Sudah dibaca 76 kali

 Ilustrasi: metro.sindonews.com

Foto: metro.sindonews.com

Tadi pagi saya dan Kirana, putri saya, menyambangi sebuah taman di kawasan Bintaro. Taman itu terletak di belakang sebuah mal dan dilintasi sungai. Sungai itu penuh sampah. Sebagian sampah menyembul hingga permukaan air. Kami berdiri di pagar sungai mengamatinya.

“Kenapa banyak orang buang sampah di sungai ya?” tanya saya kepada Kirana, membuka percakapan.

Ia menggeleng.

“Kirana sendiri kenapa kalau buang sampah di tempat sampah?”

“Iya, kalau buang sampah ya di tempat sampah.”

Kirana baru berusia 6,5 tahun. Saya ingin mengajaknya berpikir kritis, mempertanyakan perilaku orang-orang di sekitarnya.

Di belakang kami, taman kota yang rimbun, sampah berserakan di mana-mana. Orang-orang, orang tua-anak dan muda-mudi, tampak akrab dengan sampah di dekatnya. Pandang saya kemudian menerawang. Tiba-tiba dua burung melintas di dalam kepala saya, melakukan dialog imajiner.

Ibu burung: Nak, lihat taman di bawah kita! Apa kamu melihat ada yang aneh?

Anak burung: Ada, Bu. Sampah berserakan di mana-mana, padahal banyak tong sampah.

Ibu burung: Kamu melihat ada keanehan pada orang-orang itu?

Anak burung: Aku tidak tahu, Bu.

Ibu burung: Orang-orang itu datang untuk menikmati udara taman, bermain ayunan dan perosotan, dan lari pagi di lintasan yang sudah tersedia. Semua gratis. Mereka datang membawa makanan dan pergi begitu saja meninggalkan sampah di tanah. Apa kamu sudah merasakan ada keanehan?

Anak burung: Aku masih tidak tahu, Bu.

Ibu burung: Memang tidak semua orang di situ buang sampah sembarangan. Sebagian orang buang sampah di tong sampah. Mereka yang buang sampah sembarangan sesungguhnya orang yang tidak tahu berterima kasih.

Anak burung: Maksud ibu?

Ibu burung: Sudah diberi tempat gratis yang nyaman, eh tidak merawat tempat itu. Bahkan mengotorinya.

Anak burung: Oh iya, aku baru mengerti, Bu! Mereka aneh ya bu.

Ibu burung: Ibu khawatir, anak-anak mereka akan melakukan hal sama saat dewasa nanti. Kedua orang tua mereka mencontohkan hal yang tidak baik.

Anak-ibu burung itu tiba-tiba terbang ke luar kepala saya. Ucapan terakhir ibu burung itu menyisakan pertanyaan yang kini menggumpal di hati: apa yang bisa dilakukan sekolah terhadap anak yang dicontohkan perilaku tidak baik oleh orang tuanya?

Sekolah pasti mengajarkan siswa agar buang sampah di tempat sampah. Tidak disembarang tempat. Siswa yang di keluarganya dicontohkan buang sampah sembarangan pasti mengalami guncangan nilai: apa yang diajarkan orang tua di rumah berbeda dengan ajaran di sekolah. Ajaran mana yang harus diikuti?

Maka, yang perlu dilakukan guru adalah bukan memberi dogma kepada siswa agar nilai sekolah yang harus diikuti dan mengenyampingkan nilai yang ditanamkan keluarga. Guru harus memberikan bekal kepada siswa: berpikir kritis.

Siswa perlu diajak berdialog mengenai realitas di sekitarnya. Pikiran mereka dirangsang untuk mengamati dan mempertanyakan kebenaran realitas. Beri mereka waktu untuk berdiskusi, mengungkapkan isi pikiran antarteman. Dorong mereka untuk menggunakan berbagai sumber belajar (buku, perpustakaan, internet, artikel media, hasil penelitian, dll) dalam menguatkan argumen yang disampaikan.

Namun, diskusi bukan akhir kegiatan. Pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka adalah: apa yang bisa dilakukan bersama untuk melakukan perubahan? Kolaborasi macam apa yang bisa dibangun untuk mengentaskan realitas yang tidak baik? Guru harus memainkan perannya sebagai fasilitator.

Siswa didorong untuk membuat dan mengerjakan proyek perubahan. Bisa melalui kampanye di media sosial, kerja bakti di fasilitas umum rawan sampah, atau melakukan penyuluhan kepada sesama generasi.

Siswa perlu diingatkan bahwa mereka adalah agen perubahan. Mereka punya kesempatan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang dewasa untuk melakukan gerakan perubahan.

Sebelum matahari tepat bertengger di atas kepala, kami meninggalkan taman itu. Semoga, suatu hari nanti, tidak ada lagi sampah berserakan di taman itu.* (Tangerang, 15 April 2018).