Sudah dibaca 565 kali

Kalau kita berada di jalanan Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, hal pertama yang menarik perhatian pastilah keberadaan bentor alias becak motor. Apalagi di malam hari. Semua bentor tampak bercahaya. Terang berhias lampu warna-warni. Suara lagu dari sound system yang di pasang di badannya pun menggelegar.

Bentuk bentor di Kota yang baru melakukan pemekaran dari Bolaang Mondow ini berbeda dengan bentor di Medan dan Makassar. Di Medan, posisi sopir berada di samping penumpang. Di Makassar, posisi sopir di belakang penumpang. Di Kotamobagu, sopir berada di belakang penumpang, sama dengan di Makassar, tapi lebih keren dan rapi.

Yang dimaksud keren dan rapi adalah bentuknya yang futuristik. Bentuk bagian permukaannya seperti desain mobil masa kini. Ada bempernya. Ada lampu depan yang menyala terang di malam hari. Atapnya pun seperti kap mobil dengan kedua ujung lancip. Untuk melindungi penumpang dari terpaan angin dan hujan, ada papan pelindung di bagian depan yang bisa dilipat di bagian atas.

Sebagai wujud keselamatan berkendara, tiap bentor dilengkapi helm. Meskipun realitanya mereka hanya menempatkannya sebagai pajangan semata.

Ongkos naik bentor cukup murah. Jarak dekat Rp5.000. Tiap malam, dari Hotel Tamasya Garden tempat saya menginap ke pusat kota tempat saya cari makan, saya hanya membayar Rp5.000 untuk jarak sekitar 2 kilometer.

Saya dapat cerita panjang tentang bentor di Kotamobagu dari Aljufri, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Kotamobagu. Rabu pagi (23/12/2015) saya menyambangi kantornya untuk sebuah keperluan.

Menurut Aljufri, bentor di Kotamobagu sangat unik. Keberadaannya sudah hampir sepuluh tahun. Kepemilikan bentor ada dua macam. Pertama, dimiliki secara individual. Artinya, sopir bentor mengemudikan kedaraannya sendiri. Kedua, dimiliki oleh seseorang lalu orang orang itu menyewakannya ke orang lain. Artinya, sopir bentor menyewa kendaraan orang lain dan memberikan setoran setiap hari.

Keberadaan bentor sangat membantu masyarakat Kotamobagu. Dulu, kisahnya, saat kendaraan umum hanya angkot, situasi Kotamobagu kurang kondusif. Rawan terjadi aksi kejahatan. Sejak ada bentor, situasi menjadi aman. Terlebih bentor bisa masuk ke gang yang sulit dilewati angkot. Bentor telah menjadi alat transportasi yang murah, cepat, dan efektif bagi masyarakat Kotamobagu.

Penumpang setia bentor adalah pelajar. Omset mereka menurun saat liburan sekolah tiba. Turun drastis ketika siswa dan orangtuanya libur.

Yang unik lagi, kata Aljufri, jika sopir bentor gelar demonstrasi (protes masalah kenaikan retribusi, dll), yang bikin repot bukan sopirnya, melainkan bentornya. Sopir memarkir bentornya di jalan ruas utama Kotamobagu, yaitu di Jalan Ahmad Yani, sehingga menyulitkan kendaraan lain lewat.

Namun, kata Aljufri, ke depan keberadaan bentor akan ditertibkan. Bentuk bentor akan ‘diperbaiki’. Posisi penumpang yang berada di depan sopir dirasa membahayakan keselamatan penumpang. “Kalau bentor mengerem mendadak, penumpangnya bisa terlempar ke depan,” ujar Aljufri. Makanya kini tengah disusun rancangan Perda yang mengatur bentuk bentor di mana posisi sopir berada di depan penumpang.

Keberadaan bentor sangat dibutuhkan masyarakat Kotamobagu. Ia menjadi ciri khas nyata yang membuat suasana malam lebih semarak dan berwarna.*