Sudah dibaca 203 kali

Meja Kerjaku

Meja kerja saya desain untuk membuat diri dan pikiran nyaman saat bekerja. Saya ingin membuat lingkungan kerja kaya literasi.

Jika kepala pusing dan penat akibat pekerjaan menumpuk, orang lebih suka mendengarkan musik, mengobrol, atau merokok untuk menenangkan pikiran. Kalau saya tidak: saya membaca buku.

Saya pernah menyampaikan hal ini ke beberapa teman dan mereka hanya tertawa serta geleng-geleng kepala. Seolah saya orang berperilaku aneh. Tapi saya tak peduli.

Saya membaca buku tak sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Saya memanfaatkan aktivitas tersebut untuk menerapi pikiran. Caranya tak rumit-rumit amat: baca, lalu rasakan kenikmatannya!

Dulu saya pernah merasakan kenikmatan fisik membaca: usai membaca, di otak terasa ada aliran air bergerak melalui pembuluh darah, membuat kepala terasa tenang. Mungkin hal ini dirasakan oleh orang yang merasa terbang (fly) usai mengonsumsi narkoba. Ya, kalau begitu, anggap saja buku adalah narkoba bagi saya.

Kini, saat kepala didera penat dan pusing, saya membaca buku dan langsung merasakan, perlahan, secara fisik, kepenatan itu berkurang. Semakin lama membaca, kepenatan itu hilang dan kepala menjadi segar. Ini jujur, bukan dusta, apalagi mengada-ada. Bagaimana caranya, saya tidak tahu. Saya hanya membaca dan merasakan kenikmatannya. Itu saja.

Karena hal ini tak biasa, makanya dipandang aneh. Pernah, suatu hari, saat saya pusing lantaran banyak pekerjaan lalu membaca buku, atasan saya menegur dengan berkata, “Lagi nggak ada kerjaan, Bill?” Lalu saya jawab, “Banyak, tapi saya sedang menyegarkan pikiran.” Ia kemudian menunjukkan raut bingung. Saya melanjutkan, “Saya tidak merokok, jadi baca buku saja.” Ucapan itu untuk membandingkan aktivitas pelepas penat antara saya dan teman-teman lain. Ia duduk dan minta saya membantu pekerjaannya.

Ada urusan lain yang datang tiba-tiba, kemudian ia pergi. Saya meneruskan kegiatan membaca dan mulai merasakan kepenatan di kepala berkurang. Tak lama berselang ia kembali dan berkata, “Ayo bacanya sudah!” Saya menutup buku. Hati kecil saya berkata, “Durasi baca buku tadi belum mencapai satu batang rokok. Ya sudahlah.”

Sering, ketika kepala terasa ingin meledak karena banyak pikiran, tubuh saya terasa tidak enak. Mungkin itu namanya sakaw. Saya langsung meraih buku dan mulai membaca. Tak peduli kondisinya, apakah saya sedang menyelesaikan pekerjaan atau akan berpindah ke pekerjaan baru.

Pernah, hal ini saya tanyakan ke seorang dosen. Ia tak heran dan bercerita tentang sakit ayahnya yang cepat sembuh karena membaca buku disela perawatan. Dokter heran melihatnya. Kata teman yang dosen itu, membaca buku dapat menyegarkan otak.

Jadi, cobalah “narkoba” jenis ini! Ia tak merusak sel otak dan mengganggu kesehatan. Ia justru menyehatkan otak dan kehidupan.*