Sudah dibaca 446 kali

Kamu bilang jika aku dekat dengan-Nya, maka ia akan memenuhi kebutuhanku sebelum aku minta. Atas saranmu ini aku berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Kuulang terus asma-Nya di berbagai kesempatan. Kusyukuri nikmat-Nya yang kuterima kala pagi, siang, dan malam berganti.

Tanyalah pada semilir angin, berapa juta tarikan napas yang memenuhi paru-paru ini menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil. Tanyalah pada air, berapa liter kesucian yang merayapi liku lekuk tubuh ini dan berganti rukuk-sujud di rumah-Nya. Tanyalah arah, di manapun kuhadapkan wajah ke timur, barat, utara, dan selatan, selalu terlihat wajah-Nya.

Debu menjadi saksiku ketika kezaliman itu memaksaku meneguk anggur keabadian, aku memilih berkubang dalam pasir, lumpur, dan kotoran-kotoran yang kaupun enggan menatapnya. Rumput-rumput menyenandungkan kepedihan saat kaki ini tertatih melangkah menghindari hujaman panah-panah iblis dari negeri para pendosa; tubuh mereka amis karena anyir darahku menggenang ke segala penjuru taman.

Hingga saat itu aku merayapi bumi, menggenggam sejumput tanah, meremas-remasnya seraya menggemerutukkan gigi. Berlinang air mata ini menahan nyeri di sekujur tubuh remuk tak bertulang; aku tak bisa berdiri, tak bisa membuka kelopak mata, tak bisa merintih. Aku hanya bisa menderaikan air mata.

Lalu cahaya itu datang, terang sekali, membutakan mataku. Aku tertelan olehnya.

Tahukah kamu setelah itu apa yang terjadi padaku? Aku melayang-layang kemudian melesat dari satu istana ke istana lain. Menyapa dua bidadari dari 36 enam istana yang kusambangi. Mereka menarik dan memelukku, menawarkan kenikmatan surgawi, namun entah kenapa hingga istana ke-36 tubuh ini enggan disentuh.

Lalu aku berjalan di atas jembatan yang di bawahnya mengalir sungai susu. Pohon-pohon berbuah emas menghias di pinggir-pinggirnya.

Di ujung jembatan berdiri istana megah. Dinding-dindingnya ukiran kaligrafi Asmaul Husna. Atap dan lantainya selembar papan tembus pandang di mana terlihat awan dan air bergerak tenang.

Aku masuk dan mengagumi seisi istana. Hingga berujung pada sebuah singgasana. Dari singgasana turun seorang perempuan jelita. Wajahnya ayu memesona. Pipinya lencir seranum semangka. Bibirnya mungil indah tiada tara. Tubuhnya terbungkus gaun pengantin berwarna pelangi.

Di depanku ia mengulurkan tangan. Kulihat tangannya indah menawan. Susunan tulangnya tampak begitu transparan.

Saat kusambut telapak tangannya hendak kukecup, ia menarik lengannya. Lipatan gaun di lengannya ditarik menutupi senyum manisnya. Ia tersipu malu padaku. Pipinya merona merah jambu.

Kemudian ia berjalan menuju pintu di pojok ruangan. Ia menoleh ke arahku sebelum membukanya, mengedipkan mata, dan masuk ke dalamnya. Kususul dia, kubuka pintu itu, dan kulihat di dalamnya sebuah ranjang besar dengan seprai bersulam kain emas, berhias berlian, dan permata berjuntai-juntai. Ruangan itu harum semerbak. Lantainya bertabur kembang tujuh rupa.

Pandang mataku tak menangkap bidadari itu. Lalu kurasakan sebuah kekuatan menggerakkanku untuk berbaring di atas ranjang.

Aku berbaring dan memejamkan mata. Hingga aku kembali ke dunia.

Dan kini kamu menasihatiku untuk menunggu kehadirannya. Kamu bilang ia pun sedang menungguku. Kamu juga bercerita, hujan yang turun membasahi bumi adalah air mata penungguannya. Kalau begitu, izinkan aku menjadi pasir-pasir yang menjadi wadah air matanya. Biar kutanya tiap tetesnya di mana ia berada. Biar kutitipkan salam rindu dari seorang gembala.

Baiklah, baiklah, aku memang memercayaimu. Jika aku dekat dengan-Nya, Ia pasti akan memberiku walau tak kuminta. Bidadari surga yang turun ke dunia.

Hingga hari berdetak tak terperi-peri, kepasrahan itu kian lama membuatku gelisah. Haruskah aku menunggu sabda-Nya Kun Faya Kun? Atau Ia ingin aku menjemputnya?

Di gerbang sunyi ini, aku duduk menatap langit. Menunggu kabar pada angin yang mendesau, burung yang mencericit, daun yang terbang melambai, debu yang berguling-guling di udara, cahaya yang merambat di atas kepala. Andai sedikit saja terdengar suara halus merdu dari segala penjuru, akan kukejar ia, kugenggam jemarinya, dan kuselipkan cincin permata yang kucuri dari istana para raja.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 1 Oktober 2009.