Sudah dibaca 677 kali

Kembang-kembang duren berserakan di bawah pohon duren yang berderet di pinggir jalan depan villa di Desa Megamendung, Cipayung, Bogor. Aromanya meruap, mengisi tiap kubik volume udara dingin yang berhembus di sela-sela rerumputan dan pepohonan rindang. Mentari baru saja keluar sebentar. Menghangatkan sekujur badan. Selasa yang cerah di pertengahan Oktober 2009.

Ini tidaklah kebetulan. Sekitar dua bulan lalu saya datang ke tempat ini, menempati kamar yang sama, tempat tidur yang sama, dan dua teman yang sama pula, namun pohon duren belum berbunga. Dan kini, pohon-pohon duren berdahan rendah itu berbunga. Menyeka memori yang terlipat bertahun-tahun silam.

Dua atau tiga hari lalu ibu memasak kembang duren. Rasanya enak sekali. Teringat ia pada kerinduan saya akan kelezatan sayur kembang duren yang beberapa tahun lalu di masa kecil yang indah terkecap sempurna di lidah saya. Di pasar Perumnas Klender ia mendapatkan kembang duren. Enam ribu rupiah segenggaman tangan. Ia membelikan dan menyayurkan kembang duren untuk saya.

Dulu, di musim duren berbunga, saya bersama puluhan anak-anak dan ibu-ibu Kampung Cilungup mengelilingi pohon duren. Masing-masing memegang plastik kresek atau wadah untuk menampung kembang duren. Pohon duren tinggi menjulang. Tak ada yang berani memanjatnya.

Kami harus terus mendongak, mengawasi kembang duren jatuh ke tanah. Jika jatuh, kami berebut mendapatkannya. Banyak yang berbetah-betah menunggu dari pagi hingga sore. Demi mencicipi sayur kembang duren yang lezat nikmat.

Kini pohon duren sulit ditemui di Kampung Cilungup. Jadi tak ada lagi bocah-bocah dan ibu-ibu yang mengitari pohon duren berebut kejatuhan kembang duren.

Selain kembang duren, sayur lezat lain adalah kembang turi. Pohon ini dulu banyak tumbuh di pinggir selokan di sekitar Kompleks IKIP. Tiap berangkat dan pulang sekolah, saya selalu melewati barisan pohon turi.

Sama seperti kembang duren, kembang turi enak disayur oseng. Namun di pasar, ia tak selangka kembang duren.

Makanan favorit saya sebenarnya sayur genjer. Tumbuhan yang hidup di sawah. Seperti tanaman ilalang. Kalau Ibu menyayur genjer, pastilah saya akan tambah nasi satu kali. Dimakan dengan nasi panas dan sambal pedas, rasanya enak sekali.

Kelezatan ketiga sayur ini telah lama menetap di salah satu bagian lidah saya. Rasanya tak tergantikan oleh kelezatan rendang, sate, opor ayam, apalagi makanan cepat saji yang dijajakan di mal dan perempatan jalan.

Sejujurnya ada lagi makanan, namun yang ini dari golongan hewan, yang saya rindukan kembali menjamah sisi-sisi lidah saya: keong sawah yang dioseng atau dikecapi. Rasanya mantap! Saat sawah masih membentang di dekat sekolah, saya dan Bapak senang mencari keong sawah. Ibu akan dengan senang hati memasaknya untuk kami.

Sebelum keong sawah, kami sempat mengecap dua jenis keong lain yang dikenal sebagai hama lantaran perkembangbiakannya mengganas. Pertama, keong racun. Keong ini banyak hidup di kebun-kebun kampung kami. Uniknya, keong ini banyak diburu warga karena ada pengepul yang bersedia menggantikan berkilo keong racun dengan sejumlah rupiah. Kabarnya keong ini menjadi salah satu menu masakan restoran yang digemari orang-orang kaya.

Ibu pernah memasakkan kami keong racun. Agar lendir di sekujur tubuh keong hilang—yang disebut-sebut sebagai racun—terlebih dahulu keong direndam di air garam.

Kedua, keong emas. Ketika keong emas menyerbu padi, warga beralih memburu keong emas. Ada saja pengepul yang mau membayar berkilo-kilo keong emas. Ibu juga memasakkan keong emas buat kami.

Kendati lauk-pauk di atas meja makan selalu berubah, hanya satu yang tak pernah berubah: sang koki. Dialah Ibu. Apapun bahan mentah yang dimasaknya, selalu pas di lidah saya. Seenak-enaknya makanan restoran, lidah saya selalu merasa lebih enak racikan masakan Ibu.

Dalam dunia persilatan, Ibu seperti Hatake Kakashi sang guru Naruto. Ninja peniru. Jika ada makanan restoran mampir di meja makan, entah itu pemberian tetangga atau beli untuk menggugurkan rasa penasaran, Ibu berusaha mencari resepnya atau mencoba-coba meracik bumbunya.

Salah satunya sayur jamur shitake. Suatu hari Bapak membawa makanan restoran itu ke meja makan. Beberapa kali. Ibu penasaran. Ia mencoba meraciknya. Hasilnya, rasanya sama dengan racikan restoran.

Jamur ini unik. Warnanya hitam. Disayur dengan bumbu kental seperti lendir dicampur rajangan paprika, bawang bombay, dan cabe hijau. Adik saya awalnya enggan memakannya lantaran jijik mirip lintah. Namun kemudian ia keranjingan seperti saya.

Beruntung sekali punya ibu yang pandai memasak. Otaknya cerdas, gemar mencoba-coba dan berinovasi dengan bahan mentah dan bumbu-bumbu. Tangannya lincah memotong dan mencapur bumbu ke dalam adonan wajan. Sayang, saya tak mewarisi kepandaiannya.

 

Megamendung, Bogor, Jawa Barat. 20 Oktober 2009.