Sudah dibaca 572 kali

Bagian 2

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk berurusan dengan polisi lantaran plat nomor motor baruku. Baru? Memang, tapi aku tidak membanggakannya. Kali pertama kumelihat itu plat, aku merasa plat bikinan Pak Tua tidak bagus-bagus amat. Ia dibuat dari seng tipis berkarat dan dibentuk sekenanya; asal nomor plat tercetak nyata. Namun aku tak peduli waktu itu. Yang penting aku terbebas dari kekhawatiran dikejar polisi. Dan aku berpikir suatu saat akan membuat plat yang lebih bagus dari itu.

Sebagaimana kuucap tadi, aku memang berurusan dengan polisi lantaran plat nomor motor baruku. Kejadiannya Ahad siang 15 Juli di pinggir Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usai mengikuti acara yang diselenggarakan komunitas mailing list ‘sekolah-kehidupan’ di Aphrodite’s Club Klub Rasuna Said, aku bergegas ke Taman Ismail Marzuki. Aku hendak menemui teman-teman Forum Lingkar Pena DKI Jakarta di sana. Walau badan terasa letih, aku memaksakan diri. Aku merasa perlu ke sana untuk mendapat kepastian nama-nama baru yang akan mengikuti Ode Kampung 2—temu komunitas sastra senusantara pada 20-22 Juli 2007 di Rumah Dunia, Serang, Banten. Pada acara ini, FLP DKI akan mengirim sekitar 30 peserta.

Aku memacu sepeda motorku keluar dari Jalan Jembatan Merah, lalu bergabung di Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said. Saat berada di jalan utama, dua polisi bermotor gede putih sedang berlari santai di depanku. Aku cuek saja. Kulalui saja mereka karena memang aku sedang terburu-buru. Hingga di atas terowongan Casablanca, aku merasa tidak terjadi apa-apa. Buat apa aku menakuti mereka kalau tidak melakukan pelanggaran?

Namun tiba-tiba aku mendengar raungan berat dua motor gede polisi mendekatiku. Yang seorang mendahuluiku dan melambaikan tangan kirinya menyuruhku menepi. Deg. Aku deg-degan. Ada apa ini? Jantungku berdegup kencang tak terkendali. Pikiranku meraba-raba; “Apa salahku hingga diberhentikan? Kesalahan apa yang baru kuperbuat?”

Polisi itu melepas helm dan turun dari motornya, mendekatiku yang berdiri terpaku dengan motor tetap menyala. Ia mengucap salam. Sebelum ia banyak berkata, aku menyambutnya dengan nada tinggi, “Ada apa, Pak?”

“Kemana plat nomor motormu yang asli?” tanya polisi itu, santai. Aku tak memerhatikan temannya di belakangku.

“Dicuri, Pak, waktu saya memarkir motor!” jawabku, masih dengan suara tinggi. Aku berpikir itu polisi akan menduga jawabanku terdengar konyol. Dicuri? Buat apa orang mencuri plat nomor motor?

Tapi polisi itu tidak menanyakan soal pencurian. “Kalau hilang, sebaiknya kamu bikin lagi di Polda!”

Aku mendebatnya. Bahwa yang penting aku punya sepasang plat nomor motor meski yang satu tidak bikinan langsung polisi. Kemudian aku berpikir bahwa polisi ini hanya ingin mencari uang saja. Yah, ini anggapan umum masyarakat bahwa sebagian polisi menggunakan kewenangannya untuk mencari uang dari pengguna jalan. Lantas aku berpikir bahwa barangkali nanti aku akan mengeluarkan kartu pers bila perlu. Sebagian teman sejawatku menggunakan kartu pers sebagai alat sakti menghindari ‘sergapan’ polisi.

“Mana STNK dan SIM-nya?”

“Lho, saya salah apa, Pak?”

“Sudah, keluarkan saja!  Saya mau periksa kelengkapannya!”

Sial. Aku tahu trik semacam ini. Ia akan menahan suratku alias menilang. Aku masih mempertimbangkan mengeluarkan kartu pers.

Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas dan menunjukkan STNK dan SIM padanya. Terlihat itu polisi mencermati sekali kesamaan STNK dan SIM serta plat nomorku. Jantungku masih berdesir kencang. Aku memang paling malas berurusan dengan polisi.

Setelah puas melihat, itu polisi mengembalikan STNK dan SIM-ku. “Ini peringatan saja,” katanya. “Kali ini saya tidak menangkap kamu. Kalau kamu melintas di jalan ini dan Jalan Jenderal Sudirman, polisi lain bisa menangkapmu. Kamu sudah melanggar  (bla…bla…bla…mengucap angka, barangkali peraturan. Aku sangat tidak mempedulikannya). Sebaiknya kamu membuat lagi plat nomor di Polda.”

Aku mengiyakan saja. Tak mau memperpanjang urusan. Kumasukkan kembali STNK dan SIM ke dalam dompet. Dua polisi bermotor gede melanjutkan perjalanan.

Aku kembali menancap gas. Lari motor dua polisi lamban dan aku berpikir untuk mendahului mereka lagi. Yupz, aku mendahului mereka. Masa bodoh kalau dikejar lagi. Dan itu polisi tak mengejar. Syukurlah.

Sepanjang jalan aku berpikir-pikir, apakah aku termasuk orang yang tidak beruntung? Temanku memiliki motor yang plat nomor motornya terpotong sebagian. Hanya nomor seri bagian atasnya saja tersisa. Yang bagian bawah, yang menandakan bulan dan tahun berakhir izin penggunaan kendaraan, tiak ada. Juga banyak sekali plat nomor motor yang jelek atau pun bagus berkeliaran di jalan-jalan–yang pasti mereka buat di tukang-tukang pinggir jalan. Kenapa harus aku? Hikmah? Entahlah.

Yang pasti ingatanku beralih pada hari di mana plat nomor motorku dicuri. Pencuri itu telah sukses membuatku berurusan dengan polisi. Dan aku tak peduli bila ada polisi lagi yang menghentikanku lantaran aku pakai plat nomor jelek—aku berpikir akan membuat plat nomor motor baru yang keren dan tampak seperti aslinya. Ke Polda? Cape deeeh…!

Aku terus memacu motor memotong jalan-jalan ibu kota. Sekitar setengah jam kemudian aku memasuki area TIM dan berhenti di hadapan teman-teman yang sedang melakukan apresiasi seni. Senyum ceria mereka menyambutku. Aku senang sekali. Letih dan stres tak lagi terasa.

Hikmah

Apa hikmah peristiwa itu? Akh, lagi-lagi aku belum mendapatkannya. Barangkali sebagai kado cerita untuk teman-temanku saja. Aku hanya berusaha menikmati amanah sebagai seorang pemimpin. Biarlah aku bercapai-capai menguras keringat asalkan kerja organisasi berjalan lancar. Kenikmatan yang telah lama tak kureguk sejak meninggalkan bangku kuliah.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 16 Juli 2007.