Sudah dibaca 495 kali

Shalat isya baru saja selesai ketika saya melihat orang-orang bersarung dengan peci dan kopiah duduk-duduk di seberang masjid. Sebagian di antaranya menggelar karpet hijau dan tikar. Sebagian lagi mengepulkan asap rokok sembari melempar pandang ke arah jamaah shalat isya, orang-orang dekat saya yang berdiri di teras masjid mencari sandal.

Sejenak saya berpikir, apakah saya akan bergabung dengan mereka. Tak ada rencana sama sekali dari rumah, setelah shalat isya, ikut tahlilan atas wafatnya nenek tua yang tinggal tepat di seberang masjid—saya dan orang-orang memanggilnya ‘Nyai’.

Nyai istri Haji Gentol, lelaki ringkih namun getol shalat jamaah di masjid. Tiap Lebaran saya dan keluarga tak pernah lupa menyambanginya untuk sekadar bersalaman dan minta maaf. Ia sudah pikun sehingga saya beserta keluarga mesti menyebutkan nama keras-keras di telinganya agar diingatnya.

Dulu, sebelum pikun dan kondisi kesehatannya masih baik, saya biasa melihatnya duduk di depan warung sayuran miliknya saat melintas atau membeli sesuatu. Tubuhnya agak bongkok dengan uban mendominasi sekujur rambut panjangnya. Kendati saya cuma melintas dengan jalan agak cepat di depannya lalu menyapa, “Nyi,” ia membalasnya dengan senyum dan menyebut nama saya dengan suara lirih. Begitulah hubungan saya dengan Nyai. Tidak terlalu akrab namun saling senyum tiap bertemu.

Ketika Nyai meninggal, saya tak sempat takziyah ke rumahnya. Saya cuma mendengar ceramah dari corong masjid yang disampaikan oleh beberapa ustad—Nyai dulu aktif ikut pengajian di kampung.

Mengenang hubungan saya dengan Nyai menarik niat saya untuk bergabung dengan jamaah tahlilah itu. Malam itu malam ketiga Nyai meninggal dunia. Ia meninggal di suatu pagi yang belum panas.

Rumah Nyai diapit sebuah kios pulsa dan rumah tukang es kelapa. Kedua tempat itu, terutama kios pulsa yang disewa oleh orang yang masih famili Nyai, digunakan jamaah untuk tahlilan. Etalase kaca tempat memajang telepon seluler dan kartu voucher digeser ke dalam.

Karpet dan tikar digelar. Saya mengambil tempat di bagian belakang bersama orang-orang yang saya kenal—saya hanya mengenal muka tanpa tahu nama orang-orang di situ.

Saya mengedarkan pandang. Keheranan dan ketakjuban muncul. Beberapa orang yang tidak pernah saya lihat menyambangi masjid, atau hanya beberapa kali shalat di masjid, duduk santai diatas karpet. Asap mengepul dari mulut mereka. Mereka, sebut saja, Somad, Mamat, dan Udin.

Somad masih saudara kandung imam masjid. Rumah mereka saling berhadapan. Hanya rumah Somad di pinggir jalan gang. Tiap saya ke luar gang pastilah melewati rumah Somad.

Barangkali Somadlah, di antara para tetangganya, yang paling banyak memiliki anak. Sekitar 11 orang. Ia sering nongkrong di belakang rumah—menghadap jalan gang—dan pinggir jalan. Rambutnya keperakan karena uban. Saya mengingat-ingat, sepertinya saya tak pernah melihatnya shalat di masjid yang cuma sekitar 30 meter jaraknya dari rumahnya, baik shalat Jumat maupun shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).

Rumah Mamat di seberang rumah Somad. Tempat favorit nongkrong lelaki jangkung itu di teras rumahnya dan di pinggir jalan dekat mulut gang. Kadang saya melihatnya shalat Jumat di masjid, namun lebih sering jarangnya.

Somad dan Mamat memiliki beberapa kesamaan. Pertama, gemar memancing. Kedua, senang menghabiskan waktu dengan nongkrong di pinggir jalan. Ketiga, jarang menyambangi masjid. Saya, sejak dulu, memanggil mereka “Abeh”, sebuah panggilan akrab saya pada para orangtua laki-laki—saya memanggil “Enyak” pada para orangtua perempuan yang notabene bersuku Betawi.

Rumah Udin persis di samping rumah Nyai. Saya kurang mengenalnya, namun sering kali melihatnya saat mulutnya mengapit batang rokok. Tak pernah saya melihatnya, di hari-hari selain Idul Fitri dan Idul Adha, bersarung dengan peci di kepala menyeberangi masjid di depan rumahnya dan shalat di dalamnya.

Tapi Somad, Mamat, dan Udin hadir dalam tahlilan malam itu. Sesekali, ditengah tahlilan, saya mencuri pandang ke arah mereka, sekadar memerhatikan mulut mereka apakah mengucapkan bacaan-bacaan surat al-Qur’an. Saya dapati ketiganya hanya komat-kamit kecil dan tak tampak antusiasme menapak di wajah mereka.

Saya lupa pada momen apa pikiran ini melintas: seandainya shalat adalah tahlilan. Bagaimana tidak? Jamaah shalat isya lebih sedikit daripada jamaah tahlilan di seberang masjid! Apakah semua jamaah tahlilan sudah pada shalat isya? Saya tidak tahu dan tidak ingin menduga-duga. Jika sebagian mereka sudah shalat isya, pastilah dilakukan di rumah masing-masing. Sebab letak masjid lain dari rumah Nyai agak jauh, sementara kebanyakan jamaah tahlilan adalah anak, cucu, dan tetangga Nyai yang tinggal di samping, belakang, dan sekitar rumah Nyai.

Seandainya shalat sebuah tahlilan. Tak ada maksud saya ingin mengganti ritual ribuan tahun lalu itu dengan ritual lokal ratusan tahun lalu. Itu cuma pikiran nakal, sebuah gugatan terhadap masyarakat yang menganggap tahlilan lebih penting ketimbang shalat berjamaah di masjid. Jika usai shalat berjamaah dihidangkan makanan dan rokok sebagaimana tahlilan, apakah jamaah shalat akan selalu banyak? Barangkali. Jadi, kalau begitu, apa makna shalat sesungguhnya?

Kabur. Barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan pemosisian shalat berjamaah oleh masyarakat kontemporer, setidaknya masyakat kampung saya. Shalat berjamaah tidak lagi memberi nilai mulia di mata mereka.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 2 Februari 2010