Sudah dibaca 745 kali

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk berhubungan dengan tukang plat nomor. Tapi, pada Senin malam 4 Juni lalu aku sangat memerlukan mereka. Berkendara Vega  keluaran 2007 tanpa plat nomor di bagian belakang, aku menyusuri sejumlah ruas jalan di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Aku memulai pencarian dari Jalan Duren Sawit Raya, kemudian berturut-turut Jalan Buaran Raya, Jalan Raden Inten II, berputar kembali di depan Masjid An-Nuur ke Jalan Radin Inten II, Jalan Perumnas Raya, Jalan Delima Raya, Jalan Malaka Raya, Jalan Wijaya Kusuma, Jalan Wijaya Kusuma I, berputar kembali ke Jalan Wijaya Kusuma I, Jalan Teratai Putih Raya lewat depan Terminal Malaka Jaya, Jalan I Gusti Ngurah Rai hingga perempatan Pasar Klender, Jalan Pahlawan Revolusi hingga perempatan Pondok Bambu, Jalan Kolonel Soegiyono, Jalan Swadaya Raya, lalu pulang ke rumah. Hasilnya nihil. Tak satupun tukang plat nomor tertangkap oleh sapuan mataku. Hampir satu jam kuhabiskan untuk mencari pedagang kaki lima yang bertahun-tahun kuabaikan keberadaannya.

Tiba di rumah kuceritakan hal itu pada ibu dan adik perempuanku. Mereka kompak menakut-nakuti: “Awas lho Bil, siapa tahu platnya digunakan orang untuk berbuat jahat.” Adikku menambahkan, “Cepat lapor polisi!” Tak ada satupun yang menyarankanku untuk sabar, tenang, dan tidak panik.

Dugaan plat nomor motorku akan dibuat untuk kejahatan sudah terbetik dalam pikiranku kala sore harinya aku masih di tempat kerja. Seorang rekan kerjaku awalnya menanyakan kemana plat nomor motorku bagian belakang. Aku kaget. Kupikir ia bercanda saja. Lalu bergegas aku turun ke lantai satu tempat parkiran dan membuktikan kata-katanya. Motor itu terparkir rapi bersama motor-motor lain. Helm dan rompi masih tergantung apik di stang, namun plat nomor bagian belakang raib bersama rangka pelindungnya. Seorang Office Boy, yang meminjam motorku, memastikan plat itu masih ada saat ia memarkir motor. Kesimpulannya, itu plat dicuri orang di tempat parkir. Tak mungkin plat jatuh karena ia dipasang dengan mur yang dikunci kuat.

Aku menghubungi satpam. Itu satpam rada tidak percaya dengan dugaan pencurian. Sebab situasi sekitar parkir agak ramai. Tukang bangunan dan cleaning service sering mondar-mandir. Kalaupun mencuri, untuk apa?

Rekan-rekan kerjaku yang lain tidak percaya dengan dugaan pencurian itu. Mereka lebih percaya bahwa itu plat terjatuh di jalan. Entah dugaan mana yang bisa dipegang, yang pasti itu plat sudah lenyap dan aku harus bergegas mendapatkan plat pengganti. Walau langit sudah dilingkupi selimut hitam.

Sepanjang jalan aku berpikir-pikir, hikmah apa yang akan aku dapat; plat nomor dicuri, berkeliling Duren Sawit mencari tukang plat, dan akhirnya aku tidak menemukan mereka.

Hikmah
Segala peristiwa mengandung hikmah; makna di balik kejadian yang bersifat immateri. Keberadaannya diungkap lewat proses rumit yang berkelindan. Mengurai kerumitan bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpikir dan menggunakan akal pikiran. Namun, proses penguraian tak akan berjalan sukses tanpa melibatkan sang pencipta kerumitan: Tuhan Yang Maha Kuasa. Usaha melibatkan-Nya tak akan pernah mulus kecuali berpikir positif dahulu terhadap-Nya. Dengan berpikir positif terhadap-Nya, keping-keping hikmah milik-Nya akan merasuk dalam pikiran dan hati kita.

Pernah aku berpikir-pikir apa hikmah bekerja di kantor ini. Bekerja di penerbitan majalah sebagai reporter merupakan pengalaman pertamaku.

Itu berawal sebulan usai wisuda pada Maret 2006, aku diberitahu seorang teman bahwa ada majalah bulanan terbitan baru yang butuh reporter. Diberinya aku nomor telepon sang redaktur majalah. Besoknya aku menemui redaktur tanpa diharuskan membawa surat lamaran atau pun curriculum vitae. Kantornya di bilangan Kemayoran Jakarta Pusat.

Redaktur menerima baik kehadiranku, malah ia langsung menugaskanku meliput peluncuran produk mobil terbaru di Planet Hollywood. Aku menolak dengan alasan belum siap.

Liputan pertamaku acara seminar di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pertengahan April 2006. Penugasan pertama dari redaktur ini memang sangat kutunggu-tunggu. Setelah tulisan selesai kubuat, Wakil Pemimpin Redaksi datang dan memintaku menceritakan isi seminar. Diakhir pembicaraan ia berkata, “Sudah, tulisannya tidak usah dimuat. Tidak sesuai dengan isi majalah!” Deg, aku terpana, tak percaya dengan apa yang baru kualami.

Padahal, saat aktif di pers kampus dan menjabat Pemimpin Redaksi, aku selalu menentukan laik-tidaknya pemuatan sebuah tulisan. Dan hampir tidak pernah aku memutuskan sebuah tulisan tidak dimuat. Sebab aku akan meminta reporter untuk menulis ulang atau pun memperdalam isi liputan. Sehingga itu tulisan tidak sia-sia ditulis. Bagaimanapun peliputan merupakan eksekusi dari hasil sebuah rapat proyeksi—rapat penentuan tema—yang dihadiri seluruh jajaran redaksi. Pembatalan tulisan adalah usaha sia-sia yang tidak menghargai waktu dan tenaga.

Seterusnya aku berusaha menikmati pekerjaan. Syukurlah aku memiliki idealisme yang sama dengan redaktur. Ia memberiku keleluasaan menuliskan hasil liputan. Kesempatan ini kugunakan untuk mengasah kemampuanku menulis berita berbentuk feature. Selama enam setengah tahun aku kuliah dan aktif di pers mahasiswa, tiga tahun pertama aku mencari format penulisan khasku, dan selebihnya bereksperimen dan membentuk sendiri konsep dan pemahaman penulisan feature yang sederhana. Formulasi buatanku lalu kuterapkan dalam penulisan di majalah dan menarik minat redaktur.

Dalam kurun waktu setahun bekerja, banyak sekali pelajaran yang kudapat, terutama dalam hal relasi antarsejawat. Karakter tiap orang kubaca dan pahami. Ada tipe jarang bicara namun rajin bekerja, pengintrik, pembohong, pencari selamat, penjilat, masa bodoh. Aku juga belajar bagaimana menempatkan diri di antara dua kubu yang sebelumnya berseteru. Redaktur memberiku pelajaran untuk selalu bersikap tenang dalam menghadapi masalah, tidak gegabah, hati-hati dalam bicara, dan tegas dalam bersikap. Ia juga mengilhamiku agar bersikap welas asih pada siapapun karena pada dasarnya pilihan seseorang dalam bersikap dapat dimengerti asal-usulnya.

Apa hikmah di balik ini semua? Ya, aku merasa Tuhan ingin membekaliku pengetahuan mengenai kejamnya dunia kerja yang terjadi di antara sesama pekerja. Aku bersyukur aku tidak larut dalam pusaran tak menguntungkan itu. Bila bekal ini sudah cukup, Ia akan menempatkanku di suatu tempat di mana aku telah siap menghadapinya.

Namun adakalanya hikmah tak langsung didapat. Apakah ini lantaran otak bebal atau kurang dekat pada Tuhan? Aku tidak tahu. Yang kutahu aku belum bisa mengambil hikmah kenapa plat nomor motorku hilang, bukan plat milik orang lain.

Baiklah kuurai satu per satu garis besar ceritanya, semoga dengan begini aku bisa mengambil hikmahnya. Pertama, aku kehilangan plat nomor motor. Kenapa bukan motor orang lain? Kedua, malam-malam aku mencari tukang plat. Kenapa tidak ketemu? Ketiga…ya barangkali episode cerita ketiga ini bisa membantuku.

Besoknya 5 Juni pagi, aku mencari tukang plat. Yang ada dalam otakku adalah tukang plat di pinggir Jalan I Gusti Ngurah Rai dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Sebab hampir sepuluh tahun aku lewat jalan itu (sejak sekolah), selalu kulihat tukang plat yang mangkal di samping halte.

Ternyata benar. Tapi lapak tukang plat itu berpindah tak jauh dari halte itu. Aku ke sana dan memesan satu plat pada seorang ibu. Katanya, nanti sore aku sudah bisa mengambilnya. Lapaknya buka pukul 06.30 dan tutup pukul 18.00.

Usai memesan aku pergi ke kantor. Langit Jakarta gelap dan hujan turun lama. Sore aku datang ke lapak tukang plat, tapi belum tersedia. “Tadi hujan seharian, jadi belum bisa menjemur plat,” jelas Pak Tua, barangkali suami ibu tadi. Aku diminta datang besok pagi pukul 09.00. “Bisa langsung pasang,” tambah Pak Tua.

Aku datang pukul 10.00. Ia menunjukkan plat buah tangannya dan membungkusnya dengan kertas koran.

“Lho, Pak, langsung pasang saja!” kataku.

Pak Tua membatalkan niatnya membungkus plat. “Kamu bawa mur?”

Aku kaget bercampur heran. “Lho, kemarin kan Bapak bilang platnya bisa langsung dipasang di motor.”

“Iya, tapi kalau kamu bawa mur.”

“Memang Bapak tidak punya mur?”

Pak Tua menggeleng. Si Ibu memberitahu, “Coba kamu tanya tukang tambal ban sepeda di situ. Barangkali ia jual mur.” Ia menunjuk tukang tambal ban sepeda dekat halte.

Aku mendekati tukang tambal ban. Seorang lelaki tua dengan uban memenuhi kepala sedang sibuk dengan ban sepeda. Barangkali ia seang menambalnya.

“Pak, ada mur ukuran 10?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya, pelan.

“Di sini yang jual di mana ya?”

“Itu, dekat tukang rokok!”

Aku ragu-ragu. Jangan-jangan tukang rokok jauh dari situ. Aku pengin cepat-cepat selesai. “Jauh tidak, Pak, dari sini?”

“Apa artinya jauh kalau kamu butuh?” jawab Pak Tua dengan nada tinggi. Sepertinya ia jengkel dengan pertanyaanku.

Usai mengucap terima kasih aku meninggalkannya, tidak mempedulikan gerutunya yang terdengar samar seperti melanjutkan omelannya tadi. Aku mencari tali, mendapatkannya, dan meminta Pak Tua penjual plat memasangkannya pada motorku.

Sekarang aku berpikir, apakah episode ketiga ceritaku barusan dapat menunjukkan hikmah yang sedang kukuak? Rasanya aku belum mendapatkannya.

Duren Sawit, Jakarta Timur. Kamis, 7 Juni 2007.