Sudah dibaca 527 kali

Tadi pagi aku mulai menjalankan proyek pribadi: membuat buku panduan tentang pers sekolah. Sekolah pertama yang kutuju SMAN 54 Jakarta di Rawa Bunga, Jakarta Timur. Rencananya beberapa sekolah yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler pers siswa jadi respondenku. Nara sumbernya Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru Pembimbing, dan siswa pegiat penerbitan.

 

Aku tiba di sekolah belakang Rumah Sakit Mitra Internasional itu sekitar pukul 10.30. Surat permohonan izin yang kubuat untuk Kepala Sekolah kutunjukkan pada Suyatno, petugas keamanan (satpam) di teras sekolah. Sebelumnya kuceritakan maksud kedatanganku; minta izin ke Kepala Sekolah untuk melakukan penelitian. Lalu ia menyuruhku menemui Marwoto, Kepala Tata Usaha.

 

Beberapa menit aku menunggu giliran menemui Marwoto. Maklum, antre dengan tamu lain. Marwoto bilang, sebaiknya aku menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Marpaung. Ia mengatakan aku bisa menemuinya di ruangan nomor 5, beberapa petak dari Ruang Administrasi.

 

Aku ke ruangan yang dimaksud. Di sana  seorang guru mengatakan Marpaung sedang mengajar siswa di kelas. Baru keluar pada jam istirahat pukul 12.00. Karena aku harus menunggu 40 menit lagi, aku memutuskan pergi ke perpustakaan daerah Jakarta Timur. Tinggal jalan kaki sebentar dari itu sekolah untuk mencapainya.

 

Aku kembali ke sekolah sepuluh menit sebelum pukul 12.00. Di ruang 5, seorang guru berkata Marpaung bisa ditemui di ruang guru lantai 2 saat jam istirahat. Aku beranjak ke lantai 2. Suasana sekolah masih sepi. Sebab siswa-siswi masih belajar di kelas.

 

Bel istirahat berbunyi dengan suara yang terdengar aneh. Pikiranku saja barangkali. Siswa-siswi keluar kelas. Aku yang berdiri di depan majalah dinding (mading) dekat tangga lantai 2 diam saja ketika mereka hilir mudik. Memang apa yang harus kulakukan? Teriak-teriak memperkenalkan diri?

 

Aku memerhatikan pintu yang bagian atasnya tertempel tulisan Ruangan Guru masih tertutup. Aku berinisatif bertanya ke seorang guru perempuan mengenai keberadaan Marpaung. Katanya aku bisa menemuinya di ruang 5. Wew, aku berpikir sedang dipingpong.

 

Tak berapa lama menunggu di ruang 5, Marpaung tiba. Aku disediakan tempat duduk olehnya. Kukatakan maksud kedatanganku. Tak lupa kusodorkan surat izin penelitian kepadanya. Ia membacanya. Lalu ia mengatakan aku harus mengantongi surat izin dari Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi. Sebab sekolahnya berstatus negeri. Kalau mau mengadakan penelitian, sesuai prosedur resmi, harus menyertakan surat izin tersebut.

 

Aku kembali mengutarakan maksud melakukan penelitian. Bahwa ini penelitian pribadi, tidak mewakili institusi manapun. Harapannya agar keputusannya bisa berubah. Aku tak perlu minta surat izin yang merepotkan itu. Tapi dia bergeming, tetap pada keputusannya.

 

Ya sudah, aku tidak bisa memaksa. Aku hanya berpikir, jadwal penulisan pasti mundur. Aku harus minta surat izin ke Dinas Dikmenti biar penelitianku lancar. Untuk ke sana aku belum tahu kapan bisanya.

 

Proyek pembuatan buku tentang pers siswa sebenarnya ambisiku beberapa tahun lalu. Tepatnya waktu aku masih aktif di Tabloid Kampus Transformasi Universitas Negeri Jakarta. Keinginanan itu didorong dari pengalamanku mengisi pelatihan jurnalistik siswa di SMA 115 dan SMA 43 Cilincing, Jakarta Utara, saat masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika. Antusiasme siswa dan guru, serta Kepala Sekolah di dua sekolah tersebut cukup tinggi. Malah, setelah mengadakan pelatihan untuk siswa secara reguler, Wakil Kepala Sekolah SMA 115 minta agar guru-guru diberi pelatihan menulis yang bersifat praktis. Tujuannya agar para guru bisa menulis, apakah itu menulis artikel, jurnal, maupun resensi. Memang pada 2002 itu tulisan sejumlah guru sering dimuat di sebuah harian nasional, mengulas isu-isu pendidikan.

 

Ambisi itu baru kesampaian saat ini, ketika aku sudah bekerja dan memiliki motor sebagai alat mobilitas. Konsep maupun rancangan buku sudah kubuat beberapa bulan lalu. Mulai dari daftar isi, nara sumber, daftar pertanyaan, hingga gaya penulisan. Sengaja aku memilih tema ini, selain pernah bersinggungan langsung dengan siswa, juga karena sepertinya belum beredar buku tentang penerbitan sekolah, khususnya yang mengulas secara rinci pers sekolah. Sejak awal aku meniatkan membuat buku ini untuk memuaskan hasratku bikin buku tentang jurnalisme, baik fiksi maupun nonfiksi—aku sudah menerbitkan novel “Gue Bukan Bintang di Langit” (penerbit Lingkar Pena Publishing House) pada April 2005 yang berseting sekolah bertema kegiatan pers siswa.

 

Dua rekan “juniorku” di LPM Didaktika membimbing kegiatan pers siswa. Yang satu di SMP Labschool, satunya lagi SMA Labschool. Dari mereka aku mengetahui sedikit- banyak yang dilakukan siswa-siswi dalam kegiatan penerbitan.

 

Aku belum menjawalkan kapan akan pergi ke Dinas Dikmenti. Pekerjaan utamaku sudah menunggu di depan mata. Namun yang pasti, aku akan melakukan penelitian betapapun sulitnya. Ambisi menerbitkan buku tentang penerbitan siswa harus terpenuhi. Itu salah satu agenda hidupku di tahun Babi Api ini.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 15 Februari 2007.