Sudah dibaca 186 kali

detik

Foto: detik.com

Beredarnya buku cerita anak “Aku Berani Tidur Sendiri,” sebuah judul dari seri “Aku Belajar Mengendalikan Diri”, yang diterbitkan Penerbit Tiga Ananda, lini Penerbit Tiga Serangkai, memancing reaksi masyarakat luas.

Masyarakat merespon narasi teks dan ilustrasi pada buku yang membahas secara detil tentang kegiatan ‘masturbasi’ pada anak usia dini. Kendati Penerbit sudah menarik buku tersebut dari pasaran, namun publikasi media dan reaksi masyarakat masih menguat.

Terkait dengan situasi tersebut, Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (Satgas GLS) Kemendikbud mengirimkan surat (elektronik) kepada Penerbit Tiga Ananda, Selasa (21/2/2017). Surat elektronik (e-mail) ditembuskan kepada KPAI dan sejumlah pihak di lingkungan Kemendikbud.

Ada 3 masukan Satgas GLS dalam surat tersebut.

Pertama, pendidikan seks untuk anak adalah materi yang sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan multidisipliner dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, pendidikan, dan psikologi anak.

Dalam penyampaiannya di ruang publik, materi ini perlu dikemas dengan mempertimbangkan norma kepatutan dan agama yang dianut oleh masyarakat.

Kedua, buku anak bergambar adalah media multimoda yang melibatkan teks bahasa, teks visual atau ilustrasi, didukung dengan warna, penataan/layout, juga gestur, ekspresi wajah tokoh yang keseluruhannya mempengaruhi pemahaman anak terhadap konten cerita.

Apabila buku ini dibacakan kepada pembaca anak, maka teks auditori –narasi orang dewasa ketika membacakan cerita– juga diskusi dialogis yang terjadi ketika/sesudah cerita dibacakan akan mempengaruhi persepsi pembaca anak tentang materi cerita.

Ketiga, buku anak bergambar bukan hanya berfungsi sebagai media didaktik, yaitu media bagi orang dewasa untuk menyampaikan nilai-nilai kepada anak, namun juga berperan sebagai sarana yang menghibur anak dan memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Dengan kekhasan ini, bacaan anak harus memuat materi yang mudah dipahami, sesuai dengan daya nalar, dan disampaikan dengan elemen (kebahasaan dan visual) yang baik dan menarik.

Dalam surat itu, Satgas GLS juga memaparkan sejumlah pandangan terkait dengan konten buku.

(1)   Pembahasan materi pendidikan seks dalam buku anak tidak hanya membutuhkan keterlibatan pakar pendidikan kesehatan, psikolog, ahli bahasa, dan pakar kegrafikaan, namun juga budayawan, ahli agama, dalam jumlah yang representatif untuk mengantisipasi kemungkinan perbedaan reaksi di masyarakat.

Sebelum dicetak dalam jumlah besar, draf buku ini sebaiknya diujicobakan di kalangan orangtua, akademisi, pendidik, dan pembaca sasaran buku ini untuk mengetahui respons mereka. Mengingat tema yang sensitif, produksi buku bertema pendidikan seks selayaknya membutuhkan kehati-hatian yang ekstra dan waktu yang lebih lama.

(2)   Media buku anak bergambar memiliki keterbatasan jumlah halaman, proporsi gambar/teks, jumlah kata/kalimat dan variasi kosakata untuk menyesuaikan dengan daya nalar pembaca sasaran. Materi yang sensitif seperti pendidikan seks kepada anak adalah materi bacaan yang terlalu kompleks untuk dijelaskan dalam format buku anak bergambar.

Pesan yang disampaikan cukup kompleks, sedangkan ruang halaman terbatas. Salah satu dampaknya adalah dialog ibu dan anak pada buku ini terkesan membingungkan (Misalnya, ibu menjelaskan bahwa memegang-megang kemaluan akan menyebabkan infeksi.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana kalau anak melakukannya dengan tangan yang bersih?

Contoh kedua, ibu meminta anak untuk dapat mengendalikan diri. ‘Pengendalian diri’ ini tidak jelas terhadap apa, karena saran ini dinyatakan ibu setelah menasihati anak tentang kemungkinan infeksi karena memegang-megang kemaluan dengan tangan yang kotor).

(3)   Elemen visual pada buku anak sangat menonjol. Gestur, ekspresi wajah tokoh cerita dan interaksi tokoh memiliki kekuatan untuk membentuk imajinasi pembaca. Sama halnya, teks-teks pendek memiliki impresi yang kuat.

Pesan yang terkandung pada buku ini, yaitu bahwa anak perlu menahan diri mereka dari kegiatan memainkan kemaluan menjadi tersamar oleh detil kegiatan ‘masturbasi’ yang disampaikan melalui teks dan ilustrasi pada buku ini.

(4)   Halaman ‘Tip untuk orangtua’ pada akhir buku terkesan kontraproduktif dengan penjelasan yang disampaikan ke publik. Pada laman Facebook Tiga Serangkai, dijelaskan bahwa anak memainkan kemaluan bukan berarti ‘masturbasi’ karena bukan merupakan ‘proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin.’ Kenyataannya, orang tua diberikan ‘tip’ untuk mencegah anak melakukan masturbasi.

Pada bagian ini, orang tua tidak memperoleh cukup informasi tentang, misalnya, mengapa wajar bagi anak untuk memainkan kemaluan, kegiatan memainkan kemaluan seperti apa yang seharusnya diwaspadai, dan lain-lain.

Sebagai media pengajaran pendidikan seks untuk anak, buku ini masih jauh dari memenuhi tujuannya, yaitu membuat orang tua paham dan tahu bagaimana menghadapi sikap dan keingintahuan anak berusia dini terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tema seksual.

Mengingat pentingnya tema pendidikan seks untuk menjadi bagian dari diskusi orang tua dengan anak, Satgas GLS merekomendasikan sebagai berikut.

(1)   Buku “Aku Berani Tidur Sendiri” ditarik dari peredaran dan dikaji ulang oleh pakar multidisipliner yang mendalami permasalahan pendidikan seks, psikologi anak, ahli pendidikan anak, dan ahli agama.

(2)   Buku ini tidak cukup hanya diberi label “Perlu Bimbingan Orang tua.” Diskusi orang tua dan anak perlu menjadi fokus dari kegiatan memahami isi buku ini. Anak seharusnya tidak membaca buku ini secara mandiri.

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, buku ini sebaiknya tidak dicetak dalam format buku bergambar untuk anak, melainkan buku panduan untuk orang tua. Buku panduan ini perlu memuat penjelasan dan tips praktis berkomunikasi dengan anak tentang pengetahuan seksual, yang disampaikan dengan penataan grafis dan ilustrasi yang menarik.

(3)   Buku bergambar untuk anak selayaknya tidak memuat deskripsi detil –baik bahasa dan gambar– tentang kegiatan-kegiatan yang seharusnya tidak mereka lakukan (hal ini berlaku tidak hanya untuk aktivitas seksual).

Apabila buku ini ditulis ulang, penulis dapat berfokus kepada tema-tema kegiatan yang dapat dilakukan anak untuk menjaga kesehatan, mengisi waktu luang, atau tema-tema kesehatan lain yang relevan dengan keseharian pembaca berusia dini.

Satgas GLS mendukung upaya penerbit untuk memajukan literasi anak Indonesia melalui upaya memperkaya tema dan koleksi bacaan anak. Juga mengapresiasi Penerbit Tiga Ananda yang berani mengambil risiko untuk menerbitkan buku yang mengangkat tema yang selama ini dianggap tabu, yaitu pendidikan seks untuk anak.

Memang benar bahwa diskusi tentang pendidikan seks perlu dilakukan orang tua dan anak sedini mungkin. Diskusi ini akan membekali anak dengan pengetahuan dasar seksual untuk melindungi diri mereka dari penyakit, dan juga ancaman kejahatan seksual di sekitar mereka.

 

Jakarta, 21 Februari 2017