Sudah dibaca 498 kali

SUDAH sekitar 14 tahun udara panas Jakarta menyengat kulit Aji yang legam. Bisa jadi matahari ibu kota penyebabnya. Sebab, sejak itu ia menyambung hidup dengan mengumpulkan barang-barang layak jual, dari tempat sampah satu ke tong sampah lain yang pasti letaknya di udara terbuka.

 

Bersama Raini, istri tercinta, serta Saman dan Omad, anak ketiga dan bungsu, ia mengadu nasib ke Jakarta, meninggalkan Karawang yang tak lagi memberinya penghidupan layak. Jakarta di matanya, saat itu, memancarkan pesona harapan yang telah lebih dulu menarik hati teman-temannya.

 

Namun apa mau dikata, tak berbeda dengan teman-temannya, kemegahan gedung bertingkat dan banyaknya pabrik justru memupus mimpinya. Ia dipaksa mengakrabi sampah. Bergelut dengan kotoran dan bermacam penyakit di dalamnya. Memandang sayu perubahan Kampung Cilungup seiring pembangunan kantor camat Duren Sawit yang terletak sekitar 70 meter dari gubuknya.

 

 

DUREN Sawit hingga kini belum banyak dikenal warga Jakarta. Untuk mengenalkannya kepada teman harus menyebutkan dulu Klender dan Kalimalang. Entah kenapa, saya tidak tahu. Saya hanya menyabar-nyabarkan diri saat menerangkan bahwa keberadaannya sudah lama tercatat di peta Jakarta sebelah timur. Dekat Bekasi. Tetangga Jatinegara.

 

Sebelum kehadiran kantor camat Duren Sawit, Kelurahan Duren Sawit adalah kampung-kampung berpohon lebat dengan tanah lapang berpetak-petak. Dimusim hujan sawah-sawah dipenuhi ikan. Selokan yang membelah Kompleks IKIP—perumahan dosen IKIP Jakarta—tak pernah sepi dari pencari ikan yang menggunakan cengkaling—semacam obat kimia padat berbentuk bulat putih yang memabukkan ikan. Empang, di mana satu-dua jamban bertengger di atasnya, ramai oleh pemancing yang mengharapkan kailnya dimakan lele, gabus, betik, betok atau mujair.

 

Mayoritas masyarakatnya suku Betawi. Kebanyakan menyerut, membuat rak atau lemari kayu lalu menjualnya ke pengumpul di dekat Pasar Klender. Menjelang Lebaran, sejumlah ibu-ibu mengaduk adonan dodol di atas kuali besar berbahan bakar kayu. Tidak untuk dijual, tapi untuk konsumsi sendiri. Juga dibagi-bagi kepada tetangga dekat. Rumah-rumah berlantai tanah dan orang-orangnya mandi dengan menggosokkan batu ke sekujur kulit. Hiburan selain mendengar dangdut atau drama berseri Mak Lampir dan Tutur Tinular dari radio, menonton TVRI di satu-dua rumah ber-TV hitam-putih. Juga hiburan massal: layar tancap di Bojong.

 

Ketika kantor camat hadir di awal 1990-an, perlahan Kampung Cilungup, diikuti kampung-kampung lain, berubah. Jalan-jalan tanah diaspal. Tanah-tanah lapang berumput dan kebun-kebun dibangun rumah bertingkat. Penghuninya para pendatang baru.

 

Kantor camat sendiri berdiri di atas lapangan sepak bola yang ramai di siang dan sore hari. Menjelang peringatan proklamasi 17 Agustus dipakai untuk kompetisi sepak bola antar Rukun Tetangga (RT). Selain sepak bola, anak-anak RT 08 dan RT 013 menggunakannya untuk bermain layang-layang.

 

Pekuburan terletak di dekat lapangan itu. Seram di malam hari karena ditutupi kelebatan pohon jambu monyet. Beberapa meter arealnya tergusur pembangunan kantor camat berlantai tiga. Dan, sejak itu semua berubah.

 

Tak ada lagi kelincahan bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak muda di lapangan voli tiap sore. Lapangan kosong tak tersisa disulap rumah bertingkat. Juga tidak lagi terlihat anak-anak kecil bermain galasin, anggar, senjata ninja, benteng, gentrong, gambaran, karet, bekel, congklak, kelereng, kuda gedubrak, bengkat dan permainan lain yang semua pernah saya mainkan bersama temna-teman semasa kecil. Mainan mereka playstation, gameboy dan barang elektronik lainnya. Juga layang-layang yang sering tersangkut di antena televisi yang menjulang di atap rumah bertingkat.

 

Sawah. Tak ada lagi sawah. Yang ada petak-petak tanah tak terurus yang dihuni pohon kangkung dan tanaman liar. Sebagian besar areal persawahan, tempat warga asli menanam padi dan berladang mentimun serta kacang panjang, jalan pintas saya pergi sekolah ke TK Permata Bunda, SDN Duren Sawit 05, SMPN Duren Sawit 194, dipadati rumah. Tak terlihat lagi petani dan peladang. Tak tampak lagi kerbau membajak sawah, burung-burung emprit memakan padi, orang-orangan sawah dari jerami dan rumah-rumahan kayu tempat berteduh.

 

Rumah-rumah kian rapat. Para tuan tanah memanfaatkan lahan kosongnya dengan membuat kontrakan. Sejumlah kompleks kontrakan begitu padat dan terkesan kumuh. Kebanyakan semipermanen. Beberapa tahun belakangan ini, membuat kontrakan menjadi tren bisnis para pemilik tanah, baik warga Betawi asli maupun pengusaha tanah.

 

Bedanya, Tuan Haji pemilik tanah membangun kontrakan bertipe sederhana untuk ditinggali pendatang berekonomi menengah ke bawah. Sementara pengusaha tanah, orang luar yang membeli tanah dari para Tuan Haji, membangun rumah mewah bertingkat untuk dijual kembali kepada pendatang. Segmennya menengah ke atas.

 

Komposisi antara rumah besar milik pendatang baru dengan rumah sederhana penduduk asli (Betawi) beserta kontrakannya kian lama menunjukkan pergeseran. Rumah mewah makin tersebar rata di Kampung Cilungup yang menaungi lima RT: 08, 03, 02, 05, 10. Hampir tiap gang ada rumah bertingkatnya.

 

Selain kepemilikan rumah, hal menonjol yang membedakan antara pendatang penghuni kontrakan, penduduk asli pemilik kontrakan dan pendatang berumah mewah adalah pekerjaannya. Rata-rata pekerjaan pendatang penghuni kontrakan adalah berdagang kaki lima. Ada penjual ketoprak, gorengan, bubur ayam, nasi goreng, nasi uduk dan tukang sayur. Penduduk asli, disamping usaha kontrakan, sebagiannya buka warung di rumahnya atau menyerut. Pendatang berumah mewah, sudah pasti, pekerja kantor atau pebisnis karena mereka memiliki mobil pribadi di garasi. Ada juga dua pengusaha bengkel kayu yang terletak di RT 08 (depan gubuk Aji), RT 03 dan RT 02. Hubungan harmonis ketiga jenis warga tersebut lebih terlihat antara pendatang asli dengan penghuni kontrakannya (kebanyakan orang Jawa). Pendatang berumah mewah sedikit bersosialisasi dengan warga sekitar.

 

Kecamatan Duren Sawit sendiri terdiri dari 7 kelurahan, yaitu Duren Sawit, Pondok Bambu, Pondok Kelapa, Pondok Kopi, Malaka Sari, Malaka Jaya dan Klender. Kelurahan Duren Sawit membawahi 17 Rukun Warga (RW) dan RW 01, di mana Kampung Cilungup berada, menaungi 13 Rukun Tetangga.

 

Itulah potret kecil demografi Kampung Cilungup, yang dibatasi Jalan Swadaya Raya, Jalan Pendidikan Raya dan Kompleks IKIP. Aji, yang sudah 14 tahun berada di tengah-tengah Kampung Cilungup, sangat merasakan perubahan itu.

 

 

SEBENARNYA kali pertama Aji menghirup udara Jakarta bukan 14 tahun lalu. Jauh sebelumnya sudah ia tapaki tanah ibukota ini, yaitu saat ia berumur 15. Waktu umur 10, bapaknya meninggal dunia, menyusul ibunya yang lebih dulu tiada. Kemudian Aji kecil tinggal bersama neneknya. Oleh nenek, ia diserahi tanggung jawab mengangon kerbau.

 

Aji tumbuh menjadi anak yang bebas. Truk-truk pengangkut pasir yang tiap hari melintasi desanya menerbitkan sebuah angan-angan baru; penghidupan yang lebih baik di kota. Ya, truk-truk itu mengangkut pasir ke Jakarta.

 

Rencana disusun. Kepergiannya tidak boleh diketahui nenek. Bisa-bisa ia dilarangnya. Beberapa baju dijual untuk bekal perjalanan. Maka, disuatu hari diumur 15, Aji meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta. Menumpang gratis truk pengangkut pasir. Menyusul teman-temannya yang lebih dulu merantau ke sana. Demi hidup lebih baik.

 

Tujuan pertama Aji adalah tempat tinggal saudaranya di kawasan Senen. Senen di awal 1970 adalah daerah ‘kotor’. Di sana ia membantu saudaranya usaha pompa. Menyediakan jasa air untuk kebutuhan mandi dan buang hajat. Pelanggannya kebanyakan orang-orang liar, gembel dan pelacur. Jerih payahnya per bulan diganjar honor Rp 3.500.

 

Kondisi lingkungan seperti itu tak membuat Aji betah berlama-lama. Ia hanya bisa bertahan enam bulan. Kemudian ia pindah ke Gang Kelor, Jatinegara. Menarik becak bersama teman-teman satu kampungnya. Karena tak punya rumah dan saudara di Jatinegara, tinggallah ia di bengkel becak. Bos membolehkannya.

 

Pada 1985 Aji meminang Raini, gadis Karawang yang telah memikat hatinya. Di kampung halaman mereka menikah. Hidup bahagia dan dikaruniai empat anak; Raimin, Barkah, Saman dan Omad.

 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan agar asap dapur terus mengepul, Aji bekerja di penggilingan beras. Berhektar-hektar sawah membentang di desanya. Hingga kini Karawang masih menjadi sentra penghasil beras di Pulau Jawa.

 

Merasa penghasilannya kurang memadai dari bekerja di penggilingan beras, Aji beralih kerja menjadi penjaga tambak. Selain berhektar-hektar sawah, Karawang juga dikenal dengan tambaknya. Pemiliknya tak hanya penduduk sana. Sebagian dimiliki warga Jakarta yang menyerahkan pengelolaan tambaknya kepada penduduk desa. Seperti Aji. Para pemancingnya bukan dari Karawang saja. Warga Jakarta juga banyak yang melempar kail di sana. Termasuk warga Kampung Cilungup. Mereka, sering berombongan, berangkat pada tengah malam atau dini hari. Menjinjing alat pancing, umpan dan ember kecil.

 

Namun upah menjaga tambak belum cukup bagi Aji. Terlalu kecil untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga. Tak cukup mendongkrak penghasilan sebelumnya dari bekerja di penggilingan beras yang hanya cukup menamatkan Raimin dari bangku 5 SD dan Barkah 2 SD. Aji ingin lebih. Bagaimana dengan sekolah Saman dan Omad nanti? Mereka harus berpendidikan tinggi agar tidak seperti dirinya yang bernasib kurang baik lantaran tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

 

Kemewahan Jakarta masih menari-nari di benaknya, seolah terus menggoda untuk dijamah. Barangkali Jakarta telah berubah. Tidak lagi kumuh seperti beberapa tahun lalu. Ramah terhadap perantau dengan memberi lapangan kerja layak untuk penghidupan. Semoga di sana penghasilannya cukup untuk membiayai sekolah Saman dan Omad. Kalau ada uang lebih, bisa membeli televisi.

 

Maka berangkatlah Aji bersama Raini, Saman dan Omad ke Jakarta. Membawa segudang harap demi hidup lebih baik. Saat itu Omad, si bungsu, berumur tiga bulan dalam gendongan. Ia menjadi saksi bagaimana Jakarta memperlakukan keluarganya.

 

 

JAKARTA memang berubah. Penduduknya kian meningkat tiap tahun. Baik karena pertambahan warganya yang sebagian masih menganut asas ‘banyak anak banyak rezeki’, maupun kedatangan kaum urban yang mengais rezeki di pabrik-pabrik, pertokoan atau jalanan.

Tak semua kaum urban atau perantau bernasib mujur. Mereka kebanyakan datang bermodal dengkul. Tidak memiliki keterampilan memadai. Jadilah pengangguran merajalela. Ketiadaan penghasilan memaksa mereka membangun gubuk-gubuk di pinggir kali. Atau menempati lahan kosong yang disewakan oknum tak bertanggung jawab. Bagi yang tidak kebagian tempat, menggelandang di emper pertokoan, pinggir jalan dan bawah jembatan. Gembel dan pengemis (gepeng) bermunculan. Dari orangtua hingga anak-anak. Mengamen. Meminta-minta. Kadang mencopet. Kadang menjembret. Perempatan lampu merah selalu dipenuhi mereka.

 

Kondisi seperti itu dijawab Pemerintah Daerah dengan melakukan penggusuran di mana-mana. Alasannya menempati lahan orang lain atau mengganggu keindahan dan ketertiban lingkungan. Tunawisma menjadi-jadi. Masyarakat membenci pemerintah yang tak mampu membuka lapangan kerja. Bisanya menggusur.

 

Namun keganasan ibukota tak serta merta membunuh tekad sebagian perantau untuk bertahan hidup. Bagi mereka, bekerja di kantor, pabrik atau toko bukan segala-galanya. Masih banyak potensi lain yang bisa digarap sebagai lahan kerja penyambung hidup.

 

Sampah. Ya, sampah. Setiap produksi akan menghasilkan sampah atau limbah. Terkadang produksi tersebut membutuhkan daur ulang sampah untuk menekan ongkos produksi. Maka bermunculanlah pengumpul-pengumpul sampah dan barang bekas. Para pengumpul ini dipasok oleh pemulung. Pemulung mulai menjamur.

 

Ada kekhasan tersendiri dari pemulung ini. Mereka tinggal mengumpul di satu lokasi tertutup. Eksklusif. Dikelilingi pagar seng atau barang bekas lainnya. Entah diambil dari istilah mana, warga sekitar menyebutnya ‘kompleks marinir’.

 

Setiba di Jakarta Aji tinggal di kompleks marinir. Bersama keluarga lainnya memungut sampah. Tak mungkin minta bantuan teman-teman satu kampungnya yang lebih dulu menetap di Jakarta untuk dicarikan pekerjaan. Sebab, teman-temannya rata-rata juga pemulung.

 

Lalu bergelutlah ia dengan sampah-sampah buangan warga. Dari satu tempat sampah ke tong sampah lainnya. Menelusuri gang-gang berliku sambil menggendong karung. Selama empat tahun ia lakoni ‘profesi’ ini.

 

Suatu hari ia bertemu Herman, Ketua RW 01 yang tinggal di RT 03. Ia diminta menjadi petugas kebersihan. Dengan iming-iming gaji Rp 80 ribu per bulan, ia penuhi permintaan itu. Lagi pula pekerjaan ini masih berkaitan dengan sampah. Dan ia masih bisa mengumpulkan sampah layak jual untuk disalurkan ke pengumpul. Setidaknya, petugas kebersihan membawa status baru yang ‘lebih terhormat’ ketimbang pemulung. Sebab gerak-gerik pemulung selalu diawasi warga karena tak sedikit dari mereka melakukan pencurian.

 

 

SAAT matahari mulai bersinar dari timur, Aji bergegas ke luar dari gubuknya. Ada dua gerobak yang dipercayakan kepadanya. Diletakkan di luar ‘kompleks marinir’ depan gerbang berseng hijau. Satu ia pegang, satunya lagi bagian Saman. Saman, anak ketiganya, membantunya menunaikan tugas sehari-hari. Sebelum berangkat, nasi uduk tak pernah lupa membekali perutnya.

 

Ada lima RT yang menjadi ‘daerah operasi’ Aji dan Saman: RT 08, 03, 02, 05 dan 10. Kelima RT itu mereka bagi dua. Terkadang mereka bergantian daerah operasi untuk memupus kejenuhan.

 

Pukul 11 mereka kembali ke gubuk. Sampah-sampah warga yang layak jual disisihkan; barang plastik, kardus, kertas, botol beling, botol air mineral dan plastik kresek. Raini dengan setia membantu. Setelah disisihkan, barang-barang itu ditumpuk jadi satu dengan barang lain yang kemarin didapat. Seminggu kemudian baru disalurkan ke Yani, pengumpul yang tinggal di dekat gubuknya.

 

Satu kilogram barang-barang plastik (ember, gayung, dll) dihargai Rp 1.100. Kardus Rp 600 per kilogram. Gelas bekas air mineral yang sudah dibersihkan Rp 4 ribu/kg. Botol beling per kilogramnya Rp 150. Kertas Rp 250/kg. Botol air mineral Rp 2 ribu/kg. Dan plastik kresek Rp 4 ribu/kg—satu karung plastik beratnya 2 kilogram. Sekali menyetor, Aji dapat mengantongi uang Rp 100 ribu-Rp 200 ribu.

 

Namun akhir-akhir ini sampah layak jual agak seret Aji dapatkan. Pasalnya, sejumlah warga mengikuti jejaknya mencari barang-barang layak jual. Ini fenomena menarik sekaligus memilukan. Krisis ekonomi yang belum pulih, diperparah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak dua kali pada 2005 (Maret dan Oktober) menyebabkan semua kebutuhan hidup ikut naik. Barang sembilan bahan pokok (sembako), tarif listrik dan ongkos angkutan melonjak beberapa kali lipat.

 

Inilah yang membuat sebagian warga Kampung Cilungup gencar mengumpulkan barang-barang layak jual. Hasil menjual lemari dari menyerut atau berdagang tidak cukup. Tiada jalan lain, mengumpulkan barang bekas dan menjualnya ke pengumpul jadi pilihan. Dan Aji harus berlapang dada menerima kenyataan ini.

 

Setelah istirahat, makan siang dan salat Zuhur, pukul 14 Aji dan Saman kembali berkeliling kampung. Mengambil sampah dari rumah yang tersisa. Yang membuat hati Aji gembira, kadang ia diberi barang-barang tak terpakai oleh warga. Tentu saja ini akan menambah jumlah setoran ke pengumpul. Tak jarang ia juga diberi ‘uang rokok’; Rp 2 ribu-Rp 5 ribu. Lumayan. Ia hanya bisa mengucap terima kasih dan syukur.

 

Kalau Lebaran tiba, Aji mendapat bingkisan dan sejumlah uang dari warga. Tapi itu dari mereka yang berumah sederhana saja. Orang kaya berumah besar dan lima RT tempatnya mengabdi seolah melupakannya.

 

Inilah satu ketimpangan lain yang telah berlangsung lama. Pernahkah mereka, orang-orang kaya itu, berpikir, kalau satu hari saja sampah yang mereka tumpuk tidak diangkut Aji? Saya pernah mengalaminya. Beberapa hari setelah Idul Fitri ia tidak ‘beroperasi’. Pulang kampung. Sampah menumpuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Ingin membuang ke tempat lain bingung, karena sudah tidak ada lagi lahan kosong untuk pembuangan sampah.

 

Pukul 16 Aji kembali ke gubuk. Menyisihkan barang-barang layak jual. Lalu membuang sampah ‘tak berguna’ ke kontainer penampung sampah yang terletak di belakang kantor camat. Begitulah rutinitasnya. Senin sampai Minggu.

 

Bila ada bagian gerobak yang patah sehingga perlu dilas, atau bannya perlu diganti, Aji melapor ke Ketua RW. Kepadanya ia bertanggung jawab. Setelah semua kerusakan diperbaiki, baru ia bisa berkeliling lagi.

 

 

BARANGKALI keluarga Aji sudah ditakdirkan bergelut dengan sampah. Raimin, anak sulungnya, menjadi petugas kebersihan di kampung sebelah. Barkah, anak keduanya, bersuamikan petugas kebersihan di kampung sebelah juga. Raimin dan Barkah menyusul ke Jakarta setelah berkeluarga. Dari mereka Aji dikaruniai dua cucu yang lucu.

 

Harapan satu-satunya kini tertuju pada si bungsu Omad. Sekarang ia duduk di bangku 5 SD. Aji tak ingin anak itu mengikuti jejaknya. Sementara Saman total membantunya. Anak ketiganya ini tidak mau bersekolah. Dulu, waktu kelas 1 SD, Saman hanya masuk kelas satu hari. Ia menangis karena merasa banyak pelajaran yang harus dipelajarinya. Besoknya ia tidak datang ke sekolah untuk seterusnya.

 

Namun kekhawatiran terus menghantui pikiran Aji. Ia ingin Omad nanti melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Tapi bagaimana dengan biayanya? Biaya yang sekarang saja sudah sangat membebani. Memang SPP-nya gratis. Yang memberatkan justru uang bukunya. Ketika Omad masuk kelas 5, Aji harus menanggung uang bukunya sebesar Rp 350 ribu. Dengan penghasilan pas-pasan, uang segitu besar artinya bila harus keluar dari dompet tipisnya. Gaji per bulan dari menarik sampah Rp 650 ribu hanya cukup untuk makan dan belanja sehari-hari.

 

Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk kesehatannya. Sebagai orang yang saban hari bergelut dengan sampah, beragam penyakit mengancamnya. Tak jarang ia diserang penyakit seperti sakit kepala, sesak napas dan asma. Pernah ketika berkunjung ke rumahnya, saya mendapatinya berwajah lesu. Sudah semingga ia terserang sakit kepala. Tiga kali berobat ke puskesmas baru terasa lebih baik. Baginya ini risiko pekerjaan. Dan ia menjalaninya dengan biasa saja.

 

 

AJI. Tiga huruf saja penyusun namanya. Dari Kartu Tanda Penduduknya terbaca ia lahir di Karawang, 21 April 1954. Itu tebakan saja. Sebab ia tak punya akta kelahiran.

 

Kompleks marinir tempat gubuknya bernaung dikelilingi tembok belakang rumah tetangganya dan pagar seng. Cukup rapat kalau dilihat dari luar. Namun setelah dimasuki, akan terlihat beberapa gubuk tidak permanen berdiri ‘sebisanya’. Atapnya hanya lembaran seng, asbes, papan triplek dan kayu kaso. Beberapa bagiannya dilambari plastik yang ditaruhi pemberat seperti batu dan balok kayu.

 

Ada empat kepala keluarga yang tinggal di situ. Sejumlah gubuk kosong tak berpenghuni. Kamar mandi terletak di bagian tengah. Untuk kepentingan mandi, cuci dan kakus. Dipakai beramai-ramai.

 

Gubuk Aji, tak beda dengan yang lain, hanyalah sepetak ruangan berukuran sekitar 4 x 5 meter. Berisi ranjang, rak pakaian dan televisi 18 inci. TV itu pemberian seorang warga. Aji harus membetulkannya dulu agar TV model lama itu bisa dinikmati gambar dan suaranya. Sementara kompor sumbu diletakkan dekat pintu. Menggoreng dan merebus di situ.

 

Beruntung Aji tak perlu membayar sewa gubuknya. Semua diurus oleh Yani, pengumpul. Asal tetap menyalurkan barang-barang layak jual kepadanya seorang, ia bebas tinggal di situ. Ia hanya membayar tarif listrik yang rata-rata Rp 20 ribu per bulan.

 

Aji bersahaja menjalani hidup bersama keluarganya. Susah-senang dihadapi bersama. Tak pernah terpikir olehnya menjadi seorang petugas kebersihan bergaji pas-pasan. Yang bisa ia lakukan kini hanya ikhtiar menjemput rezeki pemberian Tuhan. “Kondisi seperti ini pasrah saja sama Yang Di Atas. Namanya rezeki sudah ada yang mengatur. Sedikit banyak Dia yang ngatur. Nggak  bisa protes. Yang penting kita ikhtiar, usaha. Masa kalau sudah ikhtiar rezeki nggak  ketemu.”

 

Aji adalah sosok petugas kebersihan bersahaja. Mengalir saja ia jalani hidup. Perubahan zaman tak membuatnya gentar mengais rezeki. Meski ia dilupakan orang-orang di sekitarnya. Meski mereka menutup mata atas jasa-jasanya.

 

 

Artikel ini ditulis sekitar tahun 2007-2008.