Sudah dibaca 100 kali

Sampul Buku

 

Malam Jumat itu kami kembali menjalani ritual. Ia berbaring dan saya duduk di tepian ranjang. Ia menyodorkan buku dan saya mulai membaca. Sesekali saya memegangi kakinya, memijatnya, agar tubuhnya terasa tenang sembari menikmati lantunan suara.

Buku itu berjudul Guru Baru di Sekolah Badut dan 9 Dongeng Seru Lainnya karya Dian Kristiani. Buku diterbitkan oleh BIP pada 2013. Ia meminta saya membacakan dongeng urutan ke-5: Sendok Kayu Nona Buryam. Halaman 45. Ilustratornya Indra Bayu. Cerita singkatnya begini.

Popon mematahkan sendok kayu milik Nona Buryam yang dipinjamnya tanpa izin. Nona Buryam marah besar karena sendok yang terbuat dari kayu cendana itu biasa digunakannya untuk mengaduk bubur ayam. Harum kayu cendana membuat bubur ayam buatan Nona Buryam laris.

Bukannya minta maaf, Popon malah balik marah. Nona Buryam dianggap bersikap berlebihan. Sendok tua dan lapuk memang mudah patah, katanya. Popon pergi ke pasar, mampir ke toko penjual sendok kayu. Ia menceritakan kekesalannya pada Pak Getty, penjaga toko yang juga pembuat sendok kayu.

Pak Getty bercerita sendok itu buatan kakek buyut Nona Buryam. Warisan turun temurun. Sangat berharga bagi Nona Buryam dan keluarganya. Pak Getty bertanya pada Popon bagaimana kalau Popon berada pada posisi Nona Buryam. Akhirnya Popon mengerti bahwa ia harus meminta maaf pada Nona Buryam.

Pesan cerita ini sangat sederhana: kalau salah harus minta maaf, jangan malah balik marah. Pesan sederhana yang sangat apik disampaikan Dian. Cerita ini sebenarnya juga mewakili kebingungan saya dalam bersikap kepada putri saya Kirana, yang berbaring di ranjang mendengarkan saya bercerita, yang melakukan hal sama seperti Popon. Sehingga, akhirnya, cerita yang dibacakan itu menjadi “senjata” saya untuk menasihati Kirana. Saya yakin tidak hanya saya orang tua yang mengalami hal ini. Dian seolah mewakili “jeritan” para orang tua yang bingung bersikap kepada anak yang malah balik marah kalau dimarahi. Atau, jangan-jangan, cerita ini merupakan pengalaman Dian menghadapi anaknya.

Saya jadi ingat billboard raksasa di pinggir jalan sebuah iklan rokok yang tertulis: Lo Salah, Lo Marah. Slogan ini seakan mewakili perilaku aneh orang-orang Indonesia yang malah marah kalau perilaku salahnya ditegur orang lain. Terlebih yang menegurnya adalah orang yang tidak dikenalnya, orang yang usianya di bawahnya, atau orang yang status sosial/ekonominya di bawahnya. Padahal, orang yang menegur bernada sopan.

Memang sepertinya, sesuai rumusan cerita Dian di atas, harus ada orang lain yang mengingatkan kesalahannya. Orang yang dikenalnya, lebih tua usianya, atau status sosial/ekonomi di atasnya. Agak ribet, memang. Terkait dengan anak yang marah kalau dimarahi, mungkin pembagian peran antara suami dan istri, atau dengan kakek dan nenek, yang menasihati mereka secara baik-baik, dapat berhasil mengubah pikiran anak. Saya belum tahu.

Mengetahui Istilah, Memahami Makna: Pentingnya Membacakan Buku

Sesekali saya menanyakan istilah dari kalimat di buku itu. Istilah yang saya kira belum dipahami Kirana. Istilah itu seperti “mengernyit”, “bersungut”, “cendana”, dan “terbelalak”. Benar saja, ia belum memahaminya. Memahami sebuah istilah sangat penting agar cerita bermakna bagi seorang anak.

Selain menanyakan istilah, saya juga mengajaknya untuk memahami pesan cerita. Sebab, kadang, anak tidak paham tentang pesan cerita yang dibacanya. Tanya-jawab atau mendiskusikan konten cerita sangat penting untuk menguji pemahaman anak terhadap bahan bacaan.

Hal ini juga berangkat dari pengalaman saya saat membaca cerita Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Melalui sudut pandang dr. Watson, teman Holmes, cerita berjalan dengan alur maju dan mundur dan kalimat-kalimat panjang. Saya membiarkan pikiran mencermati tiap deretan kalimat dan sesekali mengulang paragraf untuk memahami makna cerita. Namun, pikiran saya sering tidak berhasil memahami jalan cerita sehingga saya terjebak dalam suasana mengantuk. Akhirnya, kegiatan membaca tidak bermakna. (Di balik kegiatan membosankan itu, saya mempelajari cara Doyle membuat cerita dan menirunya saat menulis novel tahun 2004).

Sejujurnya, hingga saat membuat tulisan ini, saya memiliki kekhawatiran pada Kirana. Ia kini kelas II SD di sebuah sekolah swasta. Kelas I, II, dan III SD merupakan masa menentukan bagi seorang anak yang sedang intens belajar membaca. Jika di masa ini anak mendapatkan pengajaran membaca yang “benar”, maka mereka akan menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat. Maksudnya, membaca tidak sekadar mengeja deretan huruf, melainkan mengkritisi dan memahami maknanya. Sebaliknya, jika anak mendapatkan pengajaran yang “salah”, mereka tidak akan jadi pembelajar sejati.

Saya tidak tahu bagaimana guru Kirana mengajarkan kegiatan membaca. Yang saya tahu, gurunya tidak membacakan buku atau mendongeng di depan kelas. Dengan kondisi ini, saya berinisiatif untuk membacakan buku dan mendiskusikan kontennya bersama Kirana. Ia berhak tahu secara utuh gagasan dan pesan cerita sekaligus mampu mengkritisinya.

Ada baiknya saya kutipkan di sini mengenai hasil penelitian tentang betapa pentingnya kegiatan membacakan buku secara nyaring (read aloud) dilakukan di rumah dan di sekolah. Informasi ini saya dapat dari buku Read Aloud Handbook, Mencerdaskan Anak dengan Membacakan Buku Sejak Dini karya Jim Trealease (Penerbit Hikmah, 2008: 21).

Pada tahun 1983, di Amerika Serikat, dibentuk Commision on Reading (Komite Membaca). Komite ini bertugas menyelidiki penyebab dan mencari solusi dari fenomena meningkatnya siswa yang tidak membaca di waktu senggang. Setelah mencermati puluhan ribu proyek riset yang dilakukan seperempat abad sebelumnya, dua tahun kemudian (1985) Komite mengeluarkan laporan yang berjudul Becoming a Nation of Readers (Menjadi Bangsa yang Suka Membaca). Di antara sekian temuannya, Trealease merangkum dua pernyataan penting. Pertama, “Aktivitas yang paling utama untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam membaca adalah membacakan buku kepada anak-anak.” Kedua, “Hal ini adalah satu praktik yang harus dilanjutkan di seluruh tingkatan kelas.”

Trelease juga mengutip ungkapan pakar yang mengatakan bahwa membacakan buku kepada anak merupakan hal yang lebih penting daripada lembaran kerja, pekerjaan rumah, tugas, buku laporan, dan flash card. Membacakan buku merupakan alat sederhana, termurah, dan mudah dilakukan untuk membangun pemahaman kritis anak pada sebuah wacana.

Saya jadi teringat cerita lama sastrawan Taufik Ismail saat ia bersama sejumlah sastrawan melakukan penelitian “kecil-kecilan” di sekolah internasional. Mereka mengamati kegiatan yang selalu dilakukan guru sebelum pelajaran di mulai. Selama sekitar 10 menit guru membacakan buku cerita dan murid-murid mendengarkan. Tentu saja waktu 10 menit tidak memadai untuk menyelesaikan satu cerita. Murid-murid itu penasaran dan antusias menunggu hari berikutnya untuk mengetahui kelanjutan cerita. Sebagian murid mencari buku itu di toko buku, membacanya di rumah, dan besoknya menceritakan hasil bacaannya kepada teman-temannya di sekolah. Kegiatan pembiasaan membaca di sekolah-sekolah internasional ini dilakukan untuk menumbuhkan gairah rasa ingin tahu di benak siswa sehingga saat menjalani kegiatan pembelajaran, semangat ingin tahunya terus membara.

Selain menanamkan rasa penasaran siswa, membacakan nyaring (read aloud) juga dapat digunakan untuk membangun pemahaman anak atas sebuah teks. Guru/orang tua dapat menanyakan istilah yang dirasa tidak dipahami anak. Pemahaman juga dapat dibangun melalui kemampuan membuat pertanyaan. Guru/orang tua melontarkan pertanyaan kepada anak dan sebaliknya anak didorong untuk mempertanyakan konten cerita: tokoh, motif pelaku, pesan cerita, dll.

Sekali lagi, membaca tidak sekadar mengeja huruf. Membaca juga merupakan upaya membangun pemahaman dan kritisme terhadap gagasan yang diungkapkan penulisnya.*

Tangerang, 12 Januari 2020. 21.20 WIB.