Sudah dibaca 475 kali

 Penyet Tempe Sorong

Siang yang terik di Kota Sorong, Papua Barat, membuat orang malas beraktivitas di luar ruangan. Tapi perut lapar memaksa saya harus melangkah ke luar. Maka saya melangkah dengan perasaan malas, keluar dari Hotel Je Meridien bersama seorang teman.

Resepsionis memberi tahu kami bahwa tak ada warung makan pinggir jalan yang buka di siang hari. Kalaupun bernafsu mencari, haruslah berjalan melintasi depan bandar udara Domine Eduard Osok. Di dekat sana, katanya, ada pasar. Carilah warung makan di situ.

Dari sebelah kanan Je Meridien, kami berjalan menyusuri trotoar Jalan Basuki Rahmat di seberang bandara. Cuaca panas sekali. Kulit terasa terbakar. Sekitar 100 meter kemudian, pandangan kami tertumbuk pada sebuah warung makan di belakang ATM BNI. Tak berpikir panjang, kami melangkah ke sana.

Penyet Tempe, warung

Tawaran menu yang ada cuma tiga: Rawon, Soto Ayam, dan Penyet Tempe. Rawon belum ada. Saya memilih penyet tempe. Teman saya pesan soto ayam.

Tak berapa lama pesanan tiba. Penyet tempe yang saya pesan membuat air liur saya keluar, ingin segera menikmatinya. Tak seperti di tempat lain, penyet tempe di sini disajikan dengan tambahan ikan asin, terong goreng, dan tahu goreng. Sayurannya juga lengkap; daun kemangi, kol, dan kacang panjang. Tak lupa mentimun. Saya tambah telur dadar sebagai tambahan protein.

Rasanya lumayan enak. Dimakan dengan nasi panas dan sambal pedas yang telah dicampur dengan remasan jeruk nipis, membuat telapak tangan tak henti-henti bergerak. Nafsu makan menggelegak. Beberapa jurus kemudian makanan di atas piring tandas. Maknyus! Panas terik Kota Sorong sejenak terlupakan.

Usai makan, kami kembali ke hotel. Saat itulah kami kembali sadar bahwa Kota Sorong begitu panas.*

Sorong, Papua Barat, 19 Desember 2015