Sudah dibaca 50 kali

Capture 2020-06-15 00.18.44

Pada Desember 2019, Mendikbud Nadiem Makarim mengejutkan publik. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisis X DPR, ia menyatakan ingin mengganti sistem UN. Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari keputusan ini. Pertama, UN terlalu fokus pada kemampuan menghafal. UN tidak mampu mengukur aspek kognitif siswa. Kedua, UN dinilai tidak menyentuh pengembangan karakter siswa. Ketiga, ia ingin mengembalikan peran guru yang oleh UU Sisdiknas diberi mandat untuk mengevaluasi siswa. Keempat, UN sarat masalah.

Apa saja masalah-masalah di seputar UN yang membuat dunia pendidikan kita berada di satu masa yang kelabu?

Pertama, yang diujikan hanya beberapa mata pelajaran saja seperti matematika, bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS. Seolah mata pelajaran lain tidak penting.

Kedua, UN hanya mengukur aspek kognitif. Siswa dipandang pintar kalau otaknya bisa menjawab soal-soal ujian. Sementara kelebihan siswa yang lain diabaikan. Namun, pada kenyataannya, UN tidak dapat mengukur aspek kognitif siswa. Siswa didorong untuk menghafal rumus dan kalimat, bukan berpikir.

Ketiga, UN dijadikan dijadikan alat penentu kelulusan. Proses belajar 3 tahun ditentukan hanya dalam beberapa hari? Wow! Sontak hal ini membuat siswa, orang tua, dan guru blingsatan. Sayang sudah lama belajar kalau tidak bisa lulus dan naik jenjang.

Akhirnya, selama setahun, siswa kelas VI, kelas IX, dan kelas XII dilatih keras atau di-drill dengan mata pelajaran yang diujikan. Mata pelajaran lain: No! Banyak sekolah mengajak lembaga bimbingan belajar untuk melatih siswa-siswinya. Belajar mengerjakan dan menjawab soal. Banyak orang tua juga mengirim anak-anak mereka ke lembaga Bimbel. Orang tua rela menghabiskan banyak uang demi anaknya bisa lulus UN.

Keempat, soal UN sering bocor. Sudah dijaga ketat aparat kepolisian, soal UN dan kunci jawabannya tetap beredar. Para mafia perampok dokumen rahasia negara ini dengan leluasa menjual soal dan kunci jawaban kepada orang tua yang ingin anaknya lulus UN dan dapat nilai tinggi dengan harga jutaan rupiah.

Kelima, guru di sejumlah sekolah membantu siswanya menjawab soal. Praktik kecurangan ini dilakukan dengan penuh kesadaran. Mereka takut anak-anaknya tidak bisa menjawab soal dan tidak lulus UN. Mereka khawatir tidak ingin dianggap tidak berhasil mengajar siswa. Kepala sekolahnya pun tidak ingin mencatatatkan diri sebagai sekolah penyumbang siswa gagal UN. Aparat Pemda pun tidak ingin daerahnya memiliki siswa yang tidak lulus UN.

Keenam, nilai-nilai kejujuran yang diajarkan di dunia pendidikan tercoreng tiap tahun menjelang UN. Media selalu memberitakan kebocoran soal dan ketidakjujuran sekolah. Siswa belajar tentang bolehnya berbuat curang demi tujuan individu dan kepentingan bersama.

Di sejumlah daerah, muncul kisah-kisah menyedihkan ketika kejujuran menjadi barang haram dan menjijikan. Di Jakarta, seorang siswa yang berani mengungkap sontek massal sekolahnya, dikucilkan teman-temannya. Di Surabaya, orang tua siswa diusir warga karena mengungkap ketidakjujuran sekolah. Di Sumatera Utara, ada siswi bunuh diri karena mengungkap ketidakjujuran gurunya.

Lambat laun, demonstrasi dan tekanan publik mendorong perubahan kebijakan UN. UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Hanya dijadikan alat pemetaan mutu pendidikan saja. Tapi ternyata, keputusan ini tidak membuat sekolah dan Pemda move on. Mereka masih ingin nilai UN siswa-siswinya tinggi. Tiap tahun masih saja ada sekolah mengundang lembaga bimbel, siswa kelas akhir di drill dengan mata pelajaran yang diujikan. Siswa pun tidak boleh ikut kegiatan ekskul dan lomba-lomba di luar sekolah.

Sejarah kelam UN inilah yang mendasari Mendikbud Nadiem Makarim mengganti UN dengan AKM dan Survei Karakter.  Melalui AKM, akan dipetakan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan survei karakter, akan dilihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila dilaksanakan di sekolah.

Dengan perubahan kebijakan tersebut, akankah dunia pendidikan kita, yang selama bertahun-tahun pernah tercoreng dengan sikap ketidakjujuran massal, berubah menjadi lebih baik? Kita lihat saja nanti.

Tulisan ini merupakan naskah dari video yang dimuat di kanal YouTube: https://s.id/HabisUNlaluAKM