Sudah dibaca 253 kali

Pelihara Musang

Joko (kanan) berpose dengan Didi di lapangan hijau Kompleks Graha Raya Serpong (18/2/2017)

Sering tiap Sabtu atau Ahad sore saya mengajak Kirana, putri saya, jalan-jalan berkeliling Kompleks Graha Raya Serpong. Di salah satu sudut kompleks dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdapat lapangan berumput hijau.

Di sanalah,  biasanya, sekelompok anak muda berkumpul membawa musang, garangan, luwak, otter, dan beragam variannya. Masyarakat sekitar yang tertarik pada aktivitas mereka tidak sungkan mendekat dan bertanya-tanya. Termasuk saya dan Kirana.

Sabtu sore itu, 18 Februari 2017, kami mendekati sesosok lelaki yang tengah memegang musang bulan berusia 2 bulan. Joko Priyono namanya. Menurut Joko, memelihara musang tidaklah sulit. Apalagi setelah bergabung dengan komunitas Solidaritas Owner Musang Tangerang (Somat), ia jadi lebih mudah mengetahui seluk-beluk memelihara musang dari teman-temannya sesama anggota Somat.

Joko berbagi tips memelihara musang. Pertama, beri makan musang pisang. Biasanya pisang lampung. Cukup beri dua pisang sekali makan, pagi dan sore. Jika persediaan pisang habis, Anda bisa menggantinya dengan kepala ayam. Tapi ingat, kepala ayam direbus dulu sampai empuk. Sekali makan cukup dua kepala.

Kedua, agar musang tidak kedinginan, selimuti musang dengan kain atau bahan perca yang tidak terpakai. Kandangnya tak perlu diberi lampu karena musang tidak seperti ayam.

Ketiga, sering-seringlah membelai musang. Apalagi jika musangnya masih anak-anak. Musang sering dibelai agar cepat jinak, tidak liar. Kalau perlu, bawa musang ke tempat kerja. Joko selalu membawa musangnya yang kini berusia dua bulan.

Joko juga berbagi cerita tentang memelihara musang yang baru lahir. Untuk bulan pertama, beri musang susu dalam dot. Makanannya berupa bubur bayi. “Makanannya lumayan elit,” canda Joko.

Didi, rekan joko, yang juga anggota Somat, bercerita, kegiatan Somat dan komunitas musang lain di berbagai daerah cukup beragam. Tak hanya berkutat bagaimana memelihara musang, mereka juga menggelar kegiatan sosial seperti menyalurkan bantuan untuk daerah terkena bencana, donor darah, dan berbagi pengetahuan tentang musang dengan berkeliling ke Taman Kanak-kanak.

Komunitas pemelihara musang di bawah bendera Musang Lovers Indonesia, kata Didi, tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ke mana saja ia pengin pergi, tinggal kontak anggota komunitas lain.

Musang juga memiliki berbagai jenis, di antaranya otter, binturong, dan garangan. Anda tertarik memeliharanya? Jika ya, cobalah bergabung dulu dengan komunitas musang untuk mempelajari seluk-beluk memelihara musang.*