Sudah dibaca 237 kali

membacakan buku

Ahad sore, 30 Oktober 2016, saya kembali berdiri di sana. Kembali melakukan sesuatu yang 6-7 tahun lalu saya lakukan saban Sabtu.

Saya hanya memegang sebuah buku dongeng dan membacakan satu cerita dari sekian cerita yang ditulis oleh cerpenis anak Dian Kristiani—saya lupa judul bukunya. Tak ada pakaian atau aksesoris khusus seperti dulu. Persiapan mendadak.

Buku yang saya bacakan bercerita tentang seekor laba-laba yang membuat jaring namun tikus meremehkan kekuatannya. Ketika tikus dikejar kucing, ia terjerembab dari atas lemari dan jatuh. Beruntung ia jatuh ke jaring laba-laba. Andai tak ada jaring laba-laba, habislah ia diterkam kucing.

Saat membuka-buka buku dongeng milik keponakan saya, Gita, cerita itu menarik perhatian saya. Idenya sederhana dan tokoh-tokohnya cukup familiar dengan anak-anak yang mendengarkan cerita. Tiap saya tanya apakah mereka memelihara laba-laba, cicak, tikus, dan kucing di rumah, mereka kebanyakan angkat tangan dan teriak “Saya!”

Sore itu, saya kembali ke PAUD Nusa Indah. Tempat mengabdi selama 2,5 tahun (Februari 2008 – akhir  2010). Saya mengajar Bahasa Inggris. Mendongeng sebagai tambahan. Di situ, lokasi kegiatan belajar-mengajar PAUD, kali pertama ditempati bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009. Balai Warga RW 01 Duren Sawit Jakarta Timur, lokasi belajar sebelumnya, tengah direnovasi.

Rekan tutor waktu itu adalah ibu-ibu pengurus PKK dan Posyandu. Tiap tahun peserta didiknya bertambah hingga membeludak: tempat belajar tak mampu menampung siswa. Maklum, sebagian besar siswa PAUD Nusa Indah adalah anak-anak dari kalangan ekonomi lemah; orang tua mereka rata-rata sopir, buruh kasar, tukang cuci, dan pedagang kelontong. Iuran per bulan Rp.10.000 (kegiatan belajar seminggu tiga kali).

Kondisi ini disebabkan kesadaran orang tua pada pentingnya pendidikan usia dini meningkat namun biaya masuk Taman Kanak-kanak dan Playgroup mahal. PAUD Nusa Indah seakan menjadi penolong bagi kebutuhan yang tak boleh tertunda.

Sore itu, saya kembali bertemu dengan ibu-ibu tutor PAUD. Berbagi cerita. Foto bersama. Banyak sekali perubahan telah terjadi. Mengenang masa lalu seakan tak ada habisnya.

Sore itu saya membacakan buku untuk mengisi acara hari ulang tahun keponakan saya, Gita, yang ke-6. Itu momen terbaik saya untuk kembali ke PAUD dan berkumpul dengan siswa dan tutor. Alhamdulillah.*