Sudah dibaca 528 kali

Sejak pagi langit Duren Sawit tersaput mendung. Hujan seperti enggan turun. Hanya rintik yang datang menitik-nitik pertanda mentari tak menyambangi langit Jakarta hari ini. Semilir angin dingin yang bertiup sepanjang pekan ini membuat tiap orang ingin berlama-lama merajut mimpi.

 

Cuaca tak bersahabat pagi ini tak membuat Pos RW 01 Kelurahan/Kecamatan Duren Sawit sepi. Teras pos, yang juga jalan umum, dijejali anak-anak usia 3-5 tahun dan ibu-ibu pendamping. Aku datang ke pos saat mereka memasuki jam istirahat, sekitar pukul 9.45. Jam istirahat diisi dengan acara makan dan jajan bersama. Beda dengan minggu lalu, jajanan laris pagi ini bubuk gula yang dibungkus telur plastik.

Baru saja tiba, Sarifah, gadis cilik berwajah bulat berambut sebahu, menyambutku dengan senyum manisnya. Ia mendekatiku dan mengulurkan tangan mungilnya. Ia mencium punggung tanganku. Beberapa anak mengikutinya.

 

Sebenarnya aku sedang tidak bersemangat. Barangkali karena kecapekan lantaran beberapa hari kemarin terlalu sibuk dan sering tidur larut malam. Bayangan akan mengajar apa baru tadi pagi muncul.

 

Namun aku harus tetap mengajar. Nanti setelah bertemu anak-anak suasana hati pasti akan berubah cerah, batinku. Berinteraksi dengan anak-anak, hanya kesenangan yang terasa.

 

Sebelum mengajar, ada satu kejadian yang membuat tiap orang menyungging senyum. Seorang gadis cilik melepas celananya untuk pipis. Ibunya, yang berada beberapa jarak di dalam pos, memintanya tidak melakukan demikian. Ia segera mendekati anak itu dan membawanya ke kamar mandi dalam pos. Saat digendong tangan anak itu menjulur keluar dan terlihat tiga tato menempel di lengannya. “Wah, preman juga!” bisikku.

 

Hari ini peserta Pendidikan Anak Usia Dini relatif banyak ketimbang Selasa lalu. Maklum, hujan tidak mengguyur. Aku mengajarkan ungkapan mengenai kebiasaan anak-anak, yaitu makan, minum, main, dan menangis. Tentu saja diselingi nyanyian dan ungkapan yang pernah diajarkan sebelumnya. Aku juga mengajarkan lagu ‘Aku Seorang Kapiten’ yang ternyata belum mereka kuasai—lagu lain seperti Sayonara, Naik-naik ke Puncak Gunung, dan Naik Keretai Api sudah mereka hapal.

 

Anak-anak, pagi ini, seperti sulit diatur. Belum dimulai, beberapa anak duduk disampingku dan sepanjang belajar mereka bermain sendiri. Beberapa kali aku minta mereka diam. Yang lain berebutan menghapus tulisan di whiteboard dengan jari. Aku jadi membagi perhatian antara anak-anak yang duduk di depanku dan anak-anak di samping dan belakangku. Untuk menarik perhatian, kuajak mereka bernyanyi sambil berdiri. Juga melakukan ‘Tepuk Diam’.

 

Aba-aba ‘Tepuk Diam’ kucontoh dari Bu Ani. Bila diberi aba-aba ‘Tepuk Diam’, anak-anak akan bertepuk tangan tiga kali lalu mendesis “Sssttt…” sambil memonyongkan mulut dan menempelkannya dengan telunjuk kanan. Setelah itu mereka diam.

 

Mereka diam hanya sebentar. Setelah itu sibuk lagi dengan diri atau teman lain bila perhatiannya tidak berhasil kucuri. Aku melontarkan pertanyaan ulangan namun hanya sedikit anak yang menjawab. Kadang suara jawaban yang lebih dulu terdengar berasal dari ibu-ibu yang duduk di sebelah kiri.

 

Di tengah mengajar, peluh bercucuran memenuhi wajahku. Aku baru menyadarinya saat peluh mengucur deras dan kadang aku sengaja tidak mengusapnya—biar jatuh sendiri. Aku tidak mau terlihat capek di hadapan anak-anak dan ibu-ibu. Aku ingin selalu terlihat ceria dan bersemangat.

 

Setengah jam kemudian pelajaran kututup. Aku minta bantuan Bu Ani untuk menutup pertemuan—dengan berdoa dan bernyanyi—lantaran aku belum hapal nyanyian penutup.

 

 

Proposal

Setelah anak-anak dan ibu-ibu pulang, pos berubah sepi. Napi, lelaki bertubuh tambun, sibuk membereskan karpet dan tikar. Rumah Napi di samping Pos RW. Sejak kecil aku berteman dengannya—namun dia lebih tua dari aku dan belum menikah. Sepertinya dia relawan PAUD bagian bersih-bersih.

 

Aku duduk di atas karpet di dalam pos bersama enam ibu-ibu—Bu Ani mengajak anaknya. Sejumlah foto acara kunjungan ke Ragunan bergantian berpindah tangan. Aku senang melihat pose anak-anak dalam foto.

 

Salah satu topik pembicaraan dalam pertemuan itu tentang pendanaan kegiatan PAUD. Bu Ani mendengar kabar dari temannya yang juga pengajar PAUD di tempat lain, bahwa pemerintah telah menggulirkan bantuan dana kepada pengelola PAUD. Dana operasional dijatah Rp 4 juta per tahun, Rp 1,2 juta untuk honor pengajar per tahun, dan ada pula dana untuk PKK—Bu Ani tidak tahu jumlahnya. Bu Ani bertanya, apakah PAUD Nusa Indah RW 01 sudah resmi terdaftar di Kelurahan Duren Sawit dan pengajar sepertinya diberi ‘tunjangan’.

 

Bu Suhono, Sekretaris PAUD, mengatakan, PAUD Nusa Indah sudah terdaftar di kelurahan dan kegiatan ini sudah setahun lebih berjalan. Namun dana dari pemerintah atau kelurahan belum pernah turun. Sejak September 2007 janji mendapat kucuran bantuan dipegang namun hingga kini tak pernah jadi kenyataan.

 

Sebenarnya momen pembicaraan inilah yang kutunggu-tunggu. Aku ingin membantu memperingan pemerolehan dana yang memang seharusnya menjadi hak PAUD Nusa Indah. Selain upaya mendapatkan dana dari pemerintah, aku mengusulkan agar pengumpulan dana lewat masyarakat juga dilakukan. Lewat sistem donatur. Ini adalah kegiatan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Makanya harus didukung oleh seluruh masyarakat. Orang-orang mampu banyak di RW 01, tinggal memberdayakan dana mereka saja.

 

Maka perlu adanya profil yang jelas mengenai keberadaan PAUD Nusa Indah, mulai dari kegiatan, struktur organisasi, staf pengajar, dan pengelola. Profil ini dapat dijadikan bahan pembuatan proposal pengumpula dana. “Kita mencari dana bukan sebagai peminta-minta,” kataku pada ibu-ibu, “melainkan fasilitator yang menyalurkan harta mereka kepada masyarakat.”

 

Proposal dibuat semenarik mungkin. Pengelolaan dana juga mesti transparan. Calon donatur harus tahu terlebih dahulu mengenai kegiatan PAUD Nusa Indah. Mereka juga akan diberi laporan periodik penggunaan dana. Dengan begini diharapkan mereka merasa memiliki PAUD dan tidak sia-sia menyumbangkan sebagian hartanya untuk membangun pendidikan masyarakat di lingkungannya.

 

Aku juga mengatakan bahwa nanti akan dibuatkan website PAUD Nusa Indah. Gunanya agar masyarakat (dunia) mengetahui aktivitas PAUD Nusa Indah. Bila bersimpati dan hendak menyalurkan sumbangan, mereka dapat mengirimkan dananya ke nomor rekening yang tertera di website. Donatur juga dapat menerima laporan penggunaan dana lewat kiriman surat elektronik (email).

Bu Suhono sudah membuat proposal permohonan dana. Dari dalam tas ia keluarkan sebuah proposal tipis terjilid. Proposal itu terlipat dua, mengapit kertas kuitansi. Sepintas dari luar terlihat proposal itu sangat tidak menarik. Bu Suhono juga mengakuinya. Proposal itu pernah ia bawa berputar kompleks untuk mencari dana.

 

Aku menawarkan diri membuatkan proposal asal bahan tulisan yang dibutuhkan terkumpul, seperti profil organisasi, daftar pengelola dan staf pengajar, dan daftar peserta PAUD—rencananya Kamis 28 Februari besok dikumpulkan. Ibuku menegaskan kembali agar ibu-ibu mengumpulkan bahan-bahan itu untuk diberikan padaku.

 

Bagaimanapun pendidikan masyarakat adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Sebesar-besar dana mengalir, bila masyarakat tidak aktif mengelolanya, maka sia-sialah dana tersebut. Sebaliknya, bila kegiatan berjalan lancar namun tidak ditopang dana, kegiatan pendidikan masyarakat tidak berjalan sesuai harapan. Anak-anak dari golongan ekonomi lemah, yang tak mampu mengakses pendidikan yang mahal, memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dari masyarakat. Dan masyarakat bertanggung jawab memenuhi hak mereka.

 
Duren Sawit, Jakarta Timur. Selasa 26 Februari 2008.