Sudah dibaca 589 kali

Jumat 3 Juli 2009 lampau saya bertemu Tengku Rusman saat jumaatan di Masjid Baitut Thalibin, Kompleks Departemen Pendidikan Nasional, Senayan, Jakarta. Ia guru sejarah saya saat bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Telkom Sandhy Putra Jakarta—sekarang dia guru SMAN 63 Jakarta. Saat saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta, saya juga bertemu dengannya sebab ia mengambil gelar master di kampus yang sama.

 

Selalu saja, yang terkenang saat bertemu dengannya adalah diskusi pelajaran sejarah saat saya duduk di kelas 2 dan 3. Ia membentuk kelompok dan masing-masing kelompok ditugaskan membuat laporan suatu topik yang kemudian dipresentasikan di depan kelas. Ia akan memberi nilai kepada anggota kelompok yang rajin dan tepat menjawab pertanyaan dan siswa penanya. Dalam tiap kesempatan, saya selalu berusaha menjadi penanya atau penjawab yang baik.

 

Di situlah saya memahami arti penting sebuah diskusi kelas. Siswa diajak untuk mencari dan memahami sebuah tema lalu menceritakannya kepada orang lain. Selain melatih kemandirian, juga melatih keberanian dan kemampuan retorika. Sebuah metode pembelajaran yang baik.

 

Ia selaku guru banyak diam dan mengamati suasana diskusi. Ia bicara untuk meluruskan jawaban siswa dan memberi rangsangan agar siswa mau terus menemukan jawaban-jawaban baru. Dan, ia membebaskan siswa menggunakan referensi apa saja dalam menggali tema.

 

Hal inilah yang saya adopsi saat menjalani praktik mengajar di sebuah Sekolah Teknik Menengah di kawasan Matraman, Jakarta Timur, tahun 2005. Praktik mengajar merupakan mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan yang wajib diambil mahasiswa jurusan pendidikan di UNJ.

 

Saya mengajar mata pelajaran Komputer. Oleh guru pembimbing saya dibebaskan menggunakan metode dan alat mengajar apa saja. Kesempatan itu saya gunakan untuk menerapkan metode mengajar sebagaimana yang saya dapat di bangku sekolah. Pertanyaannya, apakah sesuai metode diskusi dipraktikkan pada pelajaran Komputer?

 

Waktu itu saya tidak peduli apakah sesuai atau tidak. Sebab saya yakin metode ini banyak sekali manfaatnya. Dapat dipraktikkan pada pelajaran apapun. Selain manfaat-manfaat yang saya sebutkan di atas, siswa juga diajarkan untuk bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.

 

Itu benar-benar terbukti. Pada awal diskusi, guru pembimbing masih duduk di kursi depan kelas. Peserta diskusi bicara sopan sekali. Formal. Namun, ketika guru tersebut keluar kelas, suasana diskusi berubah drastis. Anggota kelompok yang tadinya santun menjawab pertanyaan berubah menjadi beringas. Nama-nama binatang penghuni Ragunan terlontar tak terkendali. Ungkapan-ungkapan ancaman juga bermunculan.

 

Tak mau kalah, siswa penanya ikut beringas. Bahkan mereka berdiri jika pertanyaannya dilecehkan atau dijawab dengan tidak memuaskan.

 

Saya diam saja mengamati suasana diskusi yang bagi saya sangat menarik. Kadang saya mengulas senyum saat satu, dua, dan tiga siswa bersitegang. Sifat asli mereka keluar. Saya biarkan mereka berdebat, saling menyinggung, bahkan menghina, asalkan tidak main fisik. Diskusi kelas berubah menjadi umpatan jalanan. Tak mengapa. Saya hanya menjaga agar diskusi mereka proporsional dan tidak keluar dari tema yang telah ditentukan. Dan, berhasil!

 

Memang begitulah cara mereka berlaku. Saya memaklumi. Sebagian mereka anak-anak kurang mampu, broken home, banyak di jalan. Di Jakarta, sekolah ini tergolong ‘menyeramkan’. Jika di beberapa penjuru ibukota ini sejumlah dinding dan fasilitas umum terdapat grafiti bintang david, merekalah pelakunya.

 

Namun, di kelas itu, saya melihat ada “kelembutan” yang mereka tunjukkan. Mereka bicara keras namun tidak main pukul. Bukannya mereka masih menghargai saya, namun ada batas-batas tertentu yang tetap mereka jaga kendati hati tak bisa lagi menerima umpatan-umpatan. Mereka berdamai dengan cara mereka sendiri.

 

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa berdiskusi. Menyelesaikan perbedaan pendapat dan pandangan tanpa kekerasan. Dan biarlah mereka memahami makna diskusi sendiri-sendiri.

 

Saya pikir tujuan diskusi seperti ini mencapai dua tujuan sekaligus. Pertama, pemberian materi tidak monoton karena peserta didiklah yang mengeksplorasi materi-materi. Mereka pun dapat menunjukkan inovasi dan kreasi tanpa banyak intervensi pendidik. Kedua, diskusi mengajarkan mereka suatu upaya terbaik dalam mengatasi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, masyarakat dan sejumlah elit politik tiap hari mempertontonkan penyelesaian masalah yang bermasalah dan salah: kekerasan.

 

Dengan metode diskusi, suasana pembelajaran mengalami iklim akademis yang sebenarnya. Guru menjalani fungsinya sebagai fasilitator. Sementara peserta didik mengerahkan segala potensi dan kemampuannya untuk menjadi yang terbaik. Suasana kompetisi yang sehat terbangun. Tak ada kekerasan. Tak ada yang merasa kalah dan menang.

 

 

Senayan, Jakarta Pusat. 7 Juli 2009