Sudah dibaca 746 kali

AWAN hitam menggantung di atas langit Jakarta pada akhir April lalu, memayungi deretan kendaraan yang memadati Jalan Abdullah Syafi’i hingga Jalan Casablanca Jakarta Selatan. Angin sore bertiup agak kencang bercampur polusi dan raungan kendaraan roda dua, tiga, dan empat yang saling berebut jalan. Perlahan rintik air membasahi jalan kemudian membesar.

 

Aku terpaksa berhenti, memarkir sepeda motor di bengkel mobil dekat flyover Tebet. Bergabung dengan beberapa pengendara yang sudah memarkir motor lebih dulu. Hujan turun sangat deras, pasti lama redanya. Jadwal wawancara dengan seorang pejabat di kawasan Jalan Fatmawati tak ayal urung ditepati—aku berharap teman sejawatku di lain tempat bisa mewawancarainya.

 

Beberapa ruas atap bengkel bocor. Aku mengambil tempat aman. Berdiri di sisi pagar bengkel dekat jalan. Orang-orang diam, larut dengan pikiran masing-masing. Sebagian merokok. Hm, aku selalu berusaha menghindari asap yang di buang dari mulut mereka. Tak mau aku jadi korban perokok pasif. Hati kembali memaki dan mencap bahwa kebanyakan perokok tidak peduli dengan sampah asap yang mereka buang dan dapat menyakiti kesehatan bukan perokok di dekatnya.

Tukang bajigur datang. Rupanya Tuhan mendengar jeritan hatiku untuk bisa makan makanan hangat atau menyeruput minuman hangat sembari menunggu hujan reda. Kubeli seplastik bajigur seharga Rp 2.000. Mahal kupikir.

 

Saat menikmati bajigur seorang lelaki kurus mendekatiku. Ia menyodorkan telepon selulernya. “Tolong dong nomor yang belakangnya ‘66’ dihapus.” Ini permintaan mudah. Aku memenuhi keinginannya. Aku berpikir orang  ini tidak mahir menggunakan ponsel. Tak berapa lama sebuah nomor berakhiran angka ‘66’ terhapus dari inbox teleponnya yang diikat karet.

 

Orang itu mengucapkan terima kasih dan memastikan lagi padaku bahwa nomor tersebut sudah terhapus dari ponselnya. Tak dinyana, ia menceritakan kenapa ia ingin menghapus nomor itu. “Khawatir ketahuan istri,” ucapnya.

 

Nomor itu, akunya, milik seorang perempuan penjaja seks alias pelacur atau yang keren disebut jablay—akronim kata ‘jarang dibelai’, merujuk pada ungkapan lagu dalam film Mendadak Dangdut yang dibintangi Titi Kamal. Jablay penghuni sebuah pub di kawasan Mangga Besar itu sering menghubungi ponselnya.

 

Pernah beberapa kali, saat jablay itu menghubungi ponselnya, yang mengangkat ponsel istrinya. “Untungnya tuh jablay pintar,” ucap Bapak itu. “Dia selalu mengaku salah sambung bila istri saya yang menerima telepon.”

 

Belum terbilang lama ia berhubungan dengan jablay berusia sekitar 24 tahun itu. Itu dimulai ketika ia menemani bosnya, pemilik bengkel mobil, berkunjung ke sebuah pub. Hobi bos itu main perempuan. Bos itu ‘baik’ terhadapnya. Bos tak tanggung-tanggung memberinya sejumlah uang untuk menyewa jablay lain. Hitung-hitung ongkos menunggu si bos ‘menggoyang’ jablay di sebuah kamar.

 

Katanya jablay itu berlaku baik padanya. Selain mampu memuaskan hasrat seksualnya kala bertemu—ia awalnya mengaku baru dua kali ‘memakainya’—jablay itu juga jujur. Pernah suatu hari ia diminta menemui si jablay. Ia bilang sedang tidak punya uang. Jablay tetap memaksanya bertemu, malah akan memberinya ongkos pulang. Ia tak kuasa menolak. Ia diajak jablay datang ke kosannya di sebuah jalan di kawasan Mangga Dua—ia menyebut nama jalannya padaku. Di sana ia kembali ‘bermain’ dengan jablay hingga dua kali. Pulang, dia diberi ongkos Rp 100.000 oleh jablay. Beberapa hari kemudian dia mengembalikan uang tersebut kepadanya dan mengatakan bahwa dia hanya menguji kejujuran jablay itu.

 

Hari-hari kemudian menggelisahkannya. Jablay itu masih sering menghubunginya. Anak dan istrinya mencurigainya.

 

Namun petualangan dengan jablay terus digelutinya. Si bos selalu mengajaknya berfoya-foya dan ‘merasa kasihan’ padanya bila membiarkannya kedinginan sendiri sementara ia ‘kepanasan’. Dan lelaki itu pun tak pernah kuasa menolak keinginan bos serta menahan nafsu seksnya.

 

Di sela percakapan lelaki itu tiba-tiba menarik celana pantalonnya. Ia merasa sebuah kelabang menggigit betisnya. Ia menggoyang celana sehingga kelabang jatuh namun segera menghilang di coran semen. Sesekali, sambil meneruskan cerita, ia menggaruk betisnya yang terasa nyeri.

 

Lelaki itu berusia 50 tahun. Istrinya satu dan anak beberapa. Interaksi dengan jablay sudah dilakoninya sejak bujangan. Ia tak bisa menahan libido dan menjaga keperjakaannya. Itulah masa-masa bajingan waktu mudanya. Saat kutanya apa dia juga melakukannya dengan pacar-pacarnya, dia jawab tidak. Dia tidak mau mengambil risiko menghamili anak orang sebelum menikah. Beda kasusnya dengan jablay yang disewa.

Kutanya juga apa dia tidak puas dengan hubungan intim dengan istrinya sehingga ia ‘jajan di luar’. Ia mengaku puas. Jadi, pikirku, dia memang lelaki brengsek.

 

Ia berbagi cerita padaku mengenai tips sebelum berhubungan dengan jablay. Berhubungan dengan jablay yang biasa ‘dipakai’ orang mengandung risiko tinggi. Sipilis, raja singa, AIDS, dan penyakit kelamin lainnya perlu diwaspadai. Hindari jablay yang sedang sakit. Cara mendeteksinya, kalau badannya saat dipegang hangat, berarti itu jablay lagi sakit. Sebaiknya tidak digauli. Sebelum berhubungan ia meminum obat kuat agar staminanya perkasa saat berhubungan. Ia juga mengonsumsi madu dan telur sebelum dan sesudah berhubungan.

 

Keinginan untuk berhenti, ia mengaku, ada. Namun ia tidak bisa berhenti sebelum lepas kerja dengan bosnya. Aku merasa kasihan padanya. Aku merasa ia tulus mengatakan bahwa dia ingin berhenti dari kebiasaan buruknya. Ya, ia mengaku itu perbuatan dosa dan merasa berdosa dengan anak-istrinya. “Anak dan istri saya rajin shalat,” katanya. “Terus kapan Bapak mau insyaf?” sindir saya. “Ya nanti mungkin setelah tidak kerja sama bos sekarang.”

 

Percakapan itu selesai ketika hujan reda. Ia meninggalkan bengkel dengan sepeda motornya. Aku menaruh harap ia mau berubah. Sesekali dalam dialog kusisipi kata-kata refleksi agar ia mau dan berani berubah. Yah, cuma itu yang kubisa. Aku tidak bisa memaksanya untuk berubah.

 

Sepeninggalnya aku mendoakan lelaki itu agar bisa berubah dan mendapat hidayah. Kubacakan Surat al-Fatihah untuknya. Tapi, saat aku hendak membaca Ayat Kursi, ingatanku mengabur. Aku lupa baca Surat al-Baqarah ayat 255. Aneh, tidak biasanya.

Angin malam menyeluti tubuh. Jalanan basah. Kendaraan roda dua, tiga, dan empat memacu laju di atas jalan yang tidak begitu macet. Di atas sepeda motor menuju rumah, usai shalat Maghrib, hatiku bertanya-tanya: apa maksud Allah mempertemukanku dengan orang seperti itu. Kenapa aku diberi pengetahuan mengenai dunia jablay lewat lelaki itu? Haruskah aku mengetahuinya?

 

Aku meyakini bahwa memang aku harus mengetahuinya. Barangkali suatu hari aku bisa  menggunakan informasi itu untuk suatu keperluan. Pengetahuan memang sebaiknya tidak usah dilenyapkan walau kadang terasa tidak berguna. Dan bagiku tidak ada pengetahuan atau pengalaman yang tidak berguna, setidaknya bagi seorang penulis seperti aku.

 

Barangkali Allah ingin menegaskan kembali padaku, bahwa untuk berubah ke arah yang lebih baik harus ada yang dikorbankan atau ditinggalkan. Lelaki itu tahu ia melakukan perbuatan dosa, namun ia tidak mau meninggalkannya karena takut kehilangan pekerjaan. Sekarang mana yang dia tuhankan, rezeki berupa uang dan pekerjaan atau Sang Pemberi Rezeki alias Allah SWT?

 

Tidak mau meninggalkan pekerjaan itu berarti ia memelihara penindasan terhadap istri dan anak-anaknya. Ia tidak khawatir kotoran yang ia dapat dari perempuan lain turut ia transfer ke rahim istrinya. Ia tidak menyadari darah yang mengalir di pembuluh-pembuluh darah anak-istrinya berasal dari rezeki haram dari bosnya. Apa yang ia harapkan pada Tuhan yang telah ia ganti dengan uang dan nafsu?

 

Lingkungan tidak hanya berpengaruh pada pola pikir dan perilaku. Lingkungan juga sangat berpengaruh pada keimanan seseorang.

 

Pengetahuan datang kapan dan di mana saja. Tinggal kita memaknainya. Saat makna sebuah peristiwa mampu kita singkap tabirnya, itulah hikmah. Ada pelajaran berharga di tiap peristiwa. Hanya orang bodoh yang tidak bisa memetiknya.

 

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 2 Juni 2008.