa menyukai laki-laki. Jawabnya, itulah perempuan. Ia menyukai laki-laki dengan perasaan, bukan lewat pandangan verbal.

Jadi, aku mesti berhati-hati bila bicara soal hati. Barangkali hatiku akan luruh jua kala bertemu dengan si dia ‘teman sejati’.

Duren Sawit, 4 Juli ‘07.