Sudah dibaca 472 kali

Apa yang lebih menyasyikkan ketimbang kengerian yang menggairahkan dan kesenangan yang menggoda?

 

Ketika Gubernur Sutiyoso menarik picu senapan suar hingga dari mulut senapan keluar selongsong api membelah udara, disusul hujaman puluhan kembang api membakar selubung hitam langit dari atap Gedung Pusat Niaga Pekan Raya Jakarta, aku berpikir alangkah baiknya bila aku tidak berada di dekatnya. Memang rentetan percikan api yang membunga dan menyiram langit Kemayoran, Jakarta Pusat, pada malam 21 Juli itu tampak elok. Namun aku tetap merasa sebaiknya aku tak mencipta jarak sekian ratus meter dari asal di mana kembang api melompat.

 

Sebab itu sudah terlalu biasa. Pada seremoni sebelumnya di malam 14 Juli, juga setahun sebelumnya di tempat sama, keindahan percik-percik api yang membunga membakar cakrawala senja memang menggairahkan hati untuk menikmatinya. Di udara, kembang api saling mencelat, memecah diri dengan mengeluarkan aneka warna. Suaranya nyaring, memekik, saling bersahutan. Sejenak ribuan pasang mata melukis takjub, tersihir keindahan eksotismenya.

 

Adakah tempat terbaik menikmati kembang api? Ada! Di dekatnya! Maka bergegaslah aku, pada malam penutupan PRJ 15 Juli, naik ke atap Gedung Pusat Niaga. Sekitar pukul 22.15 kenikmatan dan kegairahan dalam jiwa dan penglihatan kurasakan. Sensasi tak terkira.

 

Ya, satu per satu kembang api melompat tinggi dari pipa-pipa besi yang berdiri menantang langit. Dentuman keras susul-menyusul, menggetarkan lantai hingga tubuh ikut bergetar. Makin dekat dari kumpulan pipa besi, sensasinya begitu terasa; lantai bergetar, bising memekak, asap mengepul.

 

Aku mendongak dan merasakan kegairahan; bunga api meletus tepat di atas kepala, membiarkan diri terkena serbuk api walau itu serbuk lenyap di udara. Seperti melihat bintang di atas gunung di tengah kebun teh yang senyap. Seperti berdiri di atas bukit pada malam tak berbintang, lalu menyaksikan hujan meteor melintasi kepala. Aku menikmatinya; kengerian yang menggairahkan dan kesenangan yang menggoda. Dan aku menikmatinya dengan beberapa sudut pandang—aku berdiri di beberapa tempat.

 

Subhannalah. Berkali-kali bibirku mengucap kalimat tasbih. Keindahan terencana ini adalah kreasi manusia, namun sesungguhnya pemberian Sang Maha Pencipta Allah Swt.

 

Membayangkan diri dalam naungan bunga api dan berpayung api, aku. Melepas semua beban di dada yang terukir sepanjang hari. Membiarkan diri terancam, terbakar, walau tahu itu takkan terjadi.

 

Sejumlah kembang api meledak pendek beberapa meter di atas lantai. Suaranya memekakkan telinga tentu saja. Serbuk apinya mencelat ke mana-mana, mengancam orang yang terkena. Itulah kenapa tak seorangpun diizinkan mendekati kumpulan pipa besi pelontar kembang api, kecuali seorang teknisi di ‘tempat persembunyian’ yang mengendalikan kembang api lewat saklar otomatis.

 

Jenis sensasi

Barangkali namanya sensasi. Ia sebuah rasa yang hadir dalam bentuk lain; aneh, asing, tak seperti biasa, menggairahkan, mengasyikkan. Semua makhluk pun, menurutku, menyukainya. Terlebih manusia. Kadang ia datang tanpa disadari, namun tak kunjung terasa kala diharapkan. Makanya sering sensasi dicari, diundang, diadakan, disengaja. Sebab sensasi dapat menciptakan suasana nyaman secara jasamani maupun rohani.

 

Sensasi dapat diadakan secara individu maupun melibatkan orang lain. Tergantung bentuk sensasi yang diharapkan. Tapi pada dasarnya sensasi yang dirasakan perseorangan bersifat independen, berdiri sendiri, meskipun ia membutuhkan orang lain untuk mendapatkannya.

 

Seorang perempuan berpakaian seksi merasakan sensasi ketika banyak orang memerhatikan keelokan tubuhnya, menyanjungnya dengan perkataan ‘kamu cantik’, menjadi pusat perhatian siapa saja, dan diimpikan setiap lelaki. Untuk mendapatkan sensasi berlebih, ia makin mengekplorasi erotisme tubuhnya, berlomba dengan perempuan lain untuk menjadi ekshibisionis sejati. Sementara banyak lelaki menunjukkan kejantanannya dengan melakukan korupsi sebanyak dan sesering-seringnya. Dengan begitu ia merasakan sensasi kemudahan melakukan apa saja; membeli perabotan, berwisata, selingkuh, kawin lagi. Ia semakin merasakan sensasi kala hukum tak mampu menjamahnya. Makin banyak pelanggaran dicetak, makin merasa tangguh si lelaki. Inilah sensasi negatif, yaitu sensasi yang membuat orang lupa pada dirinya sendiri.

 

Yang lebih rendah dari sensasi negatif bersifat radikal. Ia dirasakan secara jasmani, ketubuhan. Melibatkan unsur kengerian, kejorokan, ‘kebiadaban’. Contohnya adalah psikopat, pelaku mutilasi, dan pemain adegan film porno.

 

Ada sensasi positif, yaitu sensasi yang mampu bikin orang memahami dirinya sendiri. Setidaknya mengantarnya untuk mengenal lebih jauh tentang hakikat penciptaan dirinya. Sensasi ini bersifat proses, terus mencari. Yang tahu individu masing-masing dan sangat personal.

 

Di atas sensasi positif bersifat spiritual, transenden. Ia hadir lantaran telah melakukan proses panjang dengan ketekunan tinggi. Gambaran yang paling transendental dari semua sensasi ini adalah hubungan antara makhluk dengan penciptanya; hubungan ‘percintaan’–ketika ia melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berucap dengan mulut-Nya. Contoh populernya adalah para nabi, rasul, wali, dan sufi. Namun ada juga sensasi transedental yang muncul dalam waktu singkat. Ini sering dialami oleh orang-orang yang diberi hidayah—hubungan ‘percintaan sepihak’ dari Tuhan atas hamba-Nya. Ini biasa dialami oleh orang-orang ‘jahat’, ‘kotor’, dan ‘berdosa’.

Semua orang dapat membuat sensasi, kenal dan tahu kondisi seperti apa dan bagaimana ia bisa merasakannya. Anda juga. Masalahnya, terkadang, orang hanya bisa membuat sensasi tanpa merasakan manfaatnya. Ia melakukan proses lalu merasakan hasilnya, namun tak mengetahui esensi sensasi yang dia rasa. Jadi, pada tataran ini, sensasi tak sekadar tujuan, melainkan bagian dari proses pencarian. Ya, manusia adalah makhluk yang mencari.

 

Berada tepat di bawah percikan kembang api dan dekat dari pipa pelontar yang berdentum-dentum, bagiku, adalah sebuah sensasi. Alhamdulillah, sensasi yang kurasakan adalah sensasi positif, bahwa kala aku menikmatikembang api, yang bergelora di hati adalah perasaan takjub akan kebesaran Ilahi. Tak ada rekayasa hati sama sekali.

 

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 17 Juli 2007.