Sudah dibaca 426 kali

@LIBRARY Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional, Ahad sore 16 Desember 2007. Saya sedang di ruang panitia ketika seorang lelaki tegap berambut perak masuk. Bersama seorang penerjemah perempuan ia menyapa anak-anak yatim. Bibirnya menyungging senyum di antara gurat-gurat usia di wajahnya. Seketika saya berdiri, mendekatinya hingga ambang pintu, dan mencoba menegaskan pandangan. Ya, tidak salah lagi, dia adalah tokoh di film yang pernah saya tonton; War Photographer.

 

Film ini bercerita mengenai perjalanan seorang, menurut wartawan Andreas Harsono, fotografer perang nomor satu dunia, dalam meliput berbagai konflik diberbagai belahan dunia. Ia merambah sejumlah negara di Afrika seperti Rwanda, Somalia, dan Sudan. Ia juga pernah ke Palestina, Chechnya, dan negara-negara bertikai lainnya.

 

Bahkan ia pernah berkunjung ke Indonesia. Ia memotret kekejaman puluhan pemuda membantai seorang preman di Gang Pembangunan I, Ketapang, akhir 1998. Ia juga memotret masyarakat miskin yang tinggal di pinggir rel kerata api di kawasan Tanah Abang. Kehidupan penambang belerang di Kawah Ijen pun tak lepas dari bidikan kameranya.

 

Saya menonton film ini saat mengikuti pelatihan jurnalistik di Lampung yang diadakan oleh Pers Mahasiswa Teknokra pada akhir 2004. Usai pemutaran film diadakan sesi tanya jawab dengan Andreas Harsono, Pendiri Yayasan Pantau, sebagai pembicara. Saya berpikir pasti teman-teman takjub dengan keberanian wartawan fotografer perang itu. Namun saya belum berpikir akan dapat menjumpainya.

 

Pada akhir 2005 digelar workshop menulis cerita pendek bertema Hak Asasi Manusia di pusat kebudayaan Jerman Goethe Institute. Acara ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Swiss bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi pengkaderan penulis. Saya diminta menjadi salah satu pembicara untuk materi menggali ide.

 

Workshop diadakan tiap ahad sebanyak tiga kali. Pesertanya (pelajar dan umum) berbeda-beda dalam tiap pertemuan. Empat materi diberikan plus penayangan film War Photographer. Film ini diharapkan menjadi salah satu inspirasi bagi peserta untuk memahami bagaimana perang menistakan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Penayangan film ini permintaan Kedubes Swiss. Masalahnya, siapa yang bisa memandunya? Di antara para pembicara, cuma saya yang pernah menonton film ini. Maka saya menawarkan diri, pada panitia, untuk menjadi pemandu War Photographer.

 

Saat menawarkan diri, yang ada dalam benak saya adalah keinginan menceritakan kembali diskusi film menarik ini setahun lampau. Namun saya pun tahu diri bahwa ingatan saya tak kuat. Lantas saya mengingat Andreas Harsono. Saya hubungi dia dan meminta bantuannya apakah saya bisa diberi referensi untuk memandu film tersebut. Bersyukur Andreas berbaik hati. Ia memberi saya softcopy tulisan mengenai orang ini yang pernah ditulisnya bersama Amalia Pulungan dan dimuat di majalah Pantau.

 

Tulisan ini sangat membantu saya dalam memandu penayangan film. Usai penayangan film selalu saya sebut Andreas sebagai orang yang sangat membantu dan wartawan yang saya kagumi.

 

 

BERSELANG dua tahun saya menemukan gambar orang ini dalam bingkai foto hasil jepretan seorang teman. Waktu itu saya dan dia meliput Konferensi Khilafah Internasional yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada 12 Agustus 2007. Dari fotonya saya mengetahui bahwa ternyata orang ini berada ditengah-tengah ratusan ribu massa, meliput jalannya acara. Saya terkejut dan minta foto orang itu.

 

Dan, pada Ahad kemarin, saya menjumpainya dalam suasana tak terduga. Saya sangat terkejut dan dihinggapi perasaan senang berlebihan. Saya mondar-mandir menegaskan pandangan, dari beberapa jarak, dan memberi tahu kepada teman-teman siapa orang Amerika itu. Saya minta dua teman untuk mengabadikan gambarnya lewat kamera dan handycam. Saya pun minta mereka untuk mengambil foto saya berdua dengannya.

 

Namun saya masih dihinggapi keraguan. Saya tanya seorang perempuan bercadar yang sepertinya sudah mengenalnya. “Mbak, dia itu James Nachtwey, kan?”

 

“Iya,” jawab Roma, perempuan bercadar yang kuliah di Institut Kesenian Jakarta.

 

Lalu saya ceritakan padanya bahwa saya sudah pernah nonton filmnya.

 

Seperti biasa, saya dihinggapi keraguan bila bertemu dengan orang yang saya kagumi. Biasanya saya menjaga jarak dan tidak mendekatinya. Hanya memandanginya saja. Saya mengutarakan keinginan pada teman untuk berfoto dengannya, tapi saya enggan mendekatinya. Teman itu berkali-kali mendorong saya untuk berfoto. Akhirnya saya berhasil mengumpulkan keberanian dan mendekatinya.

 

Nachtwey sedang berbincang dengan seorang ibu yang membawa serombongan anak yatim didampingi penerjemahnya. Saya tak bermaksud mengganggu pembicaraan mereka. Saya datangi penerjemah itu dan mengutarakan maksud. “Mbak, boleh nanti saya berfoto dengannya?”

 

“Nanti saja ya,” jawab perempuan itu. “Nanti setelah ini.” Maksudnya usai Nachtwey berbincang.

 

Saya menarik napas lega sekaligus khawatir. Saya menjauh dan masuk ke ruang panitia. Saya menunggu, tapi perbincangan tak kunjung selesai. Akhirnya saya menyerah. Sebab saya harus duduk rapi di ruang itu untuk dirias karena sebentar lagi akan pentas teater.

 

Selang beberapa lama seorang teman mengabarkan James Nachtwey sudah pergi meninggalkan perpustakaan. Tiba-tiba timbul perasaan menyesal dalam hati saya; kenapa saya menyia-nyiakan tokoh yang saya kagumi.

 

Penyesalan itu harus segera saya entaskan karena sebentar lagi pertunjukan akan segera dimulai. Sesi diskusi menulis novel dengan pembicara Melvi Yendra hampir selesai. Acara seminar ‘Menulis untuk Profesi’ yang diadakan FLP DKI Jakarta hampir berakhir. Usai diskusi, acara selanjutnya adalah pemberian sumbangan kepada anak yatim dilanjutkan pentas teater Senyawa—teater di bawah naungan FLP DKI.

 

Duren Sawit, 18 Desember 2007.