Sudah dibaca 181 kali

Sudut Baca

Sudut Baca yang digelar dalam Workshop Gerakan Literasi Sekolah di Bandung, 29-31 Mei 2016. Semua peserta dapat membaca buku bacaan yang direferensikan oleh Satgas GLS.

Ada satu peristiwa baru yang membuat saya bersemangat terkait gerakan literasi. Rabu minggu lalu (16/11/2016), saat membuka Rapat Kerja Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah di Jakarta, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad menyampaikan akan mewajibkan pegawai di lingkungan Ditjen Dikdasmen membawa buku saat melakukan kunjungan/monitoring dan evaluasi (monev) ke daerah terutama kawasan terdepan, tertinggal, terpencil (3T). Buku itu disumbangkan ke sekolah yang ditinjau.

Mendengar ide yang disampaikan oleh Ninik Purwaning Setyorini, anggota Satgas GLS dari Direktorat Pembinaan SMP, Hamid langsung tersenyum dan menyambutnya. Upaya ini, walau terbilang kecil, merupakan bentuk partisipasi dalam rangka mengentaskan kekurangan buku nonteks pelajaran di daerah.

Kendala utama yang dihadapi program gerakan literasi Kemendikbud adalah ketiadaan buku di daerah. Saat menggelar Workshop Gerakan Literasi Sekolah pada akhir April-akhir Mei 2016 lalu, hampir semua peserta yang terdiri dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan se-Indonesia menyampaikan keluhan itu.

Saat melakukan monev ke daerah, saya menjumpai hal serupa. Di beberapa daerah, meskipun termasuk ibukota provinsi, buku sulit dicari. Tak ada toko buku. Kalaupun ada hanya toko kecil dan terbatas menjual buku pelajaran.

Maka jangan heran jika minat dan kompetensi membaca masyarakat Indonesia di semua survei lembaga internasional selalu berada di urutan buncit. Bagaimana mau membaca buku kalau bukunya tidak ada?

Kebijakan mewajibkan pegawai menyumbangkan buku ke sekolah lokasi monev mesti disambut baik. Sebab, sekolah penerima buku, terutama siswa, pastilah senang. Mendapatkan buku bacaan nonteks pelajaran (buku pengayaan dan buku referensi) langsung dari Jakarta, bagi mereka, seperti mendapat durian runtuh. Upaya ini memutus mata rantai distribusi buku: penerbit, agensi, toko buku, retail.

Buku yang disumbangkan bisa buku fiksi seperti novel, cerita pendek, puisi, dan drama, atau nonfiksi seperti ensiklopedia, esai, dan artikel ilmiah. Asal masih layak baca, buku itu akan berguna sekali jika diletakkan di perpustakaan sekolah. Semua warga sekolah bisa membacanya. Jumlah yang disumbangkan bebas, tak terbatas.

Gerakan Donasi Buku ini akan menjadi lilin kecil bagi upaya pemerataan buku di segenap penjuru negeri. Terlebih jika ditiru oleh unit utama lain di Kemendikbud, kemudian menular ke kementerian lain. Partisipasi dalam gerakan literasi tak hanya milik pejabat, pegiat literasi, dan aktivis perbukuan saja. Pegawai biasa, staf, bahkan OB juga bisa turut berpartisipasi.*