Sudah dibaca 57 kali

 Youtube

Ada cerita menarik dalam puncak Peringatan Hari Anak Nasional tahun lalu, 23 Juli 2017. Cerita itu tentang dialog Presiden Joko Widodo dengan Rafi Fadilah, siswa kelas VI SD Negeri 36 Pekanbaru, Riau.

“Saya mau bertanya pada Rafi.”

“Apa, Pak?”

“Cita-citanya, pengin jadi apa?”

“Jadi YouTubers, Pak!”

Ucapan lugas Rafi membuat Presiden Jokowi tersentak kaget dan tertawa. Ribuan hadirin yang memadati Lapangan Gedung Daerah Pauh Janggi, Pekanbaru, Riau, juga tertawa. Jokowi kemudian bertanya mengenai alasan Rafi memilih cita-cita menjadi YouTuber.

YouTuber itu, kalau banyak subscriber-nya, kita akan bisa menghasilkan uang.”

Jokowi kembali tertawa. Kali ini lebih keras. Tawa hadirin ikut pecah.

Barangkali Rafi sudah tahu berapa pendapatan YouTuber Indonesia. Berdasarkan data dari situs analitik Social Blade, seperti dikutip laman inet.detik.com, pendapatan YouTuber Indonesia per tahun mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Data tahun 2017 lalu, Raditya Dika, dengan subscriber mencapai 2,5 juta (kini 4,1 juta), diperkirakan berpenghasilan Rp660 juta – Rp10,5 miliar. Ria Yunita (Ria Ricis), dengan subscriber 1,1 juta (kini 4,2 juta), diperkirakan berpenghasilan Rp990 juta – Rp16 miliar. Keluarga Gen Halilintar, dengan subscriber 840 ribu (kini 3,3 juta), diperkirakan berpenghasilan Rp1,2 miliar – Rp20 miliar. Belum ditambah penghasilan dari perusahaan yang minta produknya di-endorse. Dengan jumlah penghasilan yang fantastis, tidak heran semakin banyak orang ingin menjadi YouTuber, tidak terkecuali anak-anak.

Siapapun boleh dan bisa menjadi YouTuber. Tidak perlu banyak persyaratan untuk menjadi YouTuber. Pemilik YouTube tidak pernah mensyaratkan gelar akademis, ijazah, atau batasan usia kepada orang-orang yang ingin mencari uang di salurannya.

Tapi untuk menjadi YouTuber juga tidak mudah-mudah amat. Tetap saja harus kerja keras dan disiplin. Apalagi, untuk menjadi YouTuber, harus memiliki kreativitas dan inovasi tinggi. Kalau tidak memiliki keduanya, dijamin akan jadi YouTuber gagal.

Seorang YouTuber selalu berusaha menghadirkan informasi baru kepada masyarakat. Ia menjaga kualitas baik konten maupun pengemasannya (video edting). Kadang ia berkolaborasi dengan YouTuber lain agar subscriber-nya meningkat. Makin banyak memproduksi video dan sering tayang rutin, makin banyak pula orang yang mengunjungi videonya. Artinya, semakin tebal pundi rupiah yang dikumpulkan.

YouTuber kini menjadi salah satu pilihan cita-cita generasi milenial, bersaing dengan daftar cita-cita yang sejak dulu bertengger di angan-angan seorang anak: dokter, pilot, pengusaha, tentara, guru. Ia menawarkan kemudahan di tengah disrupsi besar-besaran lapangan pekerjaan akibat Revolusi Industri 4.0.

Sama seperti kemampuan menulis yang dapat mendatangkan kesejahteraan finansial, kemampuan membuat video editing juga dapat dimiliki semua orang dengan mudah. Banyak aplikasi video editing berbasis android yang dapat digunakan untuk menghasilkan video yang bagus melalui telepon seluler.

Hal yang patut ditiru dari seorang YouTuber adalah semangat berbagi. Mari kita bayangkan jika banyak orang pintar berbagi ilmu melalui saluran YouTube tentang berbagai hal, akan semakin banyak orang yang mudah mengakses pengetahuan, baik berupa informasi maupun keterampilan—dengan pengemasan yang menghibur tentunya. Kegiatan edukasi dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.

Peserta Olimpiade Sains Nasional tak terkecuali. Sebagai kalangan “elit” (peserta OSN hanya sekian persen dari jumlah total siswa Indonesia), peserta OSN dapat membagi ilmu dan pengetahuannya kepada masyarakat luas melalui saluran YouTube. Tips yang dapat dibagi misalnya bagaimana lolos seleksi OSN, bagaimana mengerjakan soal-soal yang sulit, atau bagaimana melakukan eksperimen di laboratorium.

Dengan semangat berbagi pengetahuan, melalui cara yang mudah dan murah, akan makin banyak sumber pengetahuan dan belajar siswa. Guru dan dosen pun dapat melakukan hal yang sama. Kolaborasi sangat terbuka.

Semangat berbagi pengetahuan akan memperpendek jarak antara pembelajar dan sumber belajar. Dalam semangat berbagi, semua orang adalah pembelajar, semua orang adalah guru. Sebab di era inilah sekarang kita tinggal.*

* Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sains, majalah resmi Olimpiade Sains Nasional yang diterbitkan di Padang, Sumatera Barat, pada Jumat, 6 Juli 2018. Unduh Majalah Sains, klik di sini.