Sudah dibaca 626 kali

Saya dan Bu Nurhafni

Saya bersama Bu Nurhafni, Kepala Sekolah inspiratif, Rabu (12/10/2016).

Keinginan itu terkabul: pergi ke Riau, menyambangi SMA Negeri 4 Pekanbaru, dan berbincang tentang literasi dengan Bu Nurhafni sang kepala sekolah. Awal 2016 ini namanya sudah menggema di media massa sebagai kepala sekolah yang menggalakkan literasi, mendapatkan penghargaan, dan tulisannya sering dimuat di media massa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah menganugerahinya sebagai Kepala SMA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015 Peringkat III.

Saya ingin sekali bertemu dengannya untuk belajar mengenai pengelolaan literasi di sekolah yang dipimpinnya. Alhamdulillah, Rabu, 12 Oktober 2016, ia bersedia menerima kehadiran saya.

Saya datang pagi, diantar berkeliling kelas menyaksikan warga sekolah mengawali hari dengan literasi. Pukul 07.00 – 07.15, siswa muslim/muslimah membaca Al-Qur’an. Selanjutnya, pukul 07.15 – 07.30, siswa membaca buku nonteks pelajaran. Ini dilakukan setiap hari.

Kebiasaan 15 menit membaca Al-Qur’an sebelum jam pelajaran dimulai sudah lama diterapkan di Riau. Namun, 15 membaca buku nonteks pelajaran sebelum jam pertama dimulai setiap hari baru dilaksanakan pada tahun pelajaran 2016-2017 ini sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Bu Afni, demikian perempuan berjilbab ini biasa disapa, mengantar saya meninjau sejumlah kelas, menunjukkan sudut baca yang terletak di bagian belakang kelas. Saya mengagumi sudut-sudut baca yang dibuat siswa. Ada yang dibuat mewah yaitu dilengkapi karpet, bantal duduk, dan gitar.  Ada pula yang hanya berupa rak berisi buku dengan tumpukan helm di bawahnya (hanya siswa yang punya SIM yang boleh bawa sepeda motor ke sekolah).

Tata ruang kelas memang diserahkan kepada siswa. Namun rata-rata, selain sudut baca, majalah dinding dan kerajinan tangan juga menghias bagian belakang kelas. “Terserah imajinasi anak-anak,” kata Bu Afni. Bahkan, ada satu kelas dominan warna kuning dicat oleh siswa.

Di sejumlah lokal, dekat pintu ke luar, terdapat rak buku. Pengelolaan perpustakaan mini itu diserahkan kepada Duta Literasi yang terdiri dari dua orang. Duta Literasi dipilih oleh siswa. Biasanya siswa dari kelas yang dekat perpustakaan mini. Kegiatan membaca dan meminjam buku dilakukan pada saat jam istirahat.

Saya sempat berbincang dengan seorang Duta Literasi. Namanya Agustina. Saya bertanya kenapa mau menjadi Duta Literasi, repot melayani siswa yang mau membaca dan meminjam buku. Katanya, dengan menjadi Duta Literasi, ia jadi kenal banyak teman. Sebab yang membaca dan meminjam buku juga berasal dari kelas lain. Ia juga tak merasa repot karena kegiatan tersebut dilakukan saat jam istirahat.

Perpustakaan mini lain berada di sejumlah tempat dekat area nyaman istirahat—kawasan yang dilengkapi tempat duduk, biasanya taman dan kebun. Pojok literasi ini dijaga oleh siswa-siswi Duta Baca. Menurut Zulkarnaini, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum yang juga menemani saya berkeliling, yang menjadi Duta Baca adalah siswa yang paling banyak baca pada suatu acara yang pernah diselenggarakan oleh sebuah penerbit besar di SMAN 4. Selain Bu Afni dan Pak Zul, saya juga ditemani Bu Desmarni dan Bu Sefrida berkeliling sekolah.

Di kelas

Salah satu ruang kelas di SMAN 4 Pekanbaru. Semua ditata oleh siswa, termasuk mengecat dinding kelas.

Melihat keberadaan sudut baca dan pojok literasi di banyak tempat, tampak bahwa sekolah adiwiyata tingkat nasional ini ingin mendekatkan siswa dengan buku di manapun berada. Itulah mengapa SMAN 4 layak disebut sekolah literasi. Mengelilinginya bak tengah melakukan wisata literasi.

Namun SMAN 4 tak berhenti sampai di situ. Selain siswa terlibat sebagai relawan literasi (Duta Baca dan Duta Literasi), sejumlah guru juga terlibat sebagai Satgas Literasi. Tugas mereka yaitu melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan literasi di sekolah, termasuk menyortir buku yang beredar di sekolah.

Terkait pengadaan buku, tiap acara yang mengundang orang tua, di surat undangan selalu dicantumkan agar orang tua siswa membawa buku minimal satu eksemplar. Buku-buku itu yang akan menjadi koleksi sudut baca. Jadi sekolah tak kesulitan mendapatkan buku. Buku-buku di sudut baca yang sudah selesai baca, setelah hadir koleksi buku baru, dipindahkan ke rak buku pojok literasi. Sementara buku-buku di pojok literasi dipindahkan ke perpustakaan sekolah.

Ada satu hal menarik di sekolah ini. Jika siswa datang terlambat, mereka tidak dihukum push up, lari keliling lapangan, atau hukuman fisik lainnya. Mereka cukup disuruh baca buku di pojok literasi yang berada di area lalu lalang warga sekolah. Mereka tetap mengikuti alur kegiatan sekolah: 15 menit pertama baca Al-Qur’an, 15 menit kedua baca buku nonteks pelajaran.

Saya banyak belajar terkait literasi di sekolah ini. Tentu saja, sekolah yang telah mendapatkan banyak penghargaan ini berada di posisi terbaiknya karena dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang baik. Bu Afni mendorong siswa untuk menulis, mengumpulkan karya dalam buku dan menerbitkannya. Ada pula kumpulan komik yang diterbitkan sendiri. Ia pun, di sela kesibukannya,  rajin menulis dan mengirimkannya ke media massa. Inilah sosok kepala sekolah yang patut diteladani.*