Sudah dibaca 45 kali

Kartu

Sabtu siang (19/10/2019), setelah bongkar-bongkar berkas, saya mendapatkan secarik kertas Kartu Hasil Seleksi Penerimaan Siswa Baru yang terbit sekitar 24 tahun lalu. Saya kemudian tergelitik untuk bercerita mengenai kisah yang membalut kartu tersebut dan menuangkannya di media sosial (Instagram dan Facebook).

Tulisan di kedua medsos itu tergolong pendek. Awalnya panjang, tapi saya potong untuk menyesuaikan jumlah karakter di IG. Sejumlah respon bermunculan.

Tulisan ini saya buat versi lengkapnya, plus penyesuaian penulisan. Siapa tahu ada yang tertarik membaca dan beri komentar.

Dulu saya hampir masuk SMA Negeri 12 Jakarta. Sekolah di kawasan Kebon Singkong, Jakarta Timur, ini pada tahun 1995 adalah salah satu sekolah favorit di Jakarta selain SMAN 8 Jakarta dan SMAN 81 Jakarta. Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya urutan ke-4 di SMPN 194 Jakarta. Saat diseleksi masuk SMAN 12 Jakarta, NEM saya urutan ke-6. Artinya, saya tergolong 10 besar yang bisa masuk di sekolah favorit itu.

Tapi nasib berkata lain. Kedua orang tua saya pengin saya sekolah di tempat yang bagi mereka menawarkan masa depan lebih cerah: SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta. Ada Saudara merekomendasikan orang tua saya agar saya sekolah di sana. Kabarnya, setelah lulus dari sekolah ini, langsung bekerja di PT. Telkom. Siapa yang tidak mau kerja di perusahaan plat merah dengan gaji besar?

Saya menolak keinginan mereka. Letak sekolah itu jauh. SMK Telkom berada di Jalan S. Parman, Grogol, Jakarta Barat, sementara saya tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur. Terlebih, selama ini saya bersekolah di dekat rumah yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki: TK Permata Bunda, SDN Duren Sawit 05 Pagi, dan SMPN 194 Jakarta. Ketiga sekolah berdekatan.

Bapak-Ibu terus merayu. Tiap hari. Akhirnya saya luluh. Saya mengajukan syarat: kalau berhasil masuk ke sekolah itu, saya minta dibelikan kaset.

Saya kemudian tidak bisa menikmati waktu libur. Saya menghabiskan waktu untuk mendaftar ke sekolah itu dan belajar untuk mengikuti tes. Selama proses administrasi, Ibu mengantar saya. Naik bus 213 dari Terminal Kampung Melayu, selalu berdiri di tengah dalam kondisi berdesakan dan penuh peluh.

Ujian masuknya matematika dan fisika. Gila, soalnya susah sekali! Apalagi saya tidak suka pelajaran fisika. Anehnya, dari 1.080 peserta, saya lulus! Lalu berlanjut dengan psikotes dan tes wawancara, saya lulus lagi! Satu angkatan itu, yg diterima hanya 144 orang. Sayang, teman satu SMP saya, Hanggar Teguh namanya, tidak ikut lolos. Hanggar akhirnya diterima di SMK Pembangunan.

Belakangan saya berpikir, kenapa saya tidak asal saja ikut tes masuk SMK Telkom. Toh kalau tidak lulus, saya tetap bisa masuk SMAN 12. Ke sekolah ini, saya hanya perlu naik angkot KWK T27 jurusan Kalimalang-Rawamangun. Ke SMK Telkom, saya harus menempuh perjalanan dengan tiga kali naik bus. Saya terlalu polos untuk berbuat curang, apalagi kepada kedua orang tua.

Saya akhirnya bisa jadi siswa SMK Telkom. Angkatan ke-4. Saya juga akhirnya dapat beli kaset Yuni Shara soundtrack film Pendekar Rajawali (Return of The Condor Heroes) yang dibintangi oleh Andy Lau (Pendekar Yoko) di Pasar Jatinegara. Plus lagu Memes Terlanjur Sayang.

SMK Telkom memang tergolong sekolah favorit. Di Jakarta Barat termasuk sekolah swasta terbaik. Rata-rata yang masuk sekolah ini NEM-nya tinggi. Banyak juga yang datang dari luar daerah.

Memang siswa-siswi sekolah ini, saya katakan, rata-rata jenius—lebih dari pintar. Saya sendiri yang merasa tidak pintar. Saya sering di urutan bontot dalam ranking.

Kurang berprestasi di akademik, saya aktif di kegiatan ekstrakurikuler. Saya ikut ekskul bola voley dan masuk tim andalan kalau bertanding dengan sekolah luar. Saya juga ikut klab voley di rumah.

Selain voley, saya ikut ekskul pramuka dan Rohis. Di Rohis, saya jadi pengurus seksi Humas&Usaha. Saya sering ke Toko Buku Media Dakwah di kawasan Pasar Senen, beli majalah pesanan siswa lain. Keuntungan pembelian majalah masuk ke kas Rohis.

Di pramuka, saya pernah ikut tim pengibaran bendera saat upacara 17-an di tugu Taman Mini Indonesia Indah. Saya memegang baki berisi bendera merah-putih. Sebelumnya, kami dilatih oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) selama beberapa minggu di lapangan kampus Ukrida, Grogol.

Karena lokasi jauh (dulu di seberang Mal Taman Anggrek, sekarang pindah ke Kali Deres), saya  berangkat ke sekolah usai salat subuh dan tiba di rumah usai Isya. Melebihi jam kerja orang kantoran. Pulang malam dari sekolah karena kalau pulang sore pasti jalanan macet. Saya biasa jalan kaki dulu ke kampus Trisakti Grogol agar bisa duduk atau berdiri di bagian tengah bus (Mayasari Bakti P6 atau P6A).

Tahun 1998, Indonesia didera krisis moneter. Banyak perusahaan bangkrut, PHK besar-besaran. Sekolah kami ikut terkena imbasnya. Perusahaan-perusahaan bidang telekomunikasi yang biasanya “berebut” lulusan SMK Telkom seperti lupa pada kami. Seingat saya saat itu hanya PT. Indosat yang melakukan seleksi ujian. PT. Telkom hanya menerima 10 atau 30 siswa terbaik. Oh ya, prestasi saya saat itu tergolong tidak bagus.

Tidak mau menyerah, bersama teman lain saya ikut tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Tanpa ambil pusing, saya memilih jurusan Teknik Elektro dan Teknik Sipil Universitas Indonesia yang passing grade-nya tinggi. Namun, saya gagal tes. Anak SMK tidak disiapkan untuk ikut UMPTN.

Sambil menunggu tes tahun berikutnya, saya melamar kerja membantu di rumah guru ngaji Iqra saya, yaitu Prof. Deliar Noer. Sejak awal SMP, saya mengaji di musala kecil di belakang rumahnya, yang masih dalam kompleks rumahnya yang luas. Ya, guru mengaji Iqra saya adalah seorang profesor! Karier pendidikan, politik, dan relasi Prof. Deliar Noer cukup panjang. Silakan lihat di Wikipedia. Yang pasti, saya bangga pernah berinteraksi langsung dengannya dalam kurun waktu yang lama. (Saya telah menulis tentang kegiatan kerja saya padanya dan menaruhnya di laman pribadi: klik ini, itu, dan inu).

Singkat kata, setelah belajar hasil meminjam buku bimbel teman, saya berhasil lolos UMPTN dan masuk Universitas Negeri Jakarta. Saya masuk jurusan Teknik Elektro. Ternyata, ada satu teman saya di jurusan itu yang lebih dulu masuk pada 1998. Guruh Noor Bayanto namanya. Selain itu, ada teman lain yang kuliah di Jurusan Matematika dan Bahasa Jerman.

Inkonsistensi jalur pendidikan (dan pekerjaan) inilah yang barangkali membuat saya ditolak saat melamar beasiswa LPDP tahun 2016, membuat bingung reviewer-nya. Saya bersekolah di SMK Telkom jurusan Switching (sentral telepon), kuliah di Jurusan Teknik Elektro (sarjana pendidikan), sebulan setelah lulus kemudian bekerja di majalah sebagai reporter dan redaktur, juga menjadi guru PAUD dan menulis skenario untuk televisi, disambung bekerja di Kemendikbud mengelola laman dan membuat majalah Ditjen Dikdasmen (sejak 2009), eh ingin masuk S-2 program studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Namun satu hal yang sejak dulu konsisten saya jalani adalah berkarier sebagai penulis. Ya, saya mendalami ilmu jurnalistik sejak di kampus, memperkayanya dengan belajar menulis fiksi di Forum Lingkar Pena Jakarta, kemudian bekerja yang bisa dikatakan 80% dari kegiatan menulis hingga sekarang.

Namun, saya merasa, “keanehan” perjalanan hidup yang dimulai saat masuk SMK Telkom belum berhasil saya kuak. Namun, di manapun berada, saya selalu berusaha menikmati dan berbuat yang terbaik.*

 

Kunciran, Tangerang, 20 Oktober 2019