Sudah dibaca 524 kali

Aku hampir saja nyungsep. Tadi sekitar pukul 20-an, dari arah Salemba aku melintasi pertigaan lampu merah yang menghubungkan Jalan Matraman Raya dan Jalan Slamet Riyadi. Jalanan agak sepi, sehingga motor yang kupacu masih gigi 4 dan berlari cukup kencang. Kecepatannya hanya sedikit kukurangi karena sedang di pertigaan jalanan, khawatir ada pengendara lain yang tiba-tiba nyelonong.

 

Suasana gelap. Lampu penerang jalanan tak cukup menjangkau pertigaan. Ketika itulah motorku tiba-tiba berguncang hebat. Ban motorku masuk ke dua atau tiga lubang di tengah jalanan persis dekat zebracross. Spontan aku menarik rem depan. Untunglah aku masih bisa menjaga keseimbangan, walaupun pantatku akhirnya terasa nyeri menahan guncangan. Brengsek, umpatku.

 

Lalu pikiranku memaki-maki jalanan ibukota yang rusak. Ya, aku baru benar-benar menyadari jalanan Jakarta jelek setelah naik motor sejak 13 Januari 2007. Sepertinya tidak ada ruas jalan yang mulus atau bebas “polisi tidur”. Di mana-mana lubang, baik kecil maupun besar, menganga. Mengancam pengendara. Bahkan di jalan tol sekalipun. Motorku sempat “mencicipi” ruas jalan tol pada Sabtu 4 Februari lalu, masuk dari gerbang tol Pulo Mas dan keluar di Ancol. Sebab sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani, mulai Pulo Mas ke arah Tanjung Priok (melewati Cempaka Putih) terendam air banjir.

 

Terasa sekali jalanan ibukota tambah “hancur” usai banjir berlalu. Banyak lubang di sana-sini. Aku belum melihat Pemerintah DKI Jakarta melakukan perbaikan jalanan.

 

Yang aku tidak habis pikir, apakah begitu mudahnya jalanan aspal jadi berlubang lantaran terendam beberapa hari saja? Begitu keraskah air sehingga mampu menghancurkan kerikil-kerikil kecil padat bercampur pek?

 

Aku kok berpikir negatif. Jalanan mudah berlubang karena pembuatannya tidak profesional. Tidak hanya berlubang. Jalanan bisa juga bergelombang. Keduanya sama-sama menyulitkan pengendara motor dan mobil saat melintas di atasnya. Terus, pikiran negatifku tambah nakal: jalanan banyak rusak karena anggarannya dikorupsi! Komponen standar penunjang pembuatan jalanan dikurangi dan dananya digelembungkan. Yah, anggap saja ini praduga dari orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana membuat jalanan beraspal.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 15 Februari 2007.