Sudah dibaca 505 kali

Di abad teknologi informasi ini, dakwah menggunakan media informasi adalah sebuah keniscayaan. Media informasi seperti media cetak (koran, majalah, buletin), media elektronik (televisi, radio), dan media internet (situs berita online) menjadi sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keutamaan Islam ke tengah masyarakat. Begitu banyaknya sarana yang ada dan mudah sekali diakses, rasanya tiap muslim tak punya alasan untuk tak bisa berdakwah lantaran keterbatasan sarana—termasuk lewat situs jejaring sosial macam Facebook dan Twitter.

Di kampus, di mana kaum intelektual dilahirkan, keberadaan media kampus sebagai alat dakwah sangat penting. Selain untuk mensosialisasikan ajaran/ide-ide keislaman dan kondisi masyarakat muslim di berbagai penjuru bumi, atau sarana berdialektika mengenai persoalan muamalah yang bisa didiskusikan, media berbasis Islam di kampus dapat pula diberdayakan sebagai penyaring berbagai pemberitaan yang menyudutkan Islam.

Perlu dicatat, media Islam tidak sekadar memuat artikel dan berita tentang dunia Islam. Atau media yang “membabi buta” membela kebenaran Islam. Lebih jauh, pengelola media Islam menerapkan prinsip-prinsip kerja sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an dan hadits serta terori-teori yang dikembangkan oleh praktisi pers. Misalnya, dalam mendapatkan berita, jurnalis menerapkan konsep keberimbangan nara sumber (cover both side), tidak menipu, jujur, gigih, dan bertanggung jawab.

Dinamika kerja anggota redaksi juga menghargai waktu. Misalnya menepati tenggat waktu (deadline) penulisan, menemui nara sumber sesuai waktu yang dijadwalkan, dan tidak ngaret saat mengadakan rapat redaksi. Allah SWT saja telah bersumpah demi waktu, kenapa hamba-Nya tidak bersumpah demi waktu pula?

Manajemen Redaksi  

Alur kerja pers kampus dan pers profesional (umum) hampir sama. Perbedaannya pada kebutuhan dan kemampuan masing-masing media dalam menerbitkan sebuah produk. Secara umum, alur kerja redaksi (pers kampus) dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.

Pertama, Rapat Proyeksi. Di sini seluruh anggota berkumpul untuk menentukan tema yang hendak diangkat. Masing-masing anggota redaksi mengutarakan tema disertai sudut pandangnya (angle), didiskusikan, lalu diputuskan mana tema terkuat dan menarik untuk dimasukkan dalam rubrik yang telah tersedia. Rapat juga memutuskan siapa penanggung jawab rubrik, anggota, dan penulis beritanya.

Kedua, Rapat Redaksi. Rapat ini dapat diadakan beberapa kali di antara proses penerbitan. Tujuannya untuk mengevaluasi dan mengetahui sejauh mana kinerja masing-masing anggota redaksi selama proses penerbitan.

Ketiga, Reportase, yaitu proses pencarian berita. Berita bisa didapatkan dari nara sumber (orang), perpustakaan, atau internet.

Keempat, Penulisan. Bahan yang didapat lalu ditulis. Tulisan dapat berbentuk hardnews, softnews, atau feature.

Kelima, Editing. Tulisan dikoreksi dari segi tata bahasa dan isi.

Keenam, Desain. Tata letak naskah tulisan dan foto didesain sehingga tampak apik menggunakan software tertentu; page maker atau adobe indesign.

Ketujuh, Pencetakan. Desain dibawa ke percetakan untuk dicetak sekian eksemplar.

Kedelapan, Rapat Evaluasi. Produk terbitan (majalah, tabloid, buletin) dievaluasi, baik dari segi isi maupun tampilan. Dari evaluasi ini muncul masukan-masukan berkenaan dengan produk penerbitan atau pun kinerja redaksi.

Redaksi bekerja sesuai dengan peran orang-orang di dalamnya. Mereka dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Pemimpin Umum. Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan penerbitan. Tak hanya keredaksian yang menjadi tanggung jawabnya, juga bidang/divisi lain yang dibentuknya seperti Divisi Kaderisasi, Penelitian dan Pengembangan, dan Hubungan Masyarakat guna menunjang kinerja penerbitan.
  2. Pemimpin Redaksi. Bertanggung jawab terhadap penerbitan produk.
  3. Sekretaris Redaksi. Bertanggung jawab pada segala hal yang berkaitan dengan administrasi penerbitan.
  4. Bendahara Redaksi. Bertanggung jawab pada keluar-masuk dana penerbitan.
  5. Editor/Redaktur. Bertanggung jawab mengoreksi naskah dan foto.
  6. Fotografer. Bertanggung jawab menyediakan foto yang melengkapi naskah tulisan.
  7. Desainer/lay outer. Bertanggung jawab mendesain tata letak naskah tulisan dan foto.

Untuk menunjang kegiatan penerbitan, dibentuk divisi lain dalam lingkup penerbitan, yaitu bagian perusahaan yang bertanggung jawab pada upaya pencarian iklan dan bagian sirkulasi/promosi yang mendistribusikan produk.

Reportase

Setelah tema dan nara sumber ditentukan, reporter mencari sumber-sumber berita yang bisa didapat dari orang untuk diwawancarai, dokumen dan buku di perpustakaan, atau tulisan di internet.

Saat terjun ke lapangan, reporter membawa sejumlah peralatan pendukung, misalnya pena, buku catatan kecil, dan perekam. Sebelum berangkat, biasanya reporter telah membuat daftar acuan pertanyaan (TOR-Term of Reference). TOR menjadi panduan bagi reporter dalam melontarkan pertanyaan kepada nara sumber saat wawancara.

Menulis Berita

Setidaknya ada tiga jenis tulisan berita, yaitu hardnews, softnews, dan feature. Hardnews merupakan jenis tulisan berita yang mengutamakan aktualitas peristiwa. Koran yang terbit harian dan situs berita internet mengadopsi jenis tulisan ini.

Softnews menekankan pada unsur hiburan dan peristiwa ringan. Sementara feature menyorot aspek kemanusiaan (human interest) sebuah peristiwa, seperti kegelisahan, kegembiraan, dan kesedihan. Feature dipakai oleh media yang terbit mingguan dan bulanan.

Karena menekankan aktualitas peristiwa, struktur hardnews seperti piramida terbalik. Peristiwa ditulis dalam urutan paling penting, penting, dan kurang penting. Sedangkan struktur feature seperti gelombang air. Tulisan lebih mengarah pada penggugahan emosi pembaca lewat penceritaan aktivitas nara sumber dan kondisi emosional yang menyertainya.

Penutup

Kerja-kerja penerbitan membutuhkan kerjasama yang baik antaranggota redaksi. Koordinasi dalam menjalankan tugas masing-masing sangat dibutuhkan, terutama antara Pemimpin Redaksi (Pemred) dengan anggota lainnya. Sebab, sering, dalam penerbitan kampus, Pemred menjadi lokomotif utama yang mendorong anggota redaksi melakukan tugas-tugasnya.

Jika dikaitkan dengan dakwah, penerbitan media menjadi wadah penting bagi para da’i dalam mempraktikkan ajaran Islam. Menerbitkan media adalah sebuah jihad di mana kebenaran diperjuangkan, kebobrokan diungkap, kebohongan disingkap.

Reporter memikul tanggung jawab penuh dalam mengumpulkan fakta, berani menanggung risiko yang tak diduga-duga. Ia harus bisa memilah mana fakta yang benar dan samar. Butuh komitmen dan sikap istiqamah yang kuat agar niat bekerja semata mengharap  ridha Allah SWT terwujud.

Maka beruntunglah orang-orang yang bergerak di bidang jurnalistik. Mereka dapat menjadi penyambung lidah masyarakat yang terzalimi dan tertindas, menyuarakan nilai-nilai kebenaran di tengah lalu-lintas informasi yang membingungkan dan menyesatkan. Penerbitan kampus sebagai media dakwah, tak ayal, menjadi sebuah “fardhu kifayah” bagi para aktivis dakwah.

 

* Disampaikan dalam pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Akademi Pimpinan Perusahaan, Jakarta, Ahad, 25 Oktober 2009.