Sudah dibaca 634 kali

Anies Baswedan melantik pejabat

Mendikbud Anies Baswedan melantik pejabat baru di Jakarta, Jumat (8/1/2016)

Jumat siang (8/1/2016), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan melantik 500 pejabat eselon III dan IV di lingkungan Kemendikbud, yaitu Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS), Balai Bahasa, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB). Pelantikan dilakukan di Plasa Insan Pendidikan Berprestasi, Kompleks Kemendikbud, Senayan, Jakarta. Ada hal menarik dalam pidatonya. Tentang kepemimpinan.

Katanya, pemimpin bukan karena jabatan. Syarat pemimpin hanya satu, yaitu didengar dan diikuti. Kalau seorang pejabat tidak diikuti, meskipun jabatannya sangat tinggi, dia bukan pemimpin.

Lantas Anies membuat sebuah analogi. Seorang muslim yang sedang salat sendirian bisa saja mendadak berubah menjadi imam. Itu terjadi jika ada seorang atau lebih mengikuti gerakannya di belakang. “Saya jadi imam bukan karena jabatan dan posisi saya di depan. Yang buat saya jadi imam adalah saat ada satu orang mengikuti saya salat,” katanya.

Pejabat, tambah Anies, tak lantas menjadi pemimpin. Yang menyebut seseorang pemimpin bukanlah atasannya melainkan bawahannya. Pemimpin muncul karena dipercaya.

Agar seseorang dipercaya bawahannya sehingga menjadi pemimpin, ada tiga tips yang utarakan Anies. Pertama, tunjukkan diri sebagai orang yang kompeten dan mau belajar. Kedua, jaga integritas. Ketiga, jaga kedekatan.

Ketiga hal di atas akan hilang jika seorang pejabat memiliki self interest yang tinggi. Ya, kepentingan pribadi merupakan pembagi bagi ketiga hal tersebut.

Anak buah selayaknya dibina sebagai pemimpin bagi anak buahnya yang lain. Jika tidak disiplin, didiplinkan, bukan digeser. “Kalau karakternya ada yang bermasalah, panggil, tegur, dan ingatkan. Jaga nama baik,” jelas Anies.

Negeri ini memang butuh pemimpin, bukan pejabat yang mengaku-aku sebagai pemimpin. Banyak sekali pejabat yang minta dilayani, bukan malah melayani.*