Sudah dibaca 532 kali

Saya bertemu Sutarno saat menikmati udara pagi yang dingin di sekitar hotel kawasan Megamendung, Jumat, 31 Juli 2009. Ia lelaki berkulit coklat matang, tinggi sedang, berpakaian kaus kuning dan celana training. Usianya 54 tahun namun fisiknya masih kelihatan muda. Ia habis main tenis meja dengan temannya—lelaki berawak kekar dengan bulu lebat di dada.

Dalam perbincangan inspiratif di lahan parkir hotel yang sepi itu, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari pengalaman hidupnya. Sutarno bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pusat Pendidikan dan Latihan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di kawasan Cililitan, Jakarta Timur. Sejak 1981, lulusan KPA (saya lupa akronim dari apa, tapi katanya setara SLTA) ini meniti karir sebagai PNS. Diawali sebagai sopir.

Di sela-sela waktu kerjanya ia berjualan pakaian. Teman-teman sekerja sebagai konsumennya. Penghasilannya lumayan. Bisa Rp 25.000 per hari—tergolong besar di masa 1980-an. Dengan penghasilan ‘sampingan’ itu ia bisa membangun rumah.

Awal 2000 merupakan masa yang sempat membuatnya gelisah. Waktu itu Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melakukan rasionalisasi birokrasi dan berujung pada pembubaran Departemen Penerangan—departemen ini dianggap mengancam kebebasan berpikir dan berpendapat di muka umum, musuh utama media massa. Ia bersama teman-temannya ‘luntang-lantung’ mencari kepastian, sementara beberapa temannya hengkang ke departemen lain hingga ke luar daerah.

Ia sempat malu pada orang-orang yang bertanya padanya saat duduk di teras rumah, kok belum berangkat kerja. Ia bilang masuk siang. Tapi ia bingung mencari alasan lain jika ditanya lagi dengan pertanyaan sama di lain hari.

Suatu hari ia menghadiri acara di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Di sana secara tak sengaja ia bertemu dengn bekas tukang becak yang pernah akrab dengannya. Orang itu berjualan kripik. Dari hasil jualan kripik, kata Sutarno, lelaki itu bisa membangun rumah dan beli mobil.

Sutarno terkejut. Namun yang terpenting ia termotivasi untuk mengikuti jejaknya. Ia memutuskan untuk berjualan kripik di rumahnya. Dan ia datang ke rumah lelaki itu untuk belajar bagaimana membuat kripik.

Awal membuat kripik Sutarno kelimpungan. Kripik Sukabumi yang diirisnya tak mau menyebar saat menyentuh minyak goreng. Bingung, ia telepon ‘guru kripiknya’. Katanya, ia mungkin terlalu tipis mengiris singkong.

Kondisi serupa kembali terulang kendati ia telah mengiris singkong dengan agak tebal. Namun Sutarno tak patah arang. Ia terus mencoba.

Setelah yakin dengan hasil gorengannya, Sutarno membuat gerobak dan mendagangkan kripiknya di sebuah pangkalan kaki lima. Kali pertama mendorong gerobak, perasaan malu meruyak. Ia menggunakan topi dan sering menunduk agar tak banyak tetangga mengenalinya. Dengan tangan gemetar ia mendorong gerobak. Karena ingin cepat tiba di pangkalan sementara ia mendorong gerobak sambil menunduk, ia tak sadar anak lelakinya yang naik sepeda di depan gerobak tertabrak.

Penjualan di hari pertama tergolong sukses. Uang sebesar Rp 41.000 berhasil menebalkan dompetnya. Ia sangat senang dengan istrinya. Bayangan dapat rezeki besar dari berjualan kripik singkong terus membayang di kepalanya.

Seiring kondisi birokrasi yang kian membaik, Sutarno kembali masuk kerja. Ia tetap berjualan kripik dengan istrinya. Dini hari pukul 03.00, bersama istrinya, ia merajang singkong kemudian digoreng. Setelah semua kripik digoreng, ia membawa kripik yang sudah dibungkus plastik ke pangkalan dengan gerobak. Pukul 09.00 ia kembali ke rumah. Dagangannya selalu laris-manis. Melihat kemajuan usahanya, ia membuat dua gerobak. Ia pegang satu gerobak. Satunya lagi dipegang istrinya yang berjualan di lain tempat.

Berjualan kripik hanya bertahan tiga tahun. Ia kembali menekuni pekerjaan utamanya; memberi pelatihan bagi pegawai PNS. Di hotel tersebut ia sedang melakukan pelatihan bagi peserta dari berbagai provinsi selama empat bulan.

Hal inspiratif lain dari Sutarno adalah tentang pemanfaatan harta. Ia membiayai pendidikan 12 anak yatim di sekitar rumahnya. Ia juga sesekali mengundang kiyai untuk memberi ceramah di mushala dekat rumahnya.

Sutarno yakin dengan membantu anak yatim hidupnya makin tenang. Dan ia memang merasakannya. Ia juga menyisihkan 2,5% dari pendapatannya per bulan untuk didonasikan bagi anak yatim dan kegiatan sosial lainnya.

Dari kegiatannya ini Sutarno mendapatkan pembuktian dari ceramah-ceramah yang sering didengarnya: orang yang gemar bersedekah tidak ada yang melarat, sebaliknya akan banyak rezeki yang datang dari berbagai arah. Sutarno kadang dikejutkan dengan rezeki yang datang dari mana saja, dari tempat yang tak terduga. Mendadak rezeki. Misalnya belum lama ini ia bertemu seseorang yang belum dikenalnya. Ia lalu diberi Rp 1 juta. Belakangan ia tahu itu hadiah dari dampak tak langsung keuntungan yang diberikan Sutarno pada orang itu saat Sutarno menggelar latihan.

Dengan bersedekah dan berbuat baik pada anak yatim, Sutarno merasa keluarganya tak menemui masalah berarti. Ia tak pernah bertengkar dengan istrinya. Dua anak lelakinya penurut, pintar, dan kutu buku. Keduanya lebih senang membaca buku ketimbang bergabung dengan teman-teman di depan rumahnya yang gaduh bernyanyi.

Dari perbincangan panjang itu, belakangan saya menduga-duga garis perjalanan hidupnya. Sutarno seorang lulusan sekolah sederajat SLTA (SMA), jadi PNS bekerja sebagai sopir. Selama 28 tahun ia bekerja dan berada di tempat yang sama.

Kemudian, atas desakan kondisi negara yang berimbas pada keuangan keluarga, ia berjualan kripik setelah belajar dari mantan tukang becak yang sukses berjualan kripik. Kondisi yang kian membaik membuatnya mampu menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. Anak pertama baru masuk kerja di Departemen Pekerjaan Umum—tengah Desember tahun ini akan menikah, sementara anak bungsunya masih kuliah.

Pagi yang dingin dan udara yang segar, diisi dengan perbincangan inspiratif, bagi saya lebih nikmat ketimbang menyeruput teh hangat ditemani makanan ringan—plus istri cantik jika sudah berkeluarga. Hanya satu pertanyaan Sutarno yang membuat saya tertawa, “Sudah punya berapa anak, Mas?”

 

Bogor, 31 Juli 2009