Sudah dibaca 662 kali

fisti&herlan

Fistiana Haniarti dan Herlan Riontori bersama keluarga usai akad nikah di Gedung Balai Rakyat Bekasi, Ahad (17/1/2016)

Seorang sepupu meminta saya menjadi among tamu dan pembaca doa pada pernikahannya yang digelar Ahad lalu (17/1/2016) di Bekasi, Jawa Barat. Jadi among tamu berarti didandani dengan pakaian beskap, berblangkon, dan menyandang keris di pinggang belakang. Lalu berbaris rapi bersama among tamu lain di dekat pintu masuk sembari terus menyungging senyum kepada para tamu seraya mengucapkan “Selamat datang”, “Terima kasih”, atau “Silakan” dengan jempol mengacung miring di depan dada.

Tapi, buat saya, itu belum selesai. Ada tugas lain: baca doa. Baca doa adalah satu-satunya mata acara yang tidak ditangani oleh event organizer yang, hari itu, bagi saya, menggelar acara dengan banyak inovasi, di antaranya mengombinasikan upacara adat dengan kembang api, pembacaan sambutan kedua mempelai, dan pemberian kuis kepada tamu oleh kedua mempelai—setidaknya hal itu tidak pernah saya saksikan pada acara pernikahan yang pernah saya hadiri.

Saya selalu berusaha melakukan sesuatu dengan sentuhan baru dan inovasi. Tak ingin biasa-biasa saja. Hal itu juga ingin saya terapkan pada doa yang saya buat dan baca. Doa dengan bahasa Arab sudah biasa—tanpa bermaksud mengurangi sakralitas dan keindahan lantunannya. Tapi doa bahasa Arab yang dikombinasi dengan gubahan dari puisi dan kata-kata puitis, bagi saya, adalah suatu hal yang menarik.

bill&win

Saya dan istri tercinta, Winy Purtini

Saya berpikir untuk menggunakan puisi sejumlah sastrawan (yang baru terpikir adalah puisi berjudul Aku Angin karya Sapardi Djoko Damono). Juga kata-kata puitis satrawan Lebanon Kahlil Gibran. Karena waktu yang sempit (saya buat doa hanya sehari sebelum hari-H), saya hanya menggunakan Aku Ingin dalam doa itu—puisi ini saya pernah letakkan di kartu undangan pernikahan adik saya 7 tahun lalu. Saya belum menemukan kalimat yang pas untuk doa dari untaian kalimat puitis di buku Kahlil Gibran berjudul Sayap-sayap Patah Sang Nabi.

Berikut ini doa yang saya buat. Tidak utuh. Hanya doa dalam teks Indonesia. Saya tidak menuliskan doa berbahasa Arab yang menjadi penyerta pada awal dan akhir doa. Sajak Aku Ingin saya masukkan dalam dua alenia terakhir doa ini.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Penyayang

Limpahkanlah restu dan keberkahan

bukalah pintu rahmat dan kebajikan

atas pernikahan yang Engkau saksikan

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Kuasa

ampunilah telaga khilaf dan gunung dosa

kasihilah hati dan rasa

jadikanlah kami manusia

Hambamu

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Menggenggam Bumi

luruskanlah niat dan hati kami

jauhkanlah tipu daya syaitan kepada kami

agar jalan baru ini bisa kami tapaki

menuju ridha-Mu, ridha-Mu

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Kuat

jadikanlah kami pasangan hidup bahagia dunia-akhirat

memiliki keturunan yang beriman dan hebat

penyejuk hati pembawa selamat

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Tangguh

dekatkanlah kami dikala jauh

jauhkanlah kami dari riuh

sibukkan kami dengan sujud kepada-Mu, kepada-Mu

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Bijaksana

hiburlah kami disaat duka

ingatkan kami dikala suka

agar pintu rahmat-Mu senantiasa terbuka

bagi cinta kami berdua

Ya Allah,

mampukanlah aku mencintainya dengan sederhana

seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu

 

Ya Allah,

izinkanlah aku mencintainya dengan sederhana

seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

yang menjadikannya tiada