Sudah dibaca 548 kali

Tadi sore seorang teman menceritakan keluhannya tentang keluarga dan pekerjaan yang digelutinya. Ia ibu muda, pegawai negeri sipil. Anaknya baru satu, berusia 3 tahun. Anak keduanya berusia 6 bulan di dalam rahimnya.

Ia merasa kerepotan mengurus anak sulungnya lantaran pembantunya tak lagi datang usai pulang kampung Lebaran kemarin. Mencari pengganti sulitnya bukan main. Pengasuhan anak diberikan kepada suaminya yang punya waktu lebih banyak di rumah.

Maklum, karena masih bapak muda, suaminya kurang telaten mengurus anaknya. Pakaian anak baru diganti setelah ia pulang dari kantor, sore atau malam. Sekalian memberinya makan sebab kadang siang belum diberi makan. Kasihan sekali.

Kondisi demikian mendorongnya mengambil keputusan: mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari posisinya di kantor dan menjadi staf biasa saja. Posisi sekarang membuatnya tak nyaman dalam hal waktu pulang: kadang larut malam.

Inilah dilema seorang ibu muda. Juga kebanyakan perempuan lain yang memilih bekerja membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Sebelum menikah mereka bekerja di instansi negeri atau pun swasta. Setelah menikah dan punya anak, kesibukannya ganda: mengurus anak dan pekerjaan.

Bukannya suami tidak diserahi tanggung jawab mengurus anak. Pada umumnya, secara kultur, suami bertanggung jawab mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Sementara tugas mengurus anak diserahkan pada istri; mengajaknya bermain, mengurus makan, minum, buang hajat, dan berbagai kegiatan yang rasanya sulit dikerjakan suami.

Tak masalah jika suami bekerja di luar rumah dan istri bekerja mengurus rumah tangga. Namun jika keduanya bekerja, siapa yang mengurus anak dari pagi sampai sore? Pembantu rumah tangga, itu solusi ampuh yang kini dipakai kebanyakan pasangan suami-istri. Bagi yang kurang mampu, solusi yang “agak kurang ajar” adalah menyerahkan pengasuhan anak pada orangtua.

Sebenarnya tidak masalah jika pekerjaannya dapat diatur waktunya. Fleksibel. Misalnya, guru sekolah atau bimbingan belajar dan berdagang keliling/mangkal. Atau pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, seperti menulis (artikel, skenario, novel, cerpen), membuka warung, atau industri rumah tangga.

Dalam hidup berumah tangga, sebaiknya suami dan istri melakukan diskusi. Kerja-kerja rumah tangga dibagi secara adil. Jangan sampai salah satu diberatkan. Sehingga tugas mengurus anak, membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, mencuci piring dan pakaian, dilakukan dengan baik dan hati lapang. Paradigma bahwa pekerjaan rumah tangga semuanya menjadi tanggung jawab istri harus dihilangkan. Bahkan suami pun punya kewajiban mengurus anak, seperti memandikan, membuatkan susu, membersihkan kotoran, mengganti popok, dan mengajaknya bermain.

Pembicaraan tentang pembagian peran dalam rumah tangga sebelum memutuskan menikah juga diperlukan. Jangan sampai persoalan itu baru dibicarakan setelah menikah sehingga dikhawatirkan keduanya tidak menemui jalan temu. Rumah tangga jadi berantakan.

Calon istri tidak punya kewajiban mencari nafkah. Namun ia pun tidak boleh dilarang ikut mencari nafkah asal pekerjaan utamanya mengurus rumah tangga tidak terlantar. Jika mereka memang memilih berperan ganda, suami pun harus sadar bahwa dia pun juga harus membantu istri mengurus pekerjaan rumah tangga. Jadi keduanya melakukan peran ganda.

Jika suami merasa mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, ia pun tidak boleh memaksakan istrinya untuk hanya berkecimpung di rumah mengurus rumah tangga. Bila pekerjaan sang istri membuatnya mampu mengembangkan potensi diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya saat sekolah/kuliah, dan membuat perubahan di masyarakat, maka suami harus turut mendukungnya.

Suamipun tidak boleh memaksa sang istri bekerja jika istri tak menginginkannya. Mengurus rumah tangga juga sebuah pekerjaan kendati tak ada yang menggaji. Justru pekerjaan ini sangat mulia dan penting karena kestabilan rumah tangga dapat tetap terjaga; pengurusan anak, rumah, sosialisasi dengan lingkungan masyarakat.

Yang perlu diperhatikan pasangan yang bekerja adalah tujuan utama bekerja. Bahwa mereka mencari uang demi kebaikan anak dan keberlangsungan keluarga. Sayangnya banyak dari mereka melupakan ini. Mereka bekerja namun anak terlantar. Akibat sama-sama frustasi dengan pekerjaan, keduanya saling emosi dan tak ada salah satunya yang mengambil peran sebagai pendamai. Akhirnya rumah tangga berantakan. Tiap hari terjadi pertengkaran. Anak kembali menjadi korban. Apalagi jika ada perceraian.

Mengurus anak

Salah satu pekerjaan terberat dalam rumah tangga adalah mengurus anak, terlebih anaknya masih kecil. Pasangan muda pastilah banyak mengalami kesulitan. Maklum, kurang berpengalaman. Semua serba baru.

Pada beberapa acara silaturahmi sebelum dan sesudah Lebaran dengan teman-teman, saya melihat acara silaturahmi diselingi kesibukan ibu-bapak muda mengurus anak; mengajak anak bermain, mendiamkan anak jika menangis, membersihkan kotorannya. Saya berpikir, repot sekali jadi orangtua. Suami pastilah jadi pihak yang agak menjauh jika anak mereka kelihatan rewel atau hendak buang hajat. Pura-pura sibuk atau tidak tahu. Sang istri dibiarkan repot sendiri. Kira-kira, apa yang ada dalam benak istri?

Lalu, setelah anak bertambah usia, masih balita atau batita, kesigapan orangtua juga tak berkurang. Kesabaran harus lebih tebal. Kadang anak susah diatur, banyak kemauan, atau malah mengganggu pekerjaan. Tidak sabar, anak dimarahi, dicubit, atau ditinggal pergi. Repotnya jadi orangtua. Apalagi ibu muda.

Ketika saya mendengarkan cerita ibu muda tadi sore, berulang kali saya memuji kehebatan ibu muda yang rela berperan ganda. Juga perempuan pada umumnya yang mengabdikan diri bagi tumbuh-kembang sang anak dan kehebatan sang suami. Mereka ber-ada, dibutuhkan. Menjadi, memberi, berkorban. Martir.

Duren Sawit, Jakarta Timur. Kamis, 8 Oktober 2009.