Sudah dibaca 474 kali

 kmgp ok

Menyambut pemutaran film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), Forum Lingkar Pena menyelenggarakan Lomba Review Ketika Mas Gagah Pergi The Movie. Awalnya saya enggan ikut lomba ini seperti kemalasan saya mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Namun karena sejak awal saya ingin membuat resensi film ini untuk dimuat di blog, pikir saya, kenapa tak sekalian saja diikutkan dalam lomba.

Alhamdulillah, dari 60 peserta yang ikut lomba, saya pemenang II. Jurinya Isa Alamsyah, Sinta Yudisia, dan Rahmadiyanti Rusdi. Kabar itu saya terima pada 28 Februari 2016. Sehari setelah peringatan Milad FLP di Yogyakarta.

Pemenang pertama adalah Edi Sutarto dengan judul reviewIni yang Lama Dinanti; Ketika Mas Gagah Pergi Film Keluarga yang Renyah dan Bermutu”. Pemenang ke-2 naskah saya berjudul “Dakwah Inklusif dalam Film Ketika Mas Gagah Pergi”.  Pemenang ke-3 yaitu Achmad Sidik Toha dengan judul: “7 Bukti Islam itu Cinta dalam Film Ketika Mas Gagah Pergi”. Pemenang Harapan yakni Hendro Tri Rachmadi dengan judul “Film Ketika Mas Gagah Pergi yang Bikin Kesal, Sebuah Review”.

Pada 17 Maret 2016 diumumkan sepuluh resensi terbaik pilihan FLP. Mereka adalah: (1) Raja Lubis  [Ketika Mas Gagah Bertasbih?], (2) Rudi G Aswan [Pesona Metamorfosa Mas Gagah], (3) Gusti AP (Mas Gagah Kalau Pergi Hati-Hati Ya], (4) Umi Laila Sari [KMGP Kolaborasi Ciamik Dunia Penerbitan dan Dunia Film], (5) Putri Rizki Ardhina [Hijrah Mas Gagah dari Lembaran Buku ke Layar Sinema], (6)  Keisya Avicenna [Malaikat untuk ‘Dik Manis’ Itu Bernama ‘Mas Gagah’], (7) Muhzen Den [Nilai-nilai Religius dalam KMGP], (8) Ernawati Lilys [Perjalanan Panjang Sebuah Novellet Islami yang Akhirnya Difilmkan], (9) Aisa Avicenna [Ketika Mas Gagah Pergi Inspirasi Dakwah], (10) Fahrul Rifki [Film Ketika Mas Gagah Pergi Tidak Layak Ditonton]

Kali pertama tahu kabar tersebut, saya senang bukan kepalang. Bukan karena hadiahnya, tapi pembuktian pada diri sendiri bahwa ternyata tulisan saya bisa bersaing dengan tulisan orang lain.

Tapi hadiah berupa ponsel (juga hadiah lain) tentu membuat hati senang. Apalagi ponsel saya sudah lemot sehingga mengganggu mobilitas, ingin sekali saya menggantinya. Jadi, saya pikir, inilah jawaban Allah atas rintihan kecil saya: pengin punya ponsel baru.

Semoga prestasi ini memberi semangat baru bagi saya untuk terus menulis dan tak segan lagi mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Sebab, bagaimanapun, menang kompetisi rasanya berjuta rasa.*