Sudah dibaca 105 kali

Michael dan Moli_10-4-2017

Michael bersama Moli dan anak-anak yang ingin memegang musang bulan itu. Foto: Billy Antoro

Sabtu sore, 8 April 2017, usai menghadiri sebuah acara literasi di Perpustakaan Kemendikbud, Senayan, Jakarta, putri saya, Kirana, minta sepeda motor yang kami naiki mampir ke lapangan hijau di kawasan Graha Raya, Serpong, Tangerang. Biasanya, tiap Sabtu dan Ahad sore, saya mengajak Kirana melihat para pemilik musang yang tergabung dalam Solidaritas Owner Musang Tangerang (SOMAT) berkumpul di sana.

Ternyata memang teman-teman SOMAT masih di sana dengan musang-musang peliharaannya. Saya bertemu dengan Didi, anggota SOMAT, yang beberapa waktu lalu saya wawancara untuk penulisan tentang SOMAT (baca: Ini 3 Tips bagi yang Mau Memelihara Musang). Ia mengaku kaget setelah membaca tulisan saya. Padahal sebelumnya saya sudah beri tahu bahwa saya mewawancarainya untuk dimuat di blog saya.

Sebelum pamit, Didi memberi tahu bahwa besok (Ahad, 9/4/2017) akan digelar gathering SOMAT. Saya diminta datang dan kembali menulisnya. Saya menyanggupi.

Ahad sore, 9 April 2017, saya memenuhi undangannya. Saya datang sendiri karena Kirana tidak mau ikut dan sedang makan sore. Tiba di lapangan Regency, suasana ramai. Masyarakat sekitar Regency larut dalam kerumunan komunitas pemelihara musang itu. Beberapa anak kecil bahkan berani membelai dan menggendong musang.

Peserta Gathering Gabungan SOMAT itu datang dari lima wilayah yaitu Regency (Serpong), Kotabumi, Ahmadyani, Kampung Melayu, dan Tigaraksa. Saya tertarik dengan musang bulan yang didandani pakaian atasan kuning dan bawahan hijau. Namanya Moli.

Pemilik musang berusia 2 tahun itu adalah Michael. Ia memelihara empat musang. Ia bersedia berbagi cerita tentang pengalaman memelihara musang kepada warga yang bertanya. Tak terkecuali saya.

Gathering Gabungan SOMAT_10-4-2017

Anggota SOMAT berfoto bersama sebelum menutup acara Gathering Gabungan. Foto: Billy Antoro

Saya tertarik untuk bertanya mengenai bagaimana musang kawin. “Musang bulan termasuk jenis yang sulit kawin. Harus ditaruh di dalam ruangan (dengan pejantan) dan nggak boleh dilihat,” ucap Michael.

Makanan musang adalah pisang Lampung. Tiga puluh buah per hari. Diberi pagi dan sore. Dua kali dalam seminggu musang diberi kepala ayam yang sudah direbus.

Punya musang sepertinya asyik dan keren. Apalagi bisa berkumpul dengan pemelihara musang lain. Solidaritas sesama penyayang musang pastilah akan cepat terbentuk.