Sudah dibaca 551 kali

Di satu sore menjelang maghrib Nuri mendatangi Bul-Bul lalu berkata, “Duhai Bul-Bul, akankah kau berikan aku waktu satu menit saja untuk bercengkrama dengan mawarmu?”

Bul-Bul menatap Nuri, berusaha menyelidiki sikapnya. “Aku yakin engkau sedang mengalihkan masalahmu, temanku. Sudahlah, aku tahu engkau baru saja melewati satu masa yang membuatmu sedikit bersedih. Dan, kau tahu, aku tak mungkin meninggalkan mawar-mawar ini.”

“Kalau kau tahu aku baru saja mengalaminya, kenapa tidak kau beri aku kesenangan? Bukankah kau menganggapku teman?”

“Aku rela saja memberikannya, tapi itu justru malah menyiksamu, kawan. Sudahlah, nikmati saja hidup ini. Seperti roda, nasib selalu berganti suasana. Mawarku ini pun tak menjamin membuatmu tenang setelah menyesap aromanya.”

Nuri mendongak menatap awan. “Andai kau izinkan, aku ingin menyesap wangi mawar sambil menatap langit biru itu.”

“Tidak, tidak,” sergah Bul-Bul, “aku khawatir itu malah akan membuatmu mabuk.”

“Aku sudah lama mabuk, kawan. Lihatlah kebun anggur di sebelah sana. Aku sama sekali tak tertarik mengambilnya karena anggur yang selama ini ku teguk tak mungkin dikalahkan oleh khasiat anggur-anggur lain.”

“Kau tidak sedang bergurau, kan, kawan? Ah, mungkin kau sedang putus asa! Tapi biarpun kau tawarkan anggur sejuta rasa mabuk milikmu, tak akan memalingkanku dari mawar ini.”

”Terserah kamulah, kawan.” Nuri merasa usahanya sia-sia. ”Aku sudah bertanya pada rajawali tentang masalahku ini. Katanya, kalau mau keluar dari masalah, maka aku harus melintasi padang pasir yang luas.”

”Kau memercayainya?” Suara Bul-Bul terdengar menyelidik. ”Di sana hanya pasir dan unta yang akan kau temui. Oase mana yang akan melepas dahagamu?”

”Oh Bul-Bul, haruskah aku menceritakanmu tentang kisah Nabi Ibrahim yang tak pernah putus asa di negeri padang pasir?”

”Sudahlah, dulu ibuku sering menceritakannya. Dari kisahnya aku hanya tertarik pada cara manusia mulia itu berpikir tentang bintang, bulan, dan matahari.”

”Ya, ya, itulah yang barangkali ingin rajawali inginkan dariku. Ia ingin aku mengikuti cara Bapak Para Nabi itu mengenal Pencipta Alam. Ya Tuhan, aku baru menyadarinya!”

“Kau yakin dengan mengikuti sarannya hatimu akan tenang?”

”Apa aku tadi berkata hatiku sedang tidak tenang?” Nuri menghela napas perlahan. ”Sudahlah, itu tidak penting!”

”Kau memang tidak mengatakannya, tapi sikapmu yang berkata demikian. Sumber dari segala kegundahan dan masalah adalah hati yang kotor. Kalau hatimu kotor, percayalah semua makanan haram akan kau pandang halal.”

”Apa kau sedang menceramahiku, Bul-Bul?” Nuri merasa tidak senang.

”Ha..ha..ha…” Bul-Bul tertawa hingga tubuhnya berguncang. ”Bahkan sekarang kau sedang memberitahuku tentang kekalutan hatimu, kawan!”

”Jangan permainkan aku, Bul-Bul! Aku bisa saja merampas mawar itu darimu dengan mudah. Tapi aku, kau tahu, tidak akan melakukannya.”

“Sekarang kau menganggap dirimu berhati baik. Oh Nuri, sudahlah, tenangkan dirimu. Sekarang senyumlah, karena sebentar lagi masalahmu akan pergi.”

”Bagaimana kau tahu masalahku akan segera pergi?”

”Hah? Kau bertanya padaku soal itu? Kau sudah tahu jawabannya, Nuri! Begini saja. Mari kita duduk di dahan ini sambil menikmati udara sore yang dingin. Lalu, kalau langit biru itu tak bisa mengantarkanmu melupakan masalah, kuberikan mawar ini agar bisa menghapus memori yang menyesakkan pikiranmu.”

”Aku tak bermaksud menghapus memori itu, Bul-Bul. Tidak! Bahkah aku tak mengizinkan mawarmu menyentuh memoriku tentangnya. Biarlah ia berlabuh di sebagian isi otakku. Mungkin, suatu saat, aku akan kembali menyapanya jika sikapnya berubah.”

“Kau yakin, saudaraku?”

“Kenapa lagi-lagi kau utarakan pertanyaan seperti itu? Aku berjalan sesuai keyakinanku sebagaimana kau yakini mawar adalah belahan jiwamu. Tapi, soal ide duduk bersama menikmati udara dingin dan memandangi langit sore, aku setuju. Sudah lama kita tak membicarakan hal-hal kecil namun sangat penting bagi hidup kita.” Nuri meloncat-loncat di atas dahan pohon pinang. ”Kau mau menemaniku, Bul-Bul?”

Bul-Bul mengulas senyum pada Nuri. “Kau teman baikku, Nuri. Jika itu membuatmu bahagia, aku akan senang melakukannya. Aku tak akan meminta apa-apa darimu kecuali perhatian seorang teman. Dan, hari ini, aku akan memberikannya padamu.”

 

Bogor, 2 Agustus 2009. 00.37 WIB